Mentan Upayakan Subsidi Transportasi Distribusi Sapi

NERACA

Jakarta - Menteri Pertanian Suswono mengatakan, diperlukan subsidi transportasi untuk mengatasi kendala pengiriman sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memenuhi kebutuhan daging di wilayah Jakarta dan Jawa.

"Saat ini Kementerian Pertanian sedang memikirkan subsidi transportasi untuk mengangkut sapi-sapi dari NTT dan NTB. Jika ada subsidi ini artinya masalah transportasi dapat diringankan," kata Suswono usai membuka Pembinaan Tekad dan Komitmen Anti Korupsi oleh Inspektorar Jenderal Kementerian Pertanian di IPB International Covention Center, Bogor, seperti dilansir Antara, Selasa (4/12).

Menteri mengatakan, ketersediaan sapi lokal di Indonesia sangat cukup, khususnya di wilayah NTT dan NTB. Namun, kendalanya untuk memenuhi kebutuhan sapi di wilayah Jawa terhambat transportasi.

Menurut dia, Kementan intens membahas masalah subsisi transportasi untuk pengiriman sapi dari NTT dan NTB ke wilayah lain. Diperkirakan pada 2013 mendatang, anggaran subsisi transportasi untuk menyuplai sapi dari NTT dan NTB ke wilayah Jawa dan Sumatera sudah disepakati oleh Ditektorat Peternakan untuk dialokasikan.

"Berapa besarannya, kita belum tahu, tapi ini sedang intens kita bahas, sehingga pada 2013 nanti sudah ada realisasi," katanya.

Menteri mengatakan, di saat yang sama pihaknya sedang memikirkan upaya lain untuk menyuplai daging dari wilayah timur Indonesia ini dengan cara membangun Rumah Potong Hewan (RPH) moderen di kawasan penyuplai tersebut.

Menurut menteri, keberadaan RPH moderen di wilayah NTB dan NTT tersebut secara tidak langsung akan mengurangi biaya pengirimin yang selama ini menjadi kendala karena mahalnya transportasi.

"Jika dibangun RPH di NTT dan NTB, sehingga sapi dikirim dalam bentuk daging dan kemungkinan ini bisa diangkut dengan Garuda. Melalui dana CSR Garuda, distribusi daging sapi yang sudah dibekukan ini, akan lebih lebih menghemat subsidi transportasi," kata Menteri.

Selain itu, lanjut Menteri, potensi pengiriman daging dalam bentuk beku tersebut juga dapat mendorong peternak di NTB dan NTT bisa bersaing dengan Australia sebagai mengimpor sapi dan daging sapi.

Selain melalui lintas udara, lanjut menteri, pihaknya juga sedang mempertimbangkan pengiriman sapi melalui jalur kereta api. Pengiriman sapi melalui kereta, katanya, sedang disiapkan, tapi ini masih harus dikaji ulang, karena mengumpulkan ternak di sekitar stasiun tidak mudah.

Menteri menambahkan, persoalan daging sapi bukanlah hal yang sangat urgen, karena kebutuhan daging tidak hanya melalui sapi, tapi dapat diganti dengan ayam, kelinci dan kambing. "Kecuali beras, bila beras tidak ada stok, akan berpengaruh pada gejolak sosial. Sapi masih tidak terlalu susah, ada penggantinya," kata Menteri.

Impor Daging

Suswono juga mengatakan, pemerintah menetapkan kuota impor daging sapi pada 2013 mencapai 80 ribu ton, berupa daging beku dan bakalan.

"Kita sudah putuskan dalam rapat Menko Perekonomian, bahwa 2013 kita akan alokasikan 80 ribu ton setara daging," kata Suswono.

Kebutuhan daging sapi pada 2013 diperkirakan sebesar 500.000 ton, naik 16.000 ton dari kebutuhan tahun ini yang mencapai 484.000 ton. (doko)

BERITA TERKAIT

Menhub: Takkan Subsidi Tiket Pesawat

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan tidak akan mensubsidi tiket pesawat niaga berjadwal untuk menekan harga tiket pesawat yang selama…

Mentan Banggakan RI Sudah Mampu Ekspor Bawang

NERACA Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan dahulu Indonesia merupakan negara pengimpor bawang merah, namun saat ini sudah…

Apresiasi Langkah Bijak KPU Atasi Keterlambatan Distribusi

    Oleh: Yolanda Putriyanti, Mahasiswa Universitas Tomakama Mamuju   Surat suara pemilu presiden dan calon anggota legislatif 2019 untuk…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…