Saatnya Investasi Emas

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Masih tidak menentunya kondisi perekonomian global, ternyata memicu para pelaku pasar saham mulai berhati-hati dalam menginvestasikan dananya di pasar modal. Pasalnya, alih-alih dapat untung gede malah buntung karena tergerus sentimen global. Meski kabar pemerintah Amerika Serikat memberikan kebijakan pelonggaran moneter, rupanya belum juga membuat tenang bagi pelaku pasar saham.

Bicara investasi saham tentunya haruslah jangka panjang dan bukan jangka pendek. Namun bagi mereka investor pemula ada saatnya melirik investasi emas yang harganya kini mulai merangkak naik. Di saat kondisi ekonomi dunia yang terus terkoreksi, saatnya investor dituntut lebih jeli dalam menempatkan portofolio investasinya yang lebih aman, memiliki return tinggi tetapi tetap memiliki risiko kecil.

Salah satu investasi yang layak dilirik adalah investasi emas di tengah berfluktuatifnya harga saham saat ini. Terus merangkak harga emas, rupanya banyak investor berburu emas sebagai portofolio yang aman. Bahkan beberapa analis memperkirakan harga emas diyakini bakal tembus US$ 1.810 per troy ons dengan resisten terdekat di US$ 1.777 dan "support" di 1.765.

Sementara di dalam negeri, harga emas Antam ukuran satu gram meningkat 1,55% menjadi Rp588.200 pada Senin awal pekan kemarin. Kondisi ini bertolak belakang dengan awal pekan lalu sekitar Rp579.000. Sedangkan, harga emas batangan ukuran dua gram sebesar Rp1,136 juta. Lalu lima gram dan 10 gram masing-masing Rp2,791 juta dan Rp5,542 juta.

Mungkin sudah tradisinya, bila investasi emas selalu dikonotasikan dengan wanita karena sebagai investasi untuk perhiasan. Namun saat ini, kesadaran masyarakat berinvestasi emas tidak hanya di monopoli kaum hawa, tetapi kaum adam juga mulai melirik investasi yang sudah ada sejak dahulu kala.

Banyak keuntungan berinvestasi yang satu ini, pertama karena barangnya nyata dan kedua bisa sebagai lindung nilai (hedge) di saat portolio investasi lain sedang meredup. Disamping itu, investasi dalam bentuk emas batangan maupun perhiasan juga lebih mudah dibandingkan menempatkan dana investasi dalam bentuk saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selain itu, investasi emas juga sebagai alat lindung inflasi ketika kebijakan moneter melonggar. Bagaimanapun juga, inflasi merupakan musuh yang jahat dalam berinvestasi. Karena itu, banyak pelaku pasar memilih investasi yang aman, nyaman, memiliki return tinggi tanpa tergerus inflasi.

Emas banyak dipilih sebagai salah satu bentuk investasi karena nilainya cenderung stabil dan naik. Sangat jarang sekali harga emas turun. Emas tersedia dalam berbagai macam bentuk, mulai dari batangan atau lantakan, koin emas dan emas perhiasan. Emas batangan dinilai sebagai jenis emas yang terbaik untuk investasi karena dimana pun dan kapan pun Anda ingin menjualnya, nilainya akan sama. Nilai ini selalu mengikuti standar internasional yang berlaku pada hari penjualan.

Memang berbicara investasi, tentunya tidak hanya satu macam tetapi perlu alternatif di sektor lain, baik itu di obligasi, reksa, surat utang pemerintah ataupun properti. Alasannya, bila di saat investasi di sektor tertentu terkoreksi karena sentimen global, tentunya masih ada penyelamat di sektor lain.

BERITA TERKAIT

Investasi Pasca Pilpres Bisa Segera Tumbuh, Asal…

Investasi Pasca Pilpres Bisa Segera Tumbuh, Asal… NERACA Jakarta - Sejumlah pengamat meyakini pilpres 2019 sangat membawa pengaruh pada kondisi…

Mandiri Investasi Bakal Terbitkan KIK- EBA

NERACA Jakarta – Sukses mengantarkan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) menerbitkan produk inovatif di sektor pasar modal Indonesia, yaitu…

Dunia Investasi Makin Kompetitif - GIC Pilih Merry Riana Sebagai Brand Ambassador

Dorong masyarakat aga melek investasi dan juga memacu pertumbuhan literasi keuangan, Global Investa Capital Pte (GIC) menunjuk Merry Riana yang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Bangun Karakter di Keuangan Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi SyariahMeski sudah berjalan selama dua dekade lebih keberadaan dari praktik lembaga keuangan syariah (LKS),…

Digital Ekonomi di Bawah Jokowi

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF Usai sudah kita menggelar pesta demokrasi terbesar di dunia pada 17 April lalu. Pemilu…

Terdistorsinya Ruang Pasar yang Luas

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Ruang pasar (market space) adalah ruang "tanpa batas" secara ketika the world…