Untung Rugi Energi Nuklir

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kata "nuklir" hingga saat ini masih disebut dalam satu tarikan nafas dengan senjata pemusnah masal nan mengerikan. Nuklir selalu identik dengan kehancuran mahadahsyat di muka bumi. Dan tentu saja, kesan mengerikan itu terus bergentayangan lantaran dunia memang tak pernah lekang menghadirkan kisah tragis pemanfaatan energi nuklir.

Fakta mengenai kedahsyatan bom nuklir yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki pada era Perang Dunia II, tragedi kebocoran reaktor nuklir Chernobyl, dan yang paling anyar hancurnya reaktor nuklir di Fukushima akibat terjangan tsunami menjadi bukti shahih betapa berbahayanya pengembangan energi nuklir.

Sementara itu, cerita manis mengenai keberhasilan pemanfaatan energi nuklir, sebut saja di kedokteran, kemiliteran, industri maupun kelistrikan, dalam peradaban modern saat ini juga tak pernah mampu menghapus stigma nuklir yang begitu mengerikan. Karena itu tak heran jika peristiwa ledakan nuklir Fukushima pada pertengahan 2011 silam membuat masyarakat dunia secara psikologis semakin takut dengan nuklir.

Bukan hanya di negara berkembang, di negara maju sekelas Jepang, kepercayaan masyarakat terhadap pemanfaatan nuklir juga semakin menipis. Sebelum tragedi Fukushima, 66% masyarakat di Negeri Sakura menerima nuklir. Akan tetapi, pasca kejadian tersebut, mayoritas masyarakat Negeri Matahari Terbit atau tepatnya 74% dari mereka menyatakan anti nuklir.

Setali tiga uang dengan yang terjadi di Jepang, tragedi Fukushima turut memicu 47% masyarakat Indonesia menolak nuklir. Padahal, fakta yang lain juga jelas berbicara. Di tengah menipisnya energi fosil di Indonesia, energi alternatif seperti geothermal, angin, matahari, gelombang laut, termasuk nuklir merupakan beberapa opsi yang mesti dimanfaatkan secara optimal.

Nah, di titik inilah dialektika mengenai kontroversi pemanfaatan nuklir di Indonesia masih berlangsung dengan sangat kencang. Kenyataan mengenai tidak adanya negara berpenduduk lebih dari 100 juta jiwa dengan tingkat pendapatan per kapita di atas Indonesia yang tidak memanfaatkan listrik nuklir, walau kaya dengan sumber daya alam yang lain, juga belum bisa menyembuhkan trauma masyarakat terhadap kebocoran reaktor nuklir.

Padahal, saat ini telah hadir teknologi baru yang disebut “Candle”. Teknologi ini dipastikan mampu menghasilkan listrik dengan harga murah dan tingkat keselamatan yang lebih tinggi. Listrik yang dihasilkan dari teknologi reaktor jenis ini bisa 10 kali lebih murah dibanding reaktor nuklir konvensional. Ketika listrik yang dihasilkan PLN selama ini harganya rata-rata lebih dari Rp1.000 per kWh, maka dengan reaktor jenis ini harga listrik yang dihasilkan hanya Rp 200-400 per kWh.

Karena itu, cepat atau lambat Indonesia harus segera menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Sudah pasti, dalam penyediaan energi, negara harus berpikir jangka panjang, tidak hanya satu-dua tahun atau satu-dua dasawarsa, melainkan satu-dua abad ke depan. Di titik inilah, pemanfaatan energi nuklir sejatinya merupakan bentuk keseriusan negara dalam menjaga keberlangsungan dan ketahanan energi di masa mendatang.

BERITA TERKAIT

PTPP Ikut Tunda Rencana IPO PP Energi - Kondisi Pasar Belum Kondusif

NERACA Jakarta – Menyusul beberapa perusahaan yang menunda untuk listing di pasar modal atau mencatatkan saham perdananya di pasar modal,…

Geo Dipa Energi Rencanakan IPO di 2022 - Kejar Pertumbuhan Aset

NERACA Jakarta – Perusahaan energi di bidang panas bumi, PT Geo Dipa Energi (GeoDipa) berniat untuk menjadi perusahaan go public…

Visi Media Asia Bukukan Rugi Rp 100,04 Miliar

NERACA Jakarta – Performance kinerja keuangan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) di kuartal pertama 2018 masih jauh dari ekspektasi…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

OTT Lagi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Menjelang lebaran lalu KPK kembali melakukan OTT untuk…

THR, Gaji 13 dan APBN - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan…

Memupuk Pertumbuhan Kredit

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF   Kinerja penyaluran kredit pada April 2018 mengalami perbaikan lebih baik daripada akhir tahun…