Intensifkan Budaya Penelitian Siswa

Kemendikbud Gunakan Dana BOS

Sabtu, 20/10/2012

Kegiatan Penelitian Siswa Diintensifkan. Untuk memdukung hal tersebut, pemerintah akan mengalokasikan dana BOS. Bagi sekolah yang sudah punya budaya penelitian, diimbau untuk memanfaatkan.

NERACA

Manusia memiliki sifat keingintahuan yang tinggi terhadap segala sesuatu. Alam yang terbentang luas dengan segala rahasia yang dimilikinya, menggoda setiap orang untuk mencari tahu guna mendapatkan semaksimal mungkin informasi yang ada di dalamnya.

Dari rasa keingintahuan itulah akan menimbulkan budaya meneliti bagi seseorang, khususnya pendidik. Peserta didik yang baik adalah mereka yang mau mengkaji lebih dalam dari apa yang diterimanya, sehingga melahirkan kemampuan dan wawasan berpikir ilmiah.

Budaya meneliti harus selalu dikembangkan dan diaplikasikan, dengan budaya tersebut, tingkat kefahaman akan berbagai persoalan yang dihadapi akan meningkat. Dengan penelitian itulah, akar permasalahan (grassroot) dapat diketahui dan dipahami. Dengan demikian budaya meneliti menjadi suatu rekomendasi yang sangat berharga bagi perkembangan dan kemajuan bagi dunia pendidikan itu sendiri.

Untuk menghidupkan kegiatan penelitian di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas dan sederajat, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan kompetisi penelitian ilmiah dalam berbagai bidang ilmu, yang diwadahi dalam suatu kegiatan yang disebut Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

Dengan program yang mendorong siswa ke dalam aktivitas penelitian, kompetensi intelektual, keterampilan, dan sikap tersebut hanya dapat dicapai. Diharapkan, melalui program ini siswa berbakat dan berprestasi dapat memacu potensinya menjadi generasi yang memiliki keunggulan dan keseimbangan dalam aspek kognitif, psikomotorik dan afektif.

Selain itu, olimpiade ini juga memotivasi siswa untuk berkreasi dalam berbagai bidang ilmu sesuai minat dan bakatnya, dan dapat menghasilkan penelitian yang orisinal, berkualitas dan kompetitif. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mengatakan, kreativitas para peserta OPSI sangat luar biasa. Kreativitas peserta dalam mencari isu dan fenomena di sekitar mereka untuk diteliti sangat besar. Bahkan banyak diantara penelitian mereka yang awalnya tidak diketahui atau tidak disadari oleh orang dewasa telah berkembang di sekitarnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemdikbud Hamid Muhammad mengatakan, peningkatan kegiatan OPSI dilakukan dengan dua cara yaitu dari sisi peningkatan peserta dan kualitas penelitiannya. Dia menyebutkan, tahun ini sebanyak 870 peserta yang menyampaikan proposal penelitian untuk tiga bidang yaitu sains dasar, sains terapan, dan IPS humaniora. “Mohon kepada para kepala sekolah dan guru untuk terus melakukan pembinaan yang lebih efektif lagi di sekolah masing-masing,” katanya.

Kemdikbud, lanjut Hamid, sedang merancang beasiswa bagi peserta didik yang senang meneliti dan penelitiannya signifikan. Mereka yang potensial ini, kata dia, dapat difasilitasi masuk di perguruan tinggi seperti teman-temannya yang juara Olimpiade Sains Nasional. “OPSI tidak hanya berhenti di tingkat nasional. Kami sedang jajagi apakah ada karya di antara adik-adik ini yang bisa kita masukkan ke olimpiade serupa di tingkat internasional,” katanya.

Nuri Kurniawan, siswa SMAN Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti Jambi, peraih medali emas bidang humaniora melakukan penelitian dengan judul ‘Peningkatan Eksistensi Aksara Incung di Daerah Kerinci dan Sungai Penuh’. Dia memaparkan bentuk, sejarah, dan perkembangan Aksara Incung. Dijelaskan, kondisi penggunaan Aksara Incung yang cenderung menurun dan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kembali Aksara Incung tersebut. “Dapat emas ini luar biasa sekali perasaannya,” ujarnya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) juga akan mengalokasikan porsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk mendukung kegiatan penelitian di sekolah. Hal ini merupakan upaya lain yang dilakukan pemerintah dalam mengintensifkan kegiatan penelitian siswa.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemdikbud Hamid Muhammad mengatakan, mulai tahun depan pemerintah akan meluncurkan program Pendidikan Menengah Universal sebagai program rintisan Wajib Belajar 12 tahun.

Dia mengatakan, pemerintah akan mengalokasikan bantuan operasional secara lebih signifikan setiap tahun, mulai Juli 2013 Juli sampai dengan Desember tahun depan. Pemerintah mengucurkan BOS untuk mendukung pendidikan menengah universal dengan jumlah Rp 1 juta per siswa.

Total anggaran untuk BOS masing-masing Rp 4,28 triliun untuk 4,25 juta siswa SMA dan 4,23 juta siswa SMK.“Mudah-mudahan nanti bisa dioptimalkan oleh sekolah-sekolah yang memang potensial untuk melakukan pembinaan penelitian ini,” katanya pada penutupan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) di Kemdikbud, Jakarta, Kamis 11 Oktober 2012 lalu.