Kadin Pacu UKM Daerah Genjot Ekspor

NERACA

Jakarta - Ekspor produk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) daerah sejatinya memiliki potensi menjadi ujung tombak dalam pendapatan daerah. Di tingkat daerah, potensi demikian beragam mulai dari perkembangan pariwisata, pertanian hingga industri. Hanya saja, potensi ekspor yang demikian besar belum didukung dengan adanya pembiayaan yang memadai.

“Masa depan Indonesia ada di daerah dengan potensi produk-produk ekspornya. Daerah harus bisa dipacu melakukan perdagangan tidak hanya untuk lokal saja tetapi perdagangan internasional. Agar produknya berdaya saing, pelaku UKM yang berorientasi ekspor perlu melakukan inovasi. Namun inovasi ini membutuhkan pembiayaan,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perbankan dan Finansial Rosan P. Roeslani, seperti dikutip dari siaran pers, Minggu (2/12).

Saat ini, kata Rosan, produk-produk lembaga keuangan termasuk bank komersial belum seluruhnya dapat dipergunakan secara optimal dan tidak sepenuhnya bisa diharapkan untuk menyelesaikan persoalan ini. “Kadin selain melaksanakan pembekalan secara berkala tentang prosedur ekspor, melakukan pelatihan dan promosi bagi pelaku usaha daerah dalam bentuk klinik bisnis, juga memberikan bantuan permodalan maupun penjaminan proyek melalui lembaga pembiayaan yang Kadin bentuk seperti PT Palapa Fund,” ungkap Rosan.

Palapa Fund, kata Rosan, merupakan salah satu dari program prioritas Kadin untuk menggairahkan pembangunan ekonomi daerah dengan memanfaatkan potensi unggulan yang dimiliki setiap daerah. “Melalui klinik bisnis dan Palapa Fund ini kita harapkan bisa menjadi sarana untuk mengatasi permasalahan yang pada umumnya dihadapi oleh UMKM, terutama yang terkait dengan masalah akses permodalan, disamping masalah akses pasar untuk ekspor, teknologi dan manajerial,” jelasnya.

Menurut Rosan, peran pelaku usaha daerah untuk bisa melakukan ekspor memiliki arti penting tersendiri, karena dengan melakukan perdagangan luar negeri bisa meningkatkan pendapatan, membuka kesempatan kerja, mengembangkan industri baru, juga meningkatkan penghasilan devisa.

Empat Prioritas

Kasubdit Asia Pasific dan Afrika Dit Kerjasama Pengembangan Ekspor, Dirjen Kementerian Perdagangan Adhar Hazairi mengatakan, arah strategi perdagangan internasional ke depan akan diprioritaskan kepada empat hal yakni intensifikasi promosi dan diplomasi perdagangan internasional melalui pendekatan komoditi dan negara tujuan ekspor, ekpor produk yang bernilai tambah, peningkatan ekspor ke pasar non tradisional (Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika dan Eropa Timur), serta perlindungan dan penguatan pasar domestik.

“Dengan melakukan klinik bisnis, para eksportir daerah harus terus memperkaya dan membuka wawasan mengenai kondisi pasar atau produk di negara tujuan ekspor,” kata Adhar di sela-sela kunjungan ke Senta UKM Mawar Sari di Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat pekan lalu.

Adhar menilai, aktivasi diseminasi kerjasama peningkatan ekspor harus terus dilakukan dengan memanfaatkan jejaring kemitraan dengan lembaga pemerintah dan non-pemerintah. “Hal ini penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas pangsa pasar produk ekspor Indonesia.”

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Modal Ventura & Alternatif Pembiayaan Kadin Basrizal Basri mengatakan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sebagai pembuat kebijakan harus membuat regulasi dan perijinan ekspor yang bisa mendukung pelaku usaha baik yang skalanya besar maupun UKM agar bisa melakukan ekspor. “Kami harapkan Pemerintah Daerah jangan hanya mendukung perusahaan besar pengekspor saja, tetapi perlu banyak mengarah untuk membantu pelaku usaha UKM yang berorientasi ekspor,” kata Basrizal.

Pemerintah, kata Basrizal, harus terus merangsang agar ekspor tidak hanya bergantung pada produk alam seperti sektor migas dan pertambangan yang akan habs dantidak akan diperbaharui, tetapi meningkatkan ekspor yang berasal dari produk olahan yang mempunyai nilai tambah, seperti produk-produk dari sektor agribisnis, industri kreatif dan lain-lain.

Menurut Asisten II Sekdaprov Kalimantan Timur M.Sa'bani, perkembangan ekspor dan berbagai peluang usaha di luar migas di Kaltim sudah dikembangkan dan mulai menuai hasil. Hal itu terlihat dari ekspor non migas yang mencapai US$ 6,196 miliar pada periode Januari-April. Sementara ekspor migas Kaltim mencapai US$ 5,482 miliar.

Sejumlah komoditi non migas yang diekspor Kaltim itu antara lain lemak dan minyak hewani/nabati, kayu dan barang-barang dari kayu bahan kimia anorganik, berbagai jenis pupuk, bahan kimia organik, ikan dan krustasea serta vertebrata air lainnya, tembakau dan pengganti tembakau dipabrikasi.

Sumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menyebutkan, pada perkembangan tiga bulan berikutnya, yaitu periode hingga Juli 2012, Jepang menjadi negara tujuan utama ekspor Kaltim. Nilai ekspor ke Jepang selama Januari hingga Juli mencapai US$ 5,93 miliar. Sementara itu negara tujuan ekspor kedua Kaltim yakni Cina termasuk Taiwan dengan nilai mencapai US$ 5,22 milar, lalu disusul Republik Korea US$ 3,31 miliar. ”Ekspor ke tiga negara tersebut berkontribusi sebesar 71,42% dari total nilai ekspor Kaltim di tahun 2012 ini,” kata M. Sa’bani.

BERITA TERKAIT

Data BPS - Ekspor Industri Pengolahan Turun 6,92 Persen di Desember 2018

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekspor industri pengolahan pada Desember 2018 mengalami penurunan 6,92 persen jika dibandingkan…

PTBA Targetkan Penjualan Ekspor 12 Juta Ton

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2019, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan menggenjot pertumbuhan pendapatan dari penjualan ekspor batu bara.…

KOMODITAS UNGGULAN EKSPOR KEMENTAN 2019

Petugas menyortir rempah-rempah di Pusat Saintifikasi dan Pelayanan Jamu (PSPJ) di Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (17/1/2019). Kementerian Pertanian memfokuskan beberapa…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Bilateral - Indonesia-Amerika Berkomitmen Tingkatkan Nilai Perdagangan

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda menyatakan Republik Indonesia dan Amerika Serikat berkomitmen meningkatkan…

Ada Kemajuan Dalam Pembahasan Penerapan GSP

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa ada kemajuan dalam pembahasan mengenai penerapan pemberian fasilitas kemudahan perdagangan…

Data BPS - Ekspor Industri Pengolahan Turun 6,92 Persen di Desember 2018

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekspor industri pengolahan pada Desember 2018 mengalami penurunan 6,92 persen jika dibandingkan…