Payah, Daya Saing

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Di tengah positifnya pertumbuhan ekonomi, Indonesia sejatinya mampu memberikan daya pikat yang tinggi terhadap minat para investor asing menanamkan modalnya di negeri ini. Apalagi belum lama ini Indonesia meraih predikat investment grade dari lembaga internasional Fitch Ratings dari BB+ menjadi BBB-. Namun ironisnya, prestasi yang bagus itu tidak diiringi dengan kinerja daya saing Indonesia dalam peringkat Doing Business 2013, yaitu kemudahan berbisnis di suatu negara, yang dirilis Bank Dunia kemarin (23/10).

Menurut kajian Bank Dunia, Indonesia menempati urutan paling buncit yaitu urutan 128 atau berada jauh sekali dibandingkan dengan Malaysia (12) dan Thailand di urutan ke-18. Sementara Singapura, negara jajahan Inggris itu berada di urutan nomor satu. Tragisnya lagi, Indonesia masih berada satu tingkat di bawah Ethiopia (127).

Kita melihat riset yang disajikan Bank Dunia itu terasa janggal, karena tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Pasalnya, positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, stabilnya kondisi sosial politik dan inflasi terjaga seharusnya bisa menjadi daya tarik investor asing berinvestasi di dalam negeri. Apalagi, Indonesia memiliki potensi pasar yang cukup besar dengan jumlah populasi penduduk mencapai 240 juta orang, sangat menggiurkan dan dianggap surganya bagi investor asing.

Tapi apa lacur fakta Doing Business 2013 telah membuat citra Indonesia semakin buruk di mata investor asing. Alhasil, segala bentuk prestasi yang diraih pemerintah selama ini hanyalah bagai pepesan kosong. Karena bagaimana pun juga, peringkat yang dibuat Bank Dunia akan menjadi acuan dunia internasional terkait alternatif investasi di suatu negara.

Kendati demikian, kajian yang dilansir Bank Dunia bisa dibantah dan di uji kembali tolok ukur dan variabel yang dipakai dalam metode penilaiannya. Alasannya, data yang disajikan dalam kajian tersebut tidak seluruhnya benar dan tidak menggambarkan kondisi Indonesia seutuhnya. Bahkan kecurigaanpun bisa saja muncul, jika Bank Dunia mempunyai motif lain dibalik upaya menjatuhkan citra Indonesia dimata internasional melalui rating yang dibuatnya.

Terlepas dari kelemahan dan kekurangan dari riset Doing Business tersebut, kondisi ini juga menjadi pelajaran dan introspeksi bagi pemerintah untuk memperbaiki kondisi iklim ivestasi dari berbagai sektor dan daya saingnya. Suka tidak suka, iklim ivestasi di dalam negeri masih ditemukan berbagai kendala mulai birokrasi, pungutan liar (pungli), perizinan hingga upah buruh. Hal ini sangat beralasan, karena belum lama ini banyak demo buruh menuntut kenaikan gaji untuk hidup layak.

Poin penting lainnya, adalah iklim investasi boleh ramah terhadap asing akan tetapi harus tetap mengedepankan kepentingan nasional diatas segalanya. Jangan karena trik asing, bangsa Indonesia harus menanggung terus derita kesengsaraan akibat praktik kapitalis seperti terlihat dalam kontrak karya Freeport, Newmont maupun Blok Cepu.

Related posts