Permintaan Lahan Kerek Pertumbuhan Industri

NERACA

Jakarta – Pemerintah meyakini membaiknya kondisi perekonomian global yang melanda Amerika Serikat dan Eropa serta meningkatnya permintaan lahan di kawasan industri secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan industri secara keseluruhan.

"Pulihnya kondisi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa menjadi pemacu pertumbuhan industri di kuartal IV 2012 yang mencapai 7,5%. Untuk target pertumbuhan industri pada 2012 diproyeksikan menyentuh 6,7% karena permintaan lahan di kawasan industri khususnya Jawa Barat semakin tinggi," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Kamis (29/11).

Menurut dia, sektor indutri di Indonesia telah banyak memperoleh penwaran dari beberapa perusahaan sektor tambang asal China, Rusia dan Jepang. "Seperti contoh Mitsubishi Corporation yang akan merealisasikan investasinya dengan mendirikan tiga pabrik pemurnian mineral di Maluku Utara. Selain Maluku, mereka menyasar wilayah Kalimantan, Sulawesi serta Sumatera," paparnya.

Niai investasi yang akan ditanamkan, lanjut Hidayat, masih dipelajari oleh investor. "Saat ini, investor sedang melakukan studi kelayakan sambil menghitung besarnya investasi untuk pembangunan pabrik smelter di Indonesia," ujarnya.

Hidayat menegaskan, pemerintah akan mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak swasta di sektor pertambangan nasional untuk terlibat dalam proyek-proyek smelter berskala besar. "Diharapkan BUMN dan swasta nasional pada sektor pertambangan bisa menjadi bagian dari rencana proyek pembangunan pabrik pemurnian. Hal tersebut akan memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan," katanya.

Setiap tahun, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan, kebutuhan lahan industri di Indonesia mencapai 1.200 ha. Dalam lima tahun ke depan, 60% permintaan lahan masih terpusat di Pulau Jawa dan sisanya tersebar di luar Pulau Jawa. "Setelah 2017, kemungkinan 70% permintaan lahan industri akan beralih ke luar Jawa sebagai dampak dari hilirisasi industri dan pengembangan MP3EI mulai dipacu," kata Dirjen Pengembahgan Perwilayahan Industri (PPI) Kemenperin Dedi Mulyadi.

Selama lima tahun, Dedi memperkirakan, pembangunan kawasan industri membutuhkan investasi sekitar Rp 19 triiun. Dari kebutuhan dana sebesar itu, Rp 11 triliun di antaranya akan teralokasikan di Pulau Jawa. Investasi tersebut digunakan untuk pembelian lahan, pembangunan infrastruktur, fasilitas umum, dan fasilitas sosial (fasos). "Angka itu belum termasuk investasi untuk pembangunan pabrik. Dari total luas lahan kawasan industri, hanya 70% yang boleh dibangun, sedangkan sisanya merupakah lahan terbuka," jelas Dedi.

Di seluruh Indonesia, saat ini terdapat 232 kawasan industri dengan luas total sekitar 78.976 ha. Dari jumlah itu, 110 kawasan industri berlokasi di bagian barat Pulau Jawa, 19 di Jawa Tengah, 32 di Jawa Timur, dan sisanya tersebar di luar Jawa.

Optimis Tercapai

Sementara itu, Ketua Dewan Penasehat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa merasa optimistis target pertumbuhan industri akan mencapai 6,7% hingga akhir tahun dengan kebijakan-kebijakan fiskal baru berupa keringanan pajak untuk meningkatkan investasi di dalam negeri. "Pertumbuhan industri bisa mencapai 7,1% jika pemerintah tetap fokus pada program hilirisasi industri. Selain itu, Pertumbuhan industri nasional mampu menarik minat banyak investor,” kata Erwin.

Masalah suku bank pinjaman dari perbankan yang besar dan infrastruktur masih menjadi kendala pertumbuhan industri. "Suku bunga pinjaman di dalam negeri masih tinggi dibandingkan negara Asean lainnya. Perbaikan pelabuhan serta infrastruktur lainnya masih menghambat pertumbuhan industri di dalam negeri," paparnya.

Sedangkan masalah undang-undang pengadaan lahan lanjut Erwin, masih menjadi hambatan untuk berinvestasi. Pasokan gas juga menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah. "Undang-undang pengadaan lahan sampai dengan saat ini masih dibahas bersama DPR. Sedangkan pasokan gas masih menjadi kendala pemerintah, jika ini tidak diselesaikan, maka banyak investor yang akan beralih ke negara lain," tuturnya.

BERITA TERKAIT

ADB Pertahankan Pertumbuhan Asia Tenggara

    NERACA   Jakarta - Bank Pembangunan Asia (ADB) mempertahankan perkiraan pertumbuhannya untuk Asia Tenggara sebesar 5,1 persen pada…

Industri di Papua Berpeluang Go Public

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jayapura berupaya mendorong pelaku industri di Papua untuk mengakses permodalan dari pasar modal untuk…

UPN VETERAN JAKARTA SIAP HADAPI INDUSTRI 4.0

Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta DR Erna Hernawati AK, CPMA, CA (ke empat dari kiri) berpose salam Bela…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

Pemerintah Serahkan Bantuan ke 47 Usaha Kreatif

  NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah menyerahkan secara simbolis Bantuan Pemerintah untuk 47 pelaku di sektor kreatif.…