Menkeu: Belum Terlihat Gejala Overheating

Menkeu: Belum Terlihat Gejala Overheating

NERACA

Jakarta – Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, perekonomian Indonesia belum menunjukkan gejala overheating seiring fundamental ekonomi domestik dinilai masih kuat. "Secara umum kinerja ekonomi Indonesia sampai saat ini masih baik. Indikator perekonomian juga masih terjaga, dan belum ada gejala terjadinya overheating," ujarnya dalam Seminar Ancaman Overheating Economi, Rabu (21/11).

Agus mengemukakan, gejala overheating atau pemanasan ekonomi itu dapat terjadi karena komposisi impor yang produktif.

"Kondisi ekspor-impor ini masih wajar, meski ekspor belum tinggi. Selama empat kuartal terakhir, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit, sementara pada kuartal ketiga 2012 sudah mengalami surplus. Ekspor dalam negeri naik 13% menjadi US$5,9 miliar, meski impor juga masih naik 11% menjadi US$15,3 miliar.," ungkapnya.

Tingkat Inflasi

Agus menambahkan, tingkat inflasi Indonesia yang masih sesuai target di level 4,5% sementara neraca perdagangan mencatatkan surplus padahal sebelumnya tercatat defisit. Agus memaparkan, gejala overheating juga dapat terjadi jika pertumbuhan kredit meninggi dan aset properti naik secara tidak wajar. "Tapi dilihat dari semua indikator, performa ekonomi Indonesia masih relatif lebih baik dibanding negara lain. Sehingga, hingga saat ini, pemerintah menilai perekonomian Indonesia masih wajar dan belum menunjukkan gejala overheating," jelasnya.

Agus menambahkan, ciri dari overheating juga dapat terlihat dari penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dibarengi dengan inflasi tinggi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menambahkan, overheating merupakan kondisi di mana sisi permintaan dalam perekonomian tumbuh sangat cepat dan lebih tinggi dari kapasitas produksi nasional.

Dari sisi domestik, lanjut dia, kondisi itu tercermin pada tekanan inflasi inti yang tinggi, sementara dari sisi eksternal terlihat pada defisit transaksi berjalan yang besar. "Sejumlah indikator lain biasanya juga menunjukkan pemanasan ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi yang melebihi tingkat output potensial, kredit yang tumbuh tinggi, harga aset yang terlalu tinggi, dan defisit fiskal yang besar," ujar Perry.

Stabilitas Nilai Tukar

Dia mengatakan, fokus kebijakan BI pada pengelolaan keseimbangan eksternal adalah dengan tetap memberikan dukungan pada perkembangan ekonomi domestik. "Respons kebijakan BI yakni mempertahankan BI Rate di 5,75%, melanjutkan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan kondisi fundamental, meningkatkan pendalaman pasar valas, dan kebijakan makroprudensial melalui pengelolaan pertumbuhan kredit," kata dia.

Tanda Overheating

Berbeda dengan Agus, ekonom senior Asian Development Bank Edimon Ginting mengatakan, laju inflasi inti yang tinggi merupakan salah satu tanda awal ekonomi overheating.Dia menjelaskan laju inflasi inti merupakan indikator pertumbuhan permintaan domestik yang kuat dan belum bisa diimbangi oleh pertumbuhan pasokan. “Memang inflasi inti perlu diawasi. Ada peningkatan permintaan yang cukup kuat, ini salah satu tanda overheating,” katanya.

Meski begitu, Edimon memperkirakan BI belum akan mengeluarkan kebijakan untuk menekan tingkat inflasi inti karena laju inflasi Januari-Oktober masih ada di dalam target pemerintah dan Bank Indonesia. Namun, dia menegaskan, pemerintah harus melanjutkan upaya memperbaiki sisi persediaan pada ekonomi Indonesia agar bisa mengimbangi laju pertumbuhan permintaan. “Di sisi lain, pertumbuhan kredit harus diperhatikan karena sudah mulai ada dampaknya pada infasi inti,” pungkasnya.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal ini dibayangi oleh melemahnya perekonomian global dan berpotensi Indonesia masuk pada posisi pemanasan ekonomi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi year on year (yoy) komponen harga inti atau core inflation periode Januari-Oktober 2012 sebesar 4,59%. Angka itu hanya terpaut sedikit dari laju inflasi yoy umum pada periode yang sama sebesar 4,61%.

BERITA TERKAIT

Arus Mudik, Tol Layang Jakarta-Cikampek Belum Bisa Digunakan

  NERACA   Jakarta – Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Desi Arryani mengatakan bahwa pihaknya masih terus menuntaskan…

Reforma Agraria Belum Mampu Selesaikan Konflik Lapangan

Reforma Agraria Belum Mampu Selesaikan Konflik Lapangan NERACA Jakarta - Ombudsman Republik Indonesia menilai selama empat tahun berjalan, reforma agraria…

PENYEBAB INDONESIA TERJEBAK PERTUMBUHAN EKONOMI 5% - Sektor Industri Manufaktur Belum Optimal

Jakarta-Lembaga penelitian CORE menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun masih terjebak di kisaran 5%. Ini terjadi karena sebagian…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…