Kemendag Bantah Kebijakan Soal Rotan Gagal Tingkatkan Ekspor

Rabu, 03/10/2012

NERACA

Jakarta - Larangan ekspor rotan mentah dan setengah jadi sejak Januari 2012 masih menuai berita tidak sedap didengar oleh Kementerian Perdagangan. Akibat kebijakan yang tertuang pada Peraturan Menteri Perdagangan No. 35 tahun 2011 tersebut pasokan bahan baku industri rotan menjadi terbatas, serta petani rotan enggan berproduksi karena rotan yang punya nilai jual hanya jenis tertentu saja. Sehingga, terdengar kabar kebijakan tersebut menganggu kegiatan ekspor.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh membantah, bahwa kebijakan mengenai rotan tersebut sering diplesetkan sehingga kebijakan tersebut sering dinyatakan tidak berhasil. “Kalau pun ada itu datanya tidak benar. Di situasi krisis global ini, ekspor barang jadi rotan itu masih meningkat, nilai sudah tercatat dari Januari hingga September 2012 sebesar US$187 juta, dibanding Januari hingga September tahun 2011 barang jadi rotan hanya US$108,96 juta, jadi naiknya 44,81%,” ujarnya di kantor Kementerian Perdagangan, Selasa (1/10).

Pemerintah masih mengklaim dengan peningkatan nilai tambah maka nilai ekspor produk rotan pun bisa kian besar. Pada tiga bulan pertama 2012, nilai ekspor produk jadi rotan baik furnitur dan kerajinan telah mencapai US$58,2 juta, diperkirakan pada akhir tahun 2012, ekspornya akan mencapai US$275 juta. Meningkatnya ekspor produk jadi furnitur rotan jelas akan membangun gairah wirausaha baru di bidang industri rotan.

Peminat Rotan

Berbagai upaya kebijakan telah dan akan dilakukan Kemendag bersama dengan kementerian terkait. Kebijakan penutupan ekspor bahan baku rotan telah memberikan hasil nyata yang positif bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data statistik Kementerian Perdagangan, lima negara paling berminat terhadap produk rotan Indonesia antara lain adalah Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman, dan Belanda. Jika melihat data ekspor dunia tahun 2011, Indonesia merupakan pangsa pasar ke-2 terbesar di dunia untuk ekspor produk rotan dan bambu.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami mengatakan, selain efek positif pelarangan ekspor bahan baku rotan, kenaikan nilai ekspor produk rotan dikarenakan oleh tingginya permintaan di negara-negara maju. Furnitur berbahan baku rotan memiliki keunggulan, lebih ringan dan tidak membutuhkan banyak tempat.

Hal yang sama diungkapkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Abdul Sobur, bahwa tahun ini terjadi pertumbuhan ekspor produk rotan cukup signifikan. Dia memperkirakan ekspor produk rotan tahun ini akan menembus nilai US$200 juta. Jumlah itu lebih besar 25% dibandingkan realisasi tahun lalu, sebesar US$ 160 juta. Jika tren ini terus berlanjut, maka selama lima tahun ke depan ekspor produk rotan akan melonjak dua kali lipat hingga US$ 400 juta.

Hanya saja, menurut Sobur, target ekspor produk rotan akan tercapai jika suplai bahan baku dari daerah produksi lancar dan ekonomi AS dan Eropa telah pulih. Tiap tahun industri mebel dan produk rotan setidaknya membutuhkan pasokan bahan baku rotan sebanyak 70.000 ton. Dia menambahkan, walau pemerintah telah melarang ekspor rotan mentah dan setengah jadi, namun bahan baku masih menjadi masalah.