Dunia Usaha Bisa Pengaruhi Defisit Perdagangan

Selasa, 02/10/2012

NERACA

Jakarta---Dunia usaha meminta pemerintah agar dilibatkan dalam berbagai kebijakan. Karena hal ini bisa mempengaruhi defisit neraca perdagangan (current account deficit/CAD). Apalagi proyeksi deficit ini akan terjadi lagi dalam waktu dekat jika pemerintah tidak segera mendukung pengusaha lokal dalam mengembangkan usahanya. "Kondisi ekonomi global memaksa negara-negara lain mengalihkan tujuan ekspor mereka ke Indonesia sehingga jika pengusaha lokal tidak berkembang, impor yang masuk tidak dapat diimbangi dengan ekspor," kata Ketua Umum Hipmi Raja Sapta Oktohari di Jakarta, Senin.

Oktohari menjelaskan bahwa negara-negara Eropa dan Amerika Serikat yang sebelumnya menjadi tujuan ekspor saat ini sudah tidak lagi mempunyai daya beli yang kuat. Sementara China di sisi lain juga mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia yang pertumbuhan ekonominya terus berada di atas rata-rata negara Asia menjadi tujuan ekspor baru. Faktor inilah yang menurut Oktohari menjadi penyebab utama terjadinya difisit neraca perdagangan sampai bulan Juni lalu (1,32 milyar dolar AS).

Sementara itu pada bulan Agustus, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Senin (1/10) bahwa neraca perdagangan sudah mengalami surplus 248,5 juta dolar AS, sedangkan secara akumulasi Januari-Agustus 2012 mencapai sekitar 496,7 juta dolar AS. "Surplus perdangan itu tidak akan bertahan lama jika pemerintah masih mengabaikan pengusaha lokal untuk mengembangkan usahanya sampai pada level internasional," ujarnya

Dikatakan, Oktohari mengatakan, ekspor dari pengusaha-pengusaha lokal akan dapat mengimbangi impor yang cenderung terus meningkat dan dengan demikian, surplus neraca perdagangan akan dapat terjaga.

"Namun sekarang ini justru beberapa aturan tidak mendukung ke arah pengembangan usaha lokal. Pengusaha-pengusaha baru seringkali kesulitan memulai usaha," kata Oktohari.

Menurut Oktohari, mendapatkan akses kredit perbankan, seorang pengusaha harus menyerahkan laporan keuangan yang sudah diaudit selama dua tahun terakhir kepada pihak bank untuk mendapatkan fasilitas kredit usaha. "Regulasi tersebut tentu menyebabkan semakin sedikitnya pengusaha baru yang muncul. Sedikitnya pengusaha baru ini selanjutnya akan mengurangi nilai ekspor Indonesia di masa depan," kata Oktohari.

Di sisi lain, Direktur Statistik Distribusi BPS, Satwiko Darmesto menuturkan, surplus neraca perdagangan Indonesia masih sulit diramal apakah akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Dikatakan Satwiko, surplus Indonesia pada Agustus 2012 bukan mutlak karena terjadi perbaikan kinerja ekspor. "Nilai ekspor Indonesia masih stagnan. Yang terjadi adalah impor Indonesia yang mengalami penurunan terutama bahan baku dan bahan penolong," imbuhnya. **cahyo