Drama BUMI Makin Panas

Senin, 01/10/2012

Oleh : Dr. Agus S. Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Peristiwa orang tua yang melaporkan anaknya sendiri ke pihak berwajib menyiratkan betapa dahsyatnya permasalahan di dalam rumah tangga tersebut. Fenomena ini didasari oleh banyak kemungkinan, di antaranya adalah terlalu seriusnya kenakalan sang anak ataukah hilangnya wibawa orang tua di mata sang anak.

Drama penyanderaan saham BUMI oleh induknya sendiri (Bumi Plc) merefleksikan hal serupa. Bumi Plc melaporkan anak usahanya (PT Bumi Resources, Tbk) kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bapepam-LK atas dugaan penyelewengan keuangan. Hasil investigasi Bumi Plc menemukan keganjilan pada laporan keuangan PT Bumi Resources, Tbk. (31 Des. 2011), yaitu dihapuskannya nilai dana pengembangan sebesar US$637 juta. Percekcokan tersebut selain berbuntut pada pengunduran diri Ari S. Hudaya, CEO Bumi Plc (ex Vallar Plc) yang berkedudukan di London, juga berimplikasi negatif pada merosot tajamnya harga saham Bumi Plc di bursa London dan saham BUMI di BEI. Pergerakan saham Bumi Plc di Bursa London mengalami penurunan -21,67% (21/09/12), -24,66% (24/09/12) dan anjlok -46,33% (26/09/12). Harga saham BUMI turun dari Rp2500 (04/12) ke Rp2000 (05/12), Rp1500 (06/12), Rp1000 (08/12) dan Rp670 ( 09/12).

Ibarat “sudah jatuh-tertimpa tangga”. Tanpa adanya pengaduan dari Bumi Plc itu pun, emiten saham BUMI ini sedang menanggung beban utang sebesar US$3,95 (berdasarkan data dari Moody’s Investor Service) dan US$300 juta akan jatuh tempo tahun 2013. Meskipun pihak manajemen BUMI yakin dapat mengatasi masalah tersebut, namun Standard & Poors (S&P) dan Moody’s menyangsikannya. Oleh karenanya S&P dan Moody’s menurunkan peringkat utang PT Bumi Resource dari BB- ke B+ dalam statuscreditwatchdengan implikasi negatif.

Drama memanasnya suhu saham BUMI yang kinikian terhempas ini tidak terlepas dari sejarah terlahirnya Bumi Plc oleh kongsi antara keluarga Bakrie dan Nathaniel Rothschild, milyuner Inggris keturunan pemilik bank terkemuka di Eropa. Bumi Plc yang listing di bursa efek London sejak 2011 ini merupakan peleburan dari Vallar Plc (yang didirikan oleh Rothschild) setelah dikuasainya mayoritas saham perusahaan (30%) oleh keluarga Bakrie. Sejak awal dibangunnya Bumi Plc, konflik dari kedua partner kongsi tersebut terus berkecamuk. Pada suatu ketika Bakrie mengalami default investasi sebesar US$1 miliar di Bumi Plc. Ketika itu Bakrie menggandeng Samin Tan,Bos PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) untuk mendukungnya di Bumi Plc dengan menyetor investasi sebesar US$1 miliar untuk membeli 23,8% saham Bumi Plc dari Bakrie. Bakrie-Tan sekaligus menjadi pengendali Bumi Plc dengan 30% hak suara. Konflik antara Bakrie-Tan dan Rothschild memuncak ketika surat Rotschild yang berisi tuntutan "pembersihan radikal" di jajaran direksi BUMI bocor ke media masa pada November 2011.

Sebagai akibat dari konflik itu Pihak Bakrie-Tan memecat Rotschild dari jajaran Direksi Bumi Plc dan ditempatkan sebagai direktur non-eksekutif. Berikutnya Ari S Hudaya yang semula duduk di kursi direksi non-eksekutif Bumi Plc kini mundur dan kembali ke PT Bumi Resources di Jakarta. Berdasarkan data dariReuters,Samin Tan, bos emiten saham BRAU sangat keberatan dilibatkan dalam kekacauan ini karena dia telah mengalami kerugian amat besar di Bumi Plc. Seiring dengan anjloknya harga saham Bumi Plc di bursa London hingga mencapai 80%, investasinya yang dulu sebesar US$1 miliar kini susut menjadi sekitar US$140 juta.

Berbagai spekulasi publik yang mengemuka di balik kebingungan mereka melihat fenomena aksi korporasi ini adalah adanya indikasi kesengajaan Bumi Plc pemilik 29% saham BUMI untuk menekan harga saham BUMI ke tingkat terendah kemudian memborongnya kembali dengan harga murah. Namanya juga spekulasi di bursa.