2013, Harga BBM Bersubsidi Belum Akan Naik - Kebijakan Populis Jelang Pemilu

NERACA

Jakarta - Senior Economist Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan, melihat kondisi politik menjelang Pemilu 2014, sepertinya pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi pada 2013.

Menurut Fauzi, jika pemerintah memutuskan untuk menggunakan kewenangannya, inflasi diperkirakan mencapai 7%. Kemungkinan besar, kata dia, justru pemerintah baru akan menaikkan harga BBM bersubsidi itu pada 2015. "Ekspektasi inflasi itu akan naik jika masyarakat merasa pemerintah akan menaikkan harga BBM," ujarnya di Jakarta, Rabu (5/12).

Bila memang tahun depan naik, sudah pasti kenaikan harga BBM bersubsidi akan berpengaruh cukup besar pada kenaikan hingga akhir tahun 2013.

Dia memprediksikan, setelah memperhitungkan kenaikan tarif listrik dan kenaikan upah buruh (UMP/upah minimum provinsi), angka inflasi akan mencapai 5-5,5%. Sedangkan inflasi akhir tahun ini prediksinya masih di kisaran 4,5%. "Kalau harga BBM naik tahun depan, inflasi akhir tahun 2013 bisa sampai 7%. Prediksi inflasi 5% sampai 5,5% dengan asumsi BBM tidak naik, hanya TDL dan upah buruh saja yang naik tahun depan," katanya.

Dia berpendapat, sekarang ini pemerintah memiliki fleksibilitas untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Namun secara politis, sikap pemerintah belum bisa dipastikan apalagi tidak ada krisis fiskal. "Kalau pemerintah tidak menaikkan harga BBM 2013, kemungkinan besar akan dinaikkan di 2015 setelah pemilu," tandasnya.

Senada, pengamat ekonomi Aviliani mengatakan bahwa tahun depan harga BBM subsidi belum tentu dinaikkan karena faktor politik masih menjadi kendala utama. "BBM rasanya tidak akan naik harganya. Itu kebijakan populis. Mana ada partai politik yang menang menaikkan harga BBM setelah Pemilu," ujarnya.

Menurut dia, kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah adalah melakukan pembatasan BBM bersubsidi, bukan menaikan harganya. "Kalaupun ada kenaikan harga, itu baru bisa dilakukan pada 2015," kata Aviliani.

Pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi dengan sistem bertahap atau gradual dengan besaran minimal Rp500 per liter. Namun begitu pemerintah tetap akan mempertimbangkan kondisi perekonomian. "Kalau harga BBM dinaikan dampak terhadap inflasi mencapai 10%. Tapi kalau hanya tarif dasar listrik hanya 4,3%-4,5%," jelas Aviliani.

Harga Naik

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini, pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubisi menjadi Rp6.000-6.500 per liter pada 2013. Kenaikan itu untuk menutupi tambahan BBM bersubsidi yang setiap tahunnya selalu membengkak.

Pada tahun ini saja, tambahan subsidi sudah dilakukan untuk kedua kalinya. Kuota BBM bersubsidi akan habis sebelum akhir tahun ini meski sudah ditambah dari 40 juta kiloliter menjadi 44 juta kiloliter.

Ada tiga penyebab lonjakan konsumsi BBM bersubsidi ini yang menyebabkan jebolnya kuota, yaitu tingginya penjualan mobil melebihi perkiraan, lebarnya disparitas dengan BBM non subisidi yang pada Oktober saja mencapai Rp 5.400 per liter dan tidak berhasilnya program pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.

Untuk tingkat penjualan mobil saja, dari perkiraan awal sebesar 940.000 unit, hingga Oktober 2012 telah mencapai 923.132 unit dan pada akhir Desember diperkirakan sebanyak 1.050.000 unit.

BERITA TERKAIT

Hyundai Kona Akan Resmi Diluncurkan di IIMS 2019

PT Hyundai Mobil Indonesia akan meluncurkan mobil berjenis compact sport utility vehicle, Hyundai Kona, pada gelaran Indonesia International Motor Show…

POTONGAN HARGA BAGI PEMILIH PEMILU

POTONGAN HARGA BAGI PEMILIH PEMILU Warga menunjukkan jari yang telah dicelupkan tinta Pemilu saat membeli salah satu makanan siap saji…

Bersikap Move On dan Tetap Rukun Pasca Pemilu

  Oleh: Hariqo Wibawa Satria, Pengamat Media Sosial Masyarakat terutama pendukung dan tim kampanye diharapkan dapat kembali bangkit membangun kebersamaan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…