Kunci Sukses Jual Beli Saham - Jangan Serakah

Para pialang di Bursa Efek menasihati para pemain saham, sebutan bagi yang berinvestasi jual beli saham, agar tidak serakah mencari keuntungan besar dalam waktu singkat (high return), karena di balik itu bisa terjadi kebangkrutan karena harga saham anjlok (high risk). Yang dimaksudkan jangan serakah, jika sudah sudah untung, segeralah saham dijual, jangan berlama-lama dengan harapan akan memperoleh untung lebih besar lagi. Sebab, harga saham sewaktu-waktu dapat merosot dengan cepat. Mau untung malah buntung.

Saham adalah surat berharga yang diperjualbelikan di pasar modal. Untuk menghindari risiko kerugian besar atas nilai saham yang kita punya, disarankan agar sesering mungkin memantau pergerakan harga saham. Dengan demikian kita bisa mengambil keputusan dalam waktu yang tepat.

Bagaimana prospek berinvestasi di dunia pasar modal jika dibandingkan usaha di sektor riil? Pada dasarnya bisnis dan investasi selalu diliputi risiko rugi dan potensi untung. JIka punya uang lebih, amannya disimpan di bank dalam bentuk deposito. Tapi, potensi keuntungannya jauh lebih kecil jika dibelanjakan saham.

Sebab, bunga deposito tak besar. Investasi di properti juga menggiurkan. Misalnya punya kos-kosan berkamar-kamar, tiap bulan akan menerima passive income sebesar biaya kos tiap bulan atau kontark per tahun dikurangi biaya-biaya untuk pemeliharaan. Ada lagi investasi emas. Sama seperti tanah, harga tanah dan emas cenderung naik dari tahun ke tahun.

Keuntungan

Dalam jual beli saham, ada dua jenis keuntungan yang bisa diperoleh pemilik saham. Pertama, Capital Gain, yaitu keuntungan yang berasal dari selisih harga saham saat ini dengan harga saat kita membelinya. Harga beli selembar saham misalnya Rp 1.000. Saat akan kita jual sudah berubah menjadi Rp 1.500/lembar. Dengan demikian capita gain-nya sebesar Rp 500.

Ada yang tak terduga dengan capital gain. PT Sumber Alfaria Trijaya saat listing (pertama kali didaftarkan di pasar modal), harga sahamnya hanya Rp 395/lembar. Sekarang sudah melesat menjadi Rp 5.100/lembar.

Kedua, Dividen, yaitu keuntungan perusahaan dalam setahun yang ditetapkan dan dibagikan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Biasanya, besarnya dividen tidak sebesar keuntungan yang dibukukan karena ada sebagian yang disisihkan untuk menambah modal usaha. Tidak jarang pula, RUPS sama sekali tidak membagikan dividen karena perusahaan belum membukukan keuntungan.

Risiko Berinvestasi

Pertama, Munculnya risiko kerugian dalam jual beli saham disebut Capital Loss, kebalikan dari Capital Gain. Capital loss terjadi jika harga saham yang kita jual lebih kecil dari harga saham saat kita beli. Harag saat beli sebesar Rp 2.250/lembar, sedang saat dijual turun menjadi Rp 2.050. Jadi, kerugian atau capital loss-nya sebesar Rp 200/lembar. Walaupun Merugi, penjualan saham tersebut dilakukan cepat-cepat agar tak rugi besar jika nanti harga saham turun lagi sangat drastis. Sebagian pialang menyarankan biarkan saja saham itu mengendap karena selalu terbuka kemungkinan, nilai saham kembali terdongkrak dan bahkan melesat jauh di atas harga beli. Contohnya saham Bumi Resources.

Kedua, risiko likuidasi. Ada kalanya perusahaan terbuka (tbk) dinyatakan bangrut oleh pengadilan atau perusahaan dibubarkan. Klaim dari pemilik saham menjadi prioritas terakhir setelah seluruh asetnya dibelanjakan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik utang maupun pemberian pesangon kepada para karyawannya. Sisanya baru dibagikan ke pemilik saham secara proporsional. Jka tak terdapat sisa, pemilik saham tidak bisa menuntut hak-haknya.

Tata Cara Membeli Saham

Pertama-tama kita harus terdaftar atau tergabung dalam perusahaan efek atau sekuritas dengan cara membuka rekening efek dengan setoran dalam jumlah tertentu. Rata-rata minimum setoran sebesar Rp 10 juta. Dengan demikian, nama kita akan tercatat sebagai nasabah di perusahaan efek itu. Nama dan identitas kita, antara lain nama, alamat, nomor rekening bank, tercatat secara resmi dalam pembukuan perusahaan efek di PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI). Dengan perusahaan efek, kita akan membuat perjanjian menyangkut hak dan kewajiban para pihak.

Jika kita ingin membeli saham, biasanya dihitung per lot @500 lembar. Jika harga saham PT ABCD Rp 250/lembar, maka tiap lot saham harganya Rp 125.000. Selain harga saham, kita juga akan terkena biaya atau disebut komisi pialang. Besarnya, nilai pembelian saham ditambah komisi pialang, PPN 10%, dan pajak penghasilan (PPh) 2,5%. Sedangkan komisi buat pialang besarnya sekitar 0,1-0,5%. (saksono)

BERITA TERKAIT

MKDA Private Placement 215 Juta Saham

NERACA Jakarta – Emiten pertambangan emas PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) bakal perkuat modal dengan aksi korporasi penambahan modal…

Saham Trikomsel Masuk Pengawasan BEI

Lantaran terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham di luar kebiasaan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati pergerakan saham PT Trikomsel…

Kualitas SDM Jadi Kunci Memasuki Era Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, peningkatan kualitas SDM juga erat kaitannya dengan kesiapan memasuki era industri 4.0,…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Pemerintah Permudah Bank Ekspansi di Asean

Pemerintah berupaya mempermudah kesempatan perbankan nasional untuk melakukan ekspansi di kawasan ASEAN seperti Singapura dan Malaysia dengan mendorong ratifikasi protokol…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…