DPR vs BUMN "Sapi Perah"

Kamis, 25/10/2012

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Adagium “sapi perah” tidak hanya lazim dipakai dalam diskursus industri peternakan. Dalam perbincangan mengenai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), istilah itu pun jamak dipergunakan. Terutama kaitannya dengan dugaan kebiasaan para legislator di Senayan yang menjadikan perusahaan milik negara itu sebagai “sapi perah” baik untuk pribadi maupun partainya.

Sinyalemen tentang transaksi haram antara legislator dan para bos BUMN ini pula yang agaknya juga menjadi pemicu ketegangan antara sejumlah wakil rakyat dan kementerian yang dikomandani Dahlan Iskan. Menteri nyentrik ini memang tegas melarang para direksi BUMN untuk nyetor ke DPR, betapapun diminta oleh para wakil rakyat yang terhormat itu.

Baca juga: ​Menanti Reasuransi Raksasa BUMN - Oleh: Kapler A. Marpaung, Ketua Dewan Pendiri Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi)

Memang, tak mudah membuktikan transaksi haram politisi dan oknum BUMN. Tapi setidaknya, Menteri Dahlan telah mencium bau tak sedap dari kebiasaan buruk itu. Sehingga, dia memerintahkan semua direksi BUMN untuk berani menolak anggota DPR yang meminta-minta jatah ke BUMN.

Apalagi kemungkinan menjadikan BUMN sebagai “sapi perah” ini semakin menganga apabila dikaitkan dengan pencairan anggaran penanaman modal negara (PMN). Seperti diketahui, sejumlah BUMN rencananya bakal dapat suntikan modal (PMN) tahun ini, yakni PT PAL Rp 648 miliar, PT Merpati Nusantara Airlines Rp 561 miliar, PT Askrindo Persero Rp 800 miliar, dan PT Jamkrindo Rp 1,2 triliun.

Baca juga: Apa Kabar IPO BUMN?

Perintah Dahlan untuk memberangus kejahatan korupsi ini tentu saja membuat berang sejumlah anggota DPR. Karena itulah, Dahlan kabarnya semakin tak disukai mitra kerjanya di Senayan. Di saat dia mengharamkan BUMN jadi “sapi perah” pihak Senayan—di mana hal itu ditengarai telah menjadi budaya busuk yang menahun, maka di saat yang sama DPR semakin sengit dengan bos media itu.

Maka dari itu, tak heran jika akhir-akhir ini kinerja Dahlan dikecam oleh sejumlah wakil rakyat. Sebut saja, kritikan pedas yang datang dari Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima. Politisi PDIP ini menilai selama setahun kepemimpinan Dahlan di BUMN, banyak persoalan di tubuh perusahaan pelat merah yang belum dituntaskan, seperti persoalan IPO, PMN, privatisasi, rights issue, dan persoalan mendasar lainnya.

Baca juga: Daya Tarik IPO BUMN

Kritikan pedas itu barangkali memang benar secara substansi. Tapi tak sedikit yang menganggap, kritikan ini sebagai “serangan balik” kubu Senayan ke BUMN atas “kenakalan” sang menteri yang gemar mengenakan sepatu kets dan baju putih ini. Barangkali pula Dahlan juga harus instropeksi terkait tindakannya yang mendobrak kemapanan lebih dianggap sebagai pencitraan. Lebih-lebih dia tengah digadang-gadang sebagai calon presiden alternatif pada 2014 mendatang.

Intinya, langkah Dahlan Iskan membersihkan korupsi di tubuh BUMN mesti kita dukung penuh. Tapi di lain pihak, dia harus mengurangi tindakan-tindakan populis yang penuh citra seperti membersihkan kamar mandi bandara atau mandi di stasiun kereta. Karena, ada tugas lebih fundamental yang harus dia selesaikan, yakni memajukan BUMN yang kini memiliki aset Rp 3.000 triliun ini.

Baca juga: BUMN Pangan