Pemerintah Prediksi APBN 2012 Tetap Defisit

Pemerintah Prediksi APBN 2012 Tetap Defisit

Jakarta - Pemerintah memperkirakan APBN pada 2012 akan mengalami defisit sebesar 1,4%. Bahkan tidak tertutup kemungkinan besarnya deficit itu masih bisa bertambah menjadi 1,6%. “Defisit di RKP (Rencana Kerja Pemerintah) 1,4%. Kita tidak menutup diri meningkatkan defisit itu 0,1-0,2%," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta, Senin (25/4)

Namun demikian, kata Agus Marto, penerimanaan negara pada 2012 bisa digenjot hingga Rp 100 triliun dan kemungkinan bisa melebihi penerimaan di 2011. “Kenaikan penerimaan tersebut akan ditingkatkan melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),” tambahnya.

Dikatakan Agus, deficit pada 2011 diperkirakan mencapai 1,8%. Oleh karena itu untuk menekan deficit PNBP harus digenjot setinggi-tingginya. “Waktu tahun ini defisit 1,8%, kita merasa penerimaan bisa menambah Rp 100 triliun di 2012. Itu bukan dari Penerimaan Negara Bukan Pajak," jelasnya.

Menurut Agus Marto, defisit dengan tambahan penerimaan tersebut akan diarahkan pada infrastruktur sembari tetap menjaga pengeluaran dengan mengurangi belanja yang tidak produktif. "Tapi kita arahkan kepada infrastruktur, itu menjadi diskusi. Peningkatan penerimaan negara akan didalami, pengeluaran dapat efisien, belanja-belanja yang tidak produktif," imbuhnya.

Yang jelas, selama ini deficit anggaran selalu ditutupi melalui utang. Adapun total utang pemerintah Indonesia pada Maret 2011 tercatat mencapai Rp 1.694,63 triliun. Angka itu bertambah Rp 2,46 triliun dibanding Februari 2011 yang jumlahnya Rp 1.692,17 triliun.

Seperti diketahui, Badan Anggaran DPR RI dan pemerintah masih menetapkan defisit anggaran tahun 2011 sebesar 1,8% dari PDB atau sebesar Rp124,66 triliun. Sementara itu asumsi dasar yang disepakati dalam APBN 2011 untuk pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4 persen, laju inflasi 5,3%, kurs Rp 9.250 per dolar AS, suku bunga SBI tiga bulan 6,5%, harga minyak 80 dolar AS per barel, lifting minyak 970 ribu barel per hari, dan PDB Rp 7.019 triliun.

Minggu lalu, Agus sempat menyatakan defisit anggaran 2011 diperkirakan bakal meningkat berada pada level 1,9% PDB. Alasannya naiknya defisit itu lantaran tiga faktor. Pertama, gejolak harga minyak dunia. "Kalau kita lihat future market sudah cukup tinggi di atas US$100 per barel," katanya

Kedua, produksi minyak mentah siap jual (lifting) tidak mencapai target 970 ribu barel per hari tahun ini. Menurut Agus, lifting akan berada di bawah 950 barel per hari. Ketiga, permintaan tambahan anggaran belanja dari kementerian/lembaga."Mungkin karena ada kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista), ada kebutuhan karena reformasi birokrasi, jadi campur-campur," katanya.

Lebih lanjut Agus menegaskan apabila hendak mengakomodasi permintaan tambahan belanja itu maka harus ada Anggaran Pendapatan dan Belanja Perubahan tahun 2011 (APBNP 2011). Cuma, Agus enggan menyebutkan berapa besar tambahan itu dan kementerian/lembaga mana saja yang mengajukan tambahan. "Jumlahnya kelihatannya sudah cukup besar, kalau seandainya mau kita realisasikan mungkin harus mengajukan revisi anggaran," ucapnya.

Yang jelas mantan Dirut Bank Mandiri ini sempat memastikan defisit paling aman untuk Indonesia tidak lebih dari 2%. Untuk menjaga defisit dan membuat fiskal tetap sehat, pemerintah segera mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) tentang Penghematan. Sehingga pemerintah belum akan melakukan revisi anggaran. “Hal yang kami lakukan adalah mengawasi dan mewaspadai, tetapi kami belum merasa perlu melakukan revisi anggaran,” jelasnya.

Beberapa asumsi, diakui Agus memang mengalami perubahan seperti inflasi. Faktor itu secara umum membuat defisit meningkat. “Kalaupun mengubah, defisit kita tidak akan lebih dari dua persen,” tandasnya.

Untuk tetap menjaga defisit tidak lebih dari dua persen, pemerintah menjalankan beberapa inisiatif untuk mewaspadai kenaikan defisit. Hal ini, misalnya, dengan mengeluarkan Inpres Penghematan atau mengeluarkan inisiatif lain untuk menangani supaya tidak ada pengeluaran yang tidak prioritas atau tidak produktif.

Beberapa asumsi yang perlu ditinjau ulang antara lain tentang lifting, nilai tukar (exchange rate) dan suku bunga. “Walaupun secara umum defisit kita akan meningkat, secara fiskal kita akan jaga supaya defisit itu tidak melebihi dua persen,” tuturnya. **cahyo

Related posts