Untung Rugi Energi Nuklir

Rabu, 19/09/2012

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kata "nuklir" hingga saat ini masih disebut dalam satu tarikan nafas dengan senjata pemusnah masal nan mengerikan. Nuklir selalu identik dengan kehancuran mahadahsyat di muka bumi. Dan tentu saja, kesan mengerikan itu terus bergentayangan lantaran dunia memang tak pernah lekang menghadirkan kisah tragis pemanfaatan energi nuklir.

Fakta mengenai kedahsyatan bom nuklir yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki pada era Perang Dunia II, tragedi kebocoran reaktor nuklir Chernobyl, dan yang paling anyar hancurnya reaktor nuklir di Fukushima akibat terjangan tsunami menjadi bukti shahih betapa berbahayanya pengembangan energi nuklir.

Sementara itu, cerita manis mengenai keberhasilan pemanfaatan energi nuklir, sebut saja di kedokteran, kemiliteran, industri maupun kelistrikan, dalam peradaban modern saat ini juga tak pernah mampu menghapus stigma nuklir yang begitu mengerikan. Karena itu tak heran jika peristiwa ledakan nuklir Fukushima pada pertengahan 2011 silam membuat masyarakat dunia secara psikologis semakin takut dengan nuklir.

Bukan hanya di negara berkembang, di negara maju sekelas Jepang, kepercayaan masyarakat terhadap pemanfaatan nuklir juga semakin menipis. Sebelum tragedi Fukushima, 66% masyarakat di Negeri Sakura menerima nuklir. Akan tetapi, pasca kejadian tersebut, mayoritas masyarakat Negeri Matahari Terbit atau tepatnya 74% dari mereka menyatakan anti nuklir.

Setali tiga uang dengan yang terjadi di Jepang, tragedi Fukushima turut memicu 47% masyarakat Indonesia menolak nuklir. Padahal, fakta yang lain juga jelas berbicara. Di tengah menipisnya energi fosil di Indonesia, energi alternatif seperti geothermal, angin, matahari, gelombang laut, termasuk nuklir merupakan beberapa opsi yang mesti dimanfaatkan secara optimal.

Nah, di titik inilah dialektika mengenai kontroversi pemanfaatan nuklir di Indonesia masih berlangsung dengan sangat kencang. Kenyataan mengenai tidak adanya negara berpenduduk lebih dari 100 juta jiwa dengan tingkat pendapatan per kapita di atas Indonesia yang tidak memanfaatkan listrik nuklir, walau kaya dengan sumber daya alam yang lain, juga belum bisa menyembuhkan trauma masyarakat terhadap kebocoran reaktor nuklir.

Padahal, saat ini telah hadir teknologi baru yang disebut “Candle”. Teknologi ini dipastikan mampu menghasilkan listrik dengan harga murah dan tingkat keselamatan yang lebih tinggi. Listrik yang dihasilkan dari teknologi reaktor jenis ini bisa 10 kali lebih murah dibanding reaktor nuklir konvensional. Ketika listrik yang dihasilkan PLN selama ini harganya rata-rata lebih dari Rp1.000 per kWh, maka dengan reaktor jenis ini harga listrik yang dihasilkan hanya Rp 200-400 per kWh.

Karena itu, cepat atau lambat Indonesia harus segera menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Sudah pasti, dalam penyediaan energi, negara harus berpikir jangka panjang, tidak hanya satu-dua tahun atau satu-dua dasawarsa, melainkan satu-dua abad ke depan. Di titik inilah, pemanfaatan energi nuklir sejatinya merupakan bentuk keseriusan negara dalam menjaga keberlangsungan dan ketahanan energi di masa mendatang.