Investasi Asing Harus Tambah Konten Lokal

NERACA

Jakarta – Pemerintah meminta para calon investor asal China untuk menanamkan modalnya secara berkualitas, ramah lingkungan dan sesuai standar internasional. Selain itu, pemerintah juga mendorong agar calon investor menggunakan konten dalam negeri, bukan malah mengandalkan bahan baku impor.

"Pemerintah mengharapkan investasi yang ditanam dapat memberikan nilai tambah pada konten lokal yang digunakan," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana di Jakarta, kemarin.

Yang tak kalah penting, kata dia, para calon investor asal China, khususnya, turut memperhatikan kesejahteraan masyarakat lokal dengan memberikan kesempatan kerja. "Jadi, intinya investasi yang ditanam adalah investasi jangka panjang, memberikan nilai tambah pada konten lokal yang digunakan, menggunakan atau menghasilkan produk yang ramah lingkungan, dan masyarakat sekitar. Investasi yang berkualitas, sehingga saling menguntungkan," jelasnya.

Lebih jauh, kata Armida, peluang investasi di Indonesia sangat besar, dengan iklim investasi yang kondusif seperti stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi yang mencapai enam hingga tujuh persen per tahun, sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang cukup besar, serta tingkat daya beli yang semakin meningkat.

Di pihak lain, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) bersama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong agar para investor China bisa bersama-sama berinvestasi untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Misalnya dengan mengalihkan kerjasama perdagangan dan investasi dari yang berbasis komoditi ke pengembangan sumber daya manusia (SDM).

“Kreativitas manusia adalah modal utama, dan tidak memerlukan biaya yang sangat mahal untuk kerjasama investasi kedua negara, Indonesia dan Tiongkok,” Adi Harsono, Wakil Ketua KIKT di Jakarta.

Pasalnya Kadin melihat investor asal negeri tirai bambu mampu mengembangkan dan membangun ekonomi kreatif di Indonesia terutama industri perfilman dan computer games. Investasi tersebut relatif lebih murah dari sisi permodalan ketimbang sektor pertambangan, kehutanan dan lain sebagainya. Apalagi kegiatan pertambangan tidak ramah lingkungan.

Akibatnya, banyak perusahaan tambang yang menguras sumber alam tanah air, karena tidak memurnikan bahan mentah sebelum diekspor. "Sehingga kami akan mengalihkan investasi tersebut ke ekonomi kreatif,” kata Adi.

Misalnya, pembuatan film China di Indonesia bisa dengan memanfaatkan keindahan alam Indonesia, termasuk Bali, Lombok atau Candi Borobudur di Jawa Tengah. Kalau investasi bisa berjalan dengan baik, Pemerintah Indonesia bisa memberi kemudahan untuk pembangunan studio film China.

“Saya melihat banyak perusahaan China yang berhasil memproduksi computer games dan handphone. Tapi industri kuliner China juga bisa mendatangkan keuntungan, banyak restoran dengan menu Chinese food digemari turis asing di Jakarta. Sehingga semua investasi berbasis ekonomi kreatif tetap membuka lapangan pekerjaan buat orang Indonesia,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…

Untuk Kepentingan Rakyat atau Menghitung Investasi?

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, mahalnya mahar politik menjadi anggota legislatif…

BEI Perkuat Basis Investor Lokal di Bali - Menjaga Stabilitas Harga Saham

NERACA Denpasar - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menggenjot pertumbuhan investor di sejumlah daerah termasuk di Bali untuk mendorong kinerja…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Revolusi Industri 4.0 Buka Peluang Dongkrak Keterampilan SDM

NERACA Jakarta – Era revolusi industri 4.0 membuka kesempatan bagi sumber daya manusia (SDM) di sektor manufaktur untuk memiliki keahlian…

RI dan Korsel Berkolaborasi Untuk Sukseskan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian RI dan Dewan Riset Nasional untuk Ekonomi, Kemanusiaan, dan Ilmu Sosial atau National Research Council…

Penanaman Modal - Industri Korea Selatan Kuatkan Komitmen Investasi US$ 446 Juta

NERACA Jakarta – Sejumlah industri manufaktur Korea Selatan dari berbagai sektor, menyatakan minatnya untuk segera menanamkan modalnya di Indonesia. Komitmen…