Indeks BEI Akhir Pekan Balik Arah Ke Zona Hijau

NERACA

Jakarta – Transaksi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis sore, ditutup melemah 22,556 poin (0,52%) ke level 4.327,868. Sementara Indeks LQ45 turun 4,382 poin (0,58%) ke level 746,627. Pelemahan indeks BEI dipengaruhi sentimen negatif bursa Asia yang ikut berjatuhan. Ditambah lagi, kondisi pasar saham global yang lebih awal terkoreksi cukup dalam.

Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, indeks BEI melemah menyusul sentimen negatif dari Wallstreet. “Meski demikian, IHSG masih dapat ditutup diatas level psikologis 4.300 poin," katanya di Jakarta, Kamis (8/11).

Dia mengemukakan, Presiden AS baru kini harus menghadapi negosiasi dengan kongres untuk menghindar dari apa yang namanya 'fiscal cliff' senilai lebih dari US$ 600 miliar dalam bentuk penaikan pajak dan pemotongan belanja negara yang mengancam pertumbuhan ekonomi AS.

Dari Eropa, lanjut dia, komentar bank sentral Eropa (ECB) juga menyumbang sentimen negatif karena kekuatiran akan krisis utang yang ditakutkan membawa dampak negatif kepada pertumbuhan ekonomi Jerman, “Komisi Eropa menurunkan proyeksi pertumbuhan 17 negara euro 2013 dari menjadi 0,1%. Untuk Jerman sendiri diturunkan menjadi 0,8%,"paparnya.

Berikutnya, indeks BEI Jum’at akhir pekan diproyeksikan bergerak mendatar dengan kecenderungan menguat di kisaran 4.290-4.365 poin. Saham-saham yang layak dikoleksi pada akhir pekan adalah Charoen Pokphand (CPIN), Surya Semesta Internusa (SSIA), Garuda Indonesia (GIAA), Modern International (MDRN).

Pada perdagangan kemarin, tekanan jual terjadi sangat kuat akibat adanya sentimen dari pasar global. Tak semua indeks sektoral bisa melemah, satu sektor berhasil menguat di penghujung perdagangan, yaitu indeks sektor aneka industri.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 101.296 kali pada volume 4,201 miliar lembar saham senilai Rp 5,381 triliun. Sebanyak 72 saham naik, sisanya 169 saham turun, dan 96 saham stagnan.

Sementara bursa-bursa di Asia jatuh semakin dalam pada penutupan perdagangan Kamis, kemarin. Sentimen negatif dari pasar gobal terus menekan sehingga koreksinya rata-rata lebih dari satu persen. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multi Prima (LPIN) naik Rp 300 ke Rp 7.500, Pudjiadi (PNSE) naik Rp 230 ke Rp 1.180, Akasha Wira (ADES) naik Rp 190 ke Rp 1.780, dan Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 150 ke Rp 2.650.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 800 ke Rp 41.150, Mayora (MYOR) turun Rp 450 ke Rp 20.550, United Tractor (UNTR) turun Rp 300 ke Rp 20.600, dan Goodyear (GDYR) turun Rp 300 ke Rp 12.200.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI juga ditutup anjlok 37,198 poin (0,86%) ke level 4.313,226. Sementara Indeks LQ45 jatuh 7,418 poin (0,99%) ke level 743,591. Saham-saham unggulan menjadi target aksi jual. Seluruh sektor terkena koreksi, dipimpin oleh indeks sektor tambang dan perdagangan.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 51.575 kali pada volume 1,823 miliar lembar saham senilai Rp 2,367 triliun. Sebanyak 39 saham naik, sisanya 192 saham turun, dan 74 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Pudjiadi (PNSE) naik Rp 230 ke Rp 1.180, Multi Prima (LPIN) naik Rp 200 ke Rp 7.400, Indosat (ISAT) naik Rp 200 ke Rp 6.650, Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 150 ke Rp 2.650.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mayora (MYOR) turun Rp 750 ke Rp 20.250, Indocement (INTP) turun Rp 500 ke Rp 22.300, United Tractor (UNTR) turun Rp 400 ke Rp 20.500, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 400 ke Rp 41.550.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 37,42 poin atau 0,865 ke posisi 4.313,01. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 9,55 poin (1,27%) ke level 741,46. Kata Purwoko, IHSG BEI bergerak melemah, pergerakannya tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap pilpres di AS, euforianya hanya dalam waktu yang sementara.

Dia menambahkan, pasar finansial global juga masih menanti wacana pergantian pemimpin di China. Pasar kembali akan "wait and see" apakah pengganti PM Wen Jiabao akan memiliki arah kebijakan ekonomi yang berbeda."Hal itu dapat dimengerti karena saat ini China merupakan kekuatan ekonomi terbesar ke dua di dunia," paparnya.

Karena itu, dia memproyeksikan, IHSG BEI Kamis bergerak "mixed" dengan kecenderungan melemah di kisaran 4.320-4.370 poin. Sementara analis Sinarmas Sekuritas James Wahjudi pernah bilang, perdagangan Kamis secara teknikal indeks BEI akan bergerak "mixed" di kisaran 4.330-4.373 poin, “Dirilisnya data 'mortgage application' AS dan 'machine orders' Jepang akan memberikan sentimen terhadap pergerakan indeks BEI," ungkapnya.

Tercatat bursa regional diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 244,50 poin (1,11%) ke level 21.855,35, indeks Nikkei-225 turun 113,59 poin (1,27%) ke level 8.859,30, dan Straits Times melemah 27,75 poin (0,91%) ke level 3.015,52. (bani)

BERITA TERKAIT

Kebanjiran Proyek Infrastruktur - Cashflow Waskita Beton Akhir Tahun Positif

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal menghitung hari, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) diproyeksikan mencatatkan cashflow operasional…

Phapros Bakal Tercatat di Papan Utama BEI

Emiten farmasi, PT Phapros Tbk akan segera menjadi perusahaan tercatat di papan utama perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal itu…

Awal Pekan Ini, BEI Suspensi Saham Renuka

NERACA Jakarta - Setelah masuk pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi kenaikan harga saham di luar kewajaran, awal…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perumnas Terbitkan MTN Rp 300 Miliar

Danai pengembangan bisnisnya, Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) akan menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN)…

BEI Suspensi Saham Perdana Bangun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) setelah sebelumnya…

Indosat Lunasi Obligasi Rp 224,59 Miliar

Meskipun performance kinerja keuangan masih negatif, kondisi tersebut tidak membuat PT Indosat Tbk (ISAT) untuk nunggak bayar obligasi yang jatuh…