BEI Catatkan Nilai Emisi Obligasi Capai Rp 57,78 Triliun

NERACA

Jakarta –Jelang tutup tahun, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan total emisi obligasi sebanyak 53 emisi dari 43 emiten senilai Rp57,78 triliun dan US$20 juta. Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Disebutkan bahwa total emisi obligasi, sukuk dan Efek Beragun Aset (EBA) yang tercatat di BEI berjumlah 197 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp177,86 triliun dan US$100 juta, yang diterbitkan oleh 90 emiten.

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 92 seri dengan nilai nominal Rp834,55 triliun, sedangkan empat EBA tercatat senilai Rp1,06 triliun. Jumlah ini bertambah seiring dicatatkannya obligasi PT Bank Saudara II-2012 dan obligasi Subordinasi SDRA I-2012 dengan tingkat bunga tetap yang diterbitkan PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk di Bursa Efek Indonesia.

Obligasi Bank Saudara II-2012 dengan tingkat bunga tetap ini memiliki nilai total nominal sebesar Rp100 miliar dan berjangka waktu lima tahun. Sementara obligasi Subordinasi SDRA I-2012 memiliki tingkat bunga tetap bernilai nominal Rp200 miliar dan berjangka waktu tujuh tahun.

Obligasi ini memperoleh rating idBBB+ (Triple B+) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan untuk Obligasi subordinasi adalah idBBB (Triple B). Bertindak sebagai Wali Amanat dalam emisi ini adalah PT Bank Permata Tbk (BNLI).

Sebelumnya, Sekjen Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Pardomuan Sihombing pernah bilang, emisi penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dan penawaran saham terbatas (rights issue) pada 2013 diperkirakan bakal lebih tinggi dari tahun ini. Hal ini seiring proyeksi membaiknya situasi perekonomian global di tahun depan.

Meski demikian otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) dipandang harus lebih aktif dalam melakukan sosialisasi kepada perusahaan yang ingin mendapatkan pendanaan di pasar modal.

Menurutnya, jika perusahaan ingin memperoleh pendanaan dari pinjaman perbankan maka biaya perolehan dananya sekitar 8%-9% dari total pendanaan yang didapatkan. Nilai tersebut bisa jauh diperkecil jika harus didapat dari pasar modal yang sekitar 6%, “Jumlah yang lebih kecil bisa didapatkan di pasar modal misalkan untuk penerbitan obligasi korporasi, kupon bunga yang harus ditanggung perusahaan sekitar 6%,” ujarnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Imbas Lesunya Bisnis Properti - Laba Mentropolitan Kentjana Menyusut 39,61%

NERACA Jakarta –Imbas lesunya bisnis properti di 2019 menekan perolehan laba bersih PT Metropolitan Kentjana Tbk. (MKPI). Tengok saja, emiten…

Pasar Beras Stabil - Buyung Poetra Raih Penjualan Rp 1,65 Triliun

NERACA Jakarta – Di tahun 2019 kemarin, PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) berhasil membukukan kinerja keuangan yang cukup mengesankan.…

Intiland Cetak Laba Bersih Rp 251,43 Miliar

NERACA Jakarta – Lesunya bisnis properti di tahun 2019 kemarin, rupanya tidak berdampak terhadap pencapaian kinerja keuangan PT Intiland Development…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Mayora Indah Raup Cuan Rp 1,98 Triliun

NERACA Jakarta – Masih positifnya pertumbuhan industri makanan dan minuman di tahun 2019 kemarin, dirasakan PT Mayora Indah Tbk (MYOR).…

Geliat Bisnis Pelabuhan - Times Line Cetak Laba Bersih Rp 92,99 Miliar

NERACA Jakarta – Emiten pelayaran, PT Perusahaan Pelayaran Tempuran Emas Tbk (TMAS) atau Temas Line mencatatkan kinerja yang positif sepanjang…

Danai Pengembangan Bisnis - ROTI Suntik Modal Anak Usaha di Filipina

NERACA Jakarta – Dukung pengembangan bisnis anak usahanya, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (ROTI) menambahkan modal dasar ditempatkan dan disetor…