ADB : Kebijakan Fiscal Cliff AS Tidak Akan Terjadi

ADB : Kebijakan Fiscal Cliff AS Tidak Akan Terjadi

NERACA

Jakarta - Kepala Kantor Asian Development Bank (ADB) untuk Kawasan Integrasi Ekonomi Regional Iwan Azis memproyeksikan, kebijakan fiscal cliff (jurang fiskal) Amerika Serikat (AS) tidak akan terjadi tapi yang mungkin terjadi adalah fiscal slow (perlambatan fiskal).

“Dengan kata lain, saya yakin AS tidak akan resesi. Dari sudut itu, global market sentiment tidak akan rusak. Dengan kondisi Eropa seperti sekarang yang tidak menentu, saya yakin itu bisa diatasi sehingga tidak akan terjadi AS resesi,” ujarnya saat konferensi pers Asia Bond Monitor, Kamis (22/11).

Hal sama diungkapkan pengamat dari EC-Think Telisa Aulia Falianty. Menurut dia, kebijakan yang secara simultan memangkas anggaran belanja pemerintah, yang diiringi kenaikan pajak tersebut, tidak memberikan dampak yang positif secara jangka pendek.

"AS sedang berkutat dengan masalah fiskal. Idenya dengan memajaki yang paling kaya, dampaknya ke ekonomi tidak terlalu besar. Fiscal cliff AS dalam jangka pendek akan menyebabkan stagnasi ekonomi AS atau lambatnya pemulihan pertumbuhan ekonomi AS, sehingga ekspor kita ke AS cenderung stagnan juga," katanya.

Akibatnya, lanjut dia, pola yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini akan cenderung sama. Kebijakan yang diambil hanya dari sektor fiskal dan moneter sehingga tidak memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi secara signifikan. "Namun fiscal cliff positif dalam jangka panjang, dan akan menyehatkan ekonomi AS. Jika AS pulih dalam jangka menengah panjang, itu bagus untuk ekonomi dunia," ujarnya.

Namun, Telisa menambahkan, kalau pun sekarang ini terlihat pihak parlemen AS masih belum menyepakati arah kebijakan yang akan diambil oleh presidennya tersebut, namun sepertinya kebijakan tersebut tetap akan diwujudkan. Menurut dia, dalam kondisi yang sekarang ini, tidak banyak pilihan untuk menyelamatkan ekonomi AS.

"Meskipun parlemen ingin menolak, namun tidak banyak pilihan, kalau AS mau selamatkan ekonominya. Mereka mengalami masalah fiskal yang berat. Jadi apapun kebijakan yang disetujui parlemen, kecenderungannya pada pengetatan fiskal," jelasnya.

Sementara, pemerintah terus mewaspadai dampak fiscal cliff AS, namun hingga kini belum menyiapkan insentif khusus untuk mengantisipasi hal tersebut.

Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan, pemerintah tengah mengamati dampak fiscal cliff AS terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dia mengatakan pada kuartal IV 2012 ada ancaman fiscal cliff dari AS dan ancaman kebangkrutan Yunani. Hingga saat ini pemerintah sedang menghitung dan memperhatikan dengan cermat dampak fiscal cliff terhadap pertumbuhan perekonomian AS dan akan berdampak sejauh mana terhadap pertumbuhan Indonesia.

BERITA TERKAIT

Pengembangan Daya Saing Industri Butuh Kebijakan Strategis

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, industri kaca merupakan sektor padat modal dan padat energi yang butuh biaya…

Kebijakan Harus Fokus Pada Capaian Ketahanan Pangan

  NERACA Jakarta – Berbagai program terkait kebijakan pangan sudah disampaikan oleh dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden,…

Ombudsman RI Apresiasi Kebijakan "Eco Friendly” Gubernur Bali

Ombudsman RI Apresiasi Kebijakan "Eco Friendly” Gubernur Bali NERACA Denpasar - Anggota Ombudsman RI Alamsyah Saragih mengapresiasi kebijakan "Eco Friendly"…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Benny Tatung Minta Kades Baru Mampu Tingkatkan Perekonomian Desa

  NERACA   Oku Timur - Sebanyak 39 Kepala Desa dari 48 Desa yang telah melakukan pemilihan beberapa waktu lalu…

Astrindo Refinancing Pinjaman Credit Suisse

    NERACA   Jakarta - Pada penghujung tahun 2018, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (Astrindo) berhasil mendapatkan dana US…

Pembangunan Perkebunan Kebijakan Jangka Panjang

      NERACA   Jakarta - Pembangunan perkebunan tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek, namun perlu kebijakan jangka panjang…