Harga Beras Dijaga Agar Kemiskinan Tak Naik

Harga Beras Dijaga Agar Kemiskinan Tak Naik

Jakarta - Pemerintah sangat concern terhadap stabilitas harga beras. Karena mayoritas masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras. Oeh karena itu perlu antisipasi terkait kenaikan harga pangan agar tak terjadi peningkatan kemiskinan. "Buat Indonesia yang penting itu beras, 25% konsumsi masyarakat berpendapatan rendah (Indonesia) itu adalah beras, kita all out lah," kata Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu kepada wartawan di Jakarta,26/4.

Lebih jauh Mari mengakui berdasarkan data 2008, ada sekitar 100 juta orang di Asia yang bertambah miskin ketika harga pangan naik hingga 100%. Sementara kenaikan pangan di 2010 tak terlalu drastis, meskipun perlu diwaspadai. “Semua kebijakan dan instrumen telah kita kerahkan untuk menjaga stabilitas harga beras termasuk kecukupan dari stok beras," tambahnya.

Dikatakan Marie, Ia menambahkan, soal menekan lonjakan harga pangan dan menekan imbas pada kemiskinan harus dilakukan ditingkat kawasan maupun regional khususnya Asia. Masalah ini harus terus dipantau oleh pemerintah maupun negara lainnya agar saling bekerjasama. "Kita akan membentuk cadangan beras darurat (ASEAN) sedang dibahas oleh kementerian pertanian," katanya.

Ditempat terpisah, Bank Pembangunan Asia (ADB) melaporkan hasil kajiannya, dimana terjadi lonjakan harga pangan selama dua bulan pertama di 2011. Sehingga akan mengancam jutaan orang di Asia bisa jatuh ke jurang kemiskinan.

Menurut Kepala Ekonom ADB, Changyong Rhee, harga pangan diperkirakan terus naik seperti yang terjadi di 2008. Kenaikan harga pangan dan minyak mentah dunia, menjadi ancaman serius bagi kawasan tersebut yang sudah mencapai rebound tajam setelah melewati krisis finansial global. “Krisis pangan secara buruk akan menggelayuti pencapaian pengurangan kemiskinan di Asia,” katanya.

Hasil riset ADB menyebutkan kenaikan harga pangan domestik hingga 10% di negara berkembang Asia yang berpenduduk sekitar 3,3 miliar jiwa, dapat menyebabkan tambahan 64 juta orang jatuh ke kemiskinan ekstrem yang hidup dengan US$ 1,25 per hari. “Keluarga miskin di Asia, biasanya membelanjakan 60% pendapatannya untuk makan. Maka kenaikan harga pangan akan mengurangi kemampuannya untuk membayar biaya kesehatan dan pendidikan anak-anak," ujar Changyong Rhee lagi.

Laporan ADB itu menjelaskan harga pangan dan minyak dunia yang sudah berlangsung sejak awal tahun 2011 bertahan hingga akhir tahun, maka pertumbuhan ekonomi di kawasan ini akan berkurang hingga 1,5% poin.

Dalam jangka pendek, pola harga pangan yang lebih tinggi dan lebih bergejolak sepertinya akan berlanjut, berkaitan dengan turunnya stok bijih-bijihan. Laporan itu menyebutkan faktor struktural dan siklus yang sudah berperan sejak krisis tahun 2007 hingga 2008 telah memberikan pengaruh, termasuk juga meningkatnya permintaan pangan di negara-negara maju dengan penduduk yang lebih besar dan makmur, kompetisi penggunaan bijih-bijihan, menyusutnya ketersediaan lahan dan stagnan atau bahkan turunnya hasil panen.

Dalam catatan laporan itu dikatakan, penurunan produksi akibat cuaca buruk, ditambah melemahnya dolar AS, tingginya harga minyak dan sejumlah larangan ekspor dari negara-negara kunci telah menyebabkan kenaikan harga pangan yang sudah berlangsung sejak Juni tahun lalu. Kenaikan bahkan mencapai 2 digit untuk gandum, jagung, gula, minyak edibel, produk susu dan daging.

Sementara harga beras sepertinya akan meneruskan trend kenaikan akibat dampak La Nina, sehingga memicu konsumen mencari makanan pengganti yang lebih murah dan kurang bergizi. "Untuk mencegah terjadinya krisis, maka penting bagi negara-negara untuk mereview pengenaan larangan ekspor sejumlah item makanan, memperkuat jaring pengaman sosial," ujar Rhee.

Pemerintah di negara-negara Asia telah mengambil sejumlah kebijakan jangka pendek guna meredam dampak inflasi harga pangan termasuk kebijakan stabilisasi harga-harga. Namun kenaikan permintaan pangan dari negara-negara Asia dan rendahnya produktivitas pangan berarti para pembuat kebijakan juga harus fokus pada solusi jangka panjang guna menghindari krisis di masa depan. **cahyo

Related posts