Aturan Jam Perdagangan Bursa Segera Diterbitkan

Jumat, 19/10/2012

NERACA

Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) berupaya untuk segera meluluskan rencana percepatan jam perdagangan di industri pasar modal Indonesia. Hal itu diperlukan mengingat selama ini IHSG sering kali terkena imbas penurunan dari melemahnya bursa di negara Asia lainnya, seperti Singapura dan Hongkong.

Kepala Biro Transaksi Lembaga Efek Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Yunita Linda Sari mengatakan, rencana memajukan jam perdagangan 30 menit lebih awal diperkirakan akan dapat segera direalisasikan dalam waktu dekat. “Revisi aturan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) No. II-A terkait perdagangan saham akan disetujui paling cepat sepekan ke depan,”ujarnya di Jakarta, Kamis (18/10).

Salah satu poin dalam aturan tersebut adalah dimajukannya jam perdagangan. Pihak Bapepam-LK mengaku telah melakukan pembahasan dengan pelaku pasar dan saat ini aturan ini sedang dalam proses finalisasi. Meskipun demikian, kata dia, tentu masih akan ada proses adaptasi dulu kepada pelaku industri sebelum aturan tersebut efektif diberlakukan.

Yunita mengatakan, apabila aturan perdagangan tersebut telah disetujui Bapepam-LK, otoritas BEI dapat melakukan sosialisasi sebelum aturan tersebut diterbitkan. Jangka waktu proses adaptasinya, menurut Yunita akan lebih cepat daripada proses adaptasi saat pemberlakukan perhitungan baru Modal Kerja bersih Disesuaikan (MKBD) selama November 2011-Februari 2012.

Dalam aturan II-A BEI yang segera diberlakukan tersebut, lanjut dia, tidak terdapat poin penurunan satuan lot per saham dan perubahan frakasi harga perdagangan saham. Untuk rencana penurunan satuan lot per saham dan rencana perubahan fraksi harga, kata Yunita akan dibahas setelah aturan II-A selesai direvisi.

Pengurangan Lot Saham

Seperti diinformasikan sebelumnya, rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pengurangan jumlah saham dalam satuan lot dalam rangka meningkatkan likuiditas pasar modal. Dalam rencana pengurangan jumlah saham dalam satuan lot dimaksud yaitu mengurangi jumlah lot perdagangan saham emiten dari 500 lembar saham menjadi 100 lembar saham.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen pernah mengatakan, pengurangan jumlah saham dalam satuan lot itu untuk mempermudah investor membangun portofolio. Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 juta dan luas wilayah yang besar sehingga diharapkan dengan pengurangan jumlah saham itu dapat mendorong partispasi investor ritel lebih banyak.

Jika satuan lot dalam saham berkurang, lanjut Hoesen, diharapkan juga akan terjadi peningkatan transaksi dan likuiditas dibandingkan saat ini. Meskipundemikian, pihaknya mengakui untuk merealisasikan pengurangan jumlah saham dalam satuan lot itu tidak mudah direalisasikan dikarenakan infrastruktur terutama sistem pada information technology (IT) di BEI dan perusahaan efek harus disiapkan.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Samsul Hidayat pernah menyampaikan, rencana pengurangan jumlah saham sudah disampaikan kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Alasan, yaitu agar dapat memperbesar jumlah investor ritel di pasar modal Indonesia.

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyebutkan, jumlah akun investor yang tercatat di per Agustus sebanyak 337.881 atau menurun sebanyak 7,51 persen dari 365.321 per Januari 2012. Di BEI, Samsul mencontohkan, batasan minimal pembelian saham saat ini sebanyak 500 lembar atau satu lot, misalnya harga saham perusahaan senilai Rp100 maka dana minimal yang dibutuhkan untuk membeli satu lot sama dengan Rp50.000.

Oleh karena itu, Samsul menilai, dengan memperkecil jumlah saham dalam lot maka investasi di dalam pasar modal akan lebih murah dan dengan begitu nantinya akan membuat investor ritel menjadi mudah berinvestasi dan menambah jumlah investor ritel. (lia)