Kemenkop Salurkan KUR Rp23 Triliun

Kamis, 04/10/2012

NERACA

Jakarta - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sejak awal tahun hingga saat ini sebesar Rp23 triliun. Hal tersebut disampaikan Menteri Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan pada pembukaan Pasar Indonesia di Jakarta, Rabu (3/10).

“Saat ini penyerapannya sudah mencapai Rp23 triliun dari target yang dicanangkan akhir tahun lalu senilai Rp 30 triliun dan kita akan terus mendorong penyaluran kredit bagi usaha UKM ini,” jelasnya.

Syarifuddin mengatakan, sejak disalurkan pada 2000 lalu, penyaluran KUR diperkirakan sudah mencapai Rp85 triliun. Kredit pembiayaan nasional itu disalurkan oleh 8 bank pemerintah dan 26 bank pembangunan daerah. Angka penyaluran KUR tersebut, lanjut dia, setiap tahunnya mengalami peningkatan.

Syarifuddin mengakui, semula akses pengrajin untuk melakukan kredit ke perbankan memang agak sulit karena tidak semua UKM dinilai bankable. Akan tetapi, saat ini hal tersebut tidak lagi menjadi permasalahan karena adanya sinergi antara pihak bank dan pelaku UKM selaku debitur. Hal ini, menurut dia, menjadi keberhasilan unit usaha kecil dan menengah yang berupaya untuk ikut andil dalam memajukan perekonomian Indonesia.

Syarifuddin menambahkan, unit usaha kecil dan menengah tidak hanya mampu menyerap tenaga kerja melainkan juga mampu menurunkan tingkat kemiskinan. Penyerapan tenaga kerja secara nasional melalui sektor UKM, lanjut dia, diperkirakan sekitar 97%, sedang tingkat kemiskinan saat ini telah mencapai 11,9% dari 17,6% pada tahun lalu.

Sumbangan Ekonomi Kreatif

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu menegaskan pentingnya mendukung keberlangsungan sektor usaha kecil dan menengah, terlebih melalui ekonomi kreatif. Mari mengatakan bahwa potensi sumbangan industri kreatif pada perekonomian nasional diperkirakan mencapai Rp468 triliun atau 7,3% dari pendapatan domestik bruto Indonesia. Dari beberapa sektor di ekonomi kreatif, menurut Mari, saat ini masih didominasi oleh produk pakaian (fashion), yaitu sebesar 40,9% dan kriya atau seni kerajinan tangan sebesar 27,6%.

Untuk penyerapan tenaga kerja, industri kreatif telah mempekerjakan sekitar 85,5 juta orang, baik mikro maupun UKM, dengan porsi terbesar bergerak di bidang fashion sebanyak 4,5 juta orang sedangkan kriya menyerap tenaga kerja sekitar 2,7 juta orang.

“Saya harap industri juga makin luas dibiayai perbankan, tidak hanya untuk kedua sektor tersebut, tapi juga sektor lainnya seperti film ataupun animasi,” ujarnya.

Menurut Mari, meskipun memberikan kontribusi kecil atau hanya sebesar 5%, bidang perfilman, animasi, maupun periklanan, dan animasi perlu juga dikembangkan karena memiliki prospek yang cukup cerah di masa mendatang. Untuk itu, Kemenparekraf mengakui perlunya upaya pengembangan bidang industri kreatif tersebut dan mengharapkan adanya sinergi antara perbankan dengan para pelaku industri ekonomi kreatif.