Indonesia Lirik Teknologi Produksi Pisang Ekuador

Selasa, 18/09/2012

NERACA

Jakarta - Ekuador ternyata merupakan negara pengekspor pisang nomor satu di dunia. Kesempatan tersebut dilirik Pemerintah Indonesia agar dapat bekerja sama di bidang ini, khususnya teknologi bagaimana memproduksi buah Pisang yang berkualitas tinggi dan tahan lama. Sehingga, perlu melakukan pertemuan yang insentif untuk saling bertukar informasi di berbagai bidang untuk meningkatkan kerja sama ekonomi.

Pemerintah Ekuador sendiri juga ingin bisa belajar dari Indonesia tentang teknologi pengolahan Palm Oil serta berharap bisa membuka Ecuadorian Office di Indonesia untuk mendukung peningkatan kerja sama ekonomi kedua negara. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Indonesia Gusmardi Bustami mengatakan, Ekuador merupakan salah satu mitra dagang Indonesia di kawasan Amerika Selatan. Hubungan dagang Indonesia-Ekuador saat ini terus tumbuh, dari US$ 44,2 juta di tahun 2007 menjadi US$ 96,6 juta pada tahun 2011, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 19,8% per tahun.

“Perdagangan kedua negara dapat terus tumbuh mengingat potensi besar yang ada pada kedua negara,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Senin (17/9). Dia menjabarkan, Ekuador memandang Indonesia sebagai platform yang sangat penting dan pengusaha Ekuador ingin menjadikan Indonesia sebagai mitra di Asia. Demikian sebaliknya, Indonesia juga dapat melihat Ekuador sebagai mitra di Amerika Latin.

“Dalam kerja sama antar kedua negara, Indonesia tidak hanya melihat Ekuador sebagai sebuah negara saja, namun keseluruhan Amerika Latin. Ekuador dapat menjadi pintu masuk bagi ekspor Indonesia ke negara-negara yang tergabung dalam Aliansi ALBA,” terang Gusmardi.

Aliansi ALBA memiliki anggota dari Negara Antigua dan Barbuda, Bolivia, Kuba, Dominika, Ekuador, Nikaragua, Saint Vincent dan Grenada, dan Venezuela, yang menggunakan sistem SUCRE, yaitu sistem pembayaran dengan menggunakan mata uang setempat. Sistem ini bisa menjadi insentif bagi pengusaha Indonesia yang akan bermitra di Ekuador.

Mediasi Pelaku Usaha

Sementara, Deputy Vice Minister of Trade Ekuador Roberto Betancourt Ruales menyampaikan bahwa perlunya mengintensifkan komunikasi dengan memediasi pelaku usaha Indonesia dan Ekuador untuk meningkatkan kerja sama bilateral kedua negara untuk mulai memperkuat kerja sama ke arah ekonomi global secara lebih nyata. Hubungan tidak hanya dilakukan di sektor perdagangan saja, juga bidang lainnya seperti pariwisata, investasi, dan perikanan.

Pemerintah Ekuador juga berkomitmen untuk mengirimkan lebih banyak pengusaha ke Indonesia untuk mengeksplorasi peluang bisnis dengan Indonesia termasuk menghadiri Trade Expo Indonesia 2012. Total perdagangan Indonesia dan Ekuador tahun 2011 mencapai US$ 96,62 juta meningkat 37,1 % dibanding tahun 2010 sebesar US$ 70,19 juta. Sementara pada periode Januari-Juni 2012 sebesar US$ 38,86 juta, masih belum mencapai kondisi yang sama dibanding periode yang sama tahun 2011 yang sebesar US$ 50,58 juta (menurun 23,1%).

Ekspor Indonesia periode Januari-Juni 2012 sebesar US$ 35,64 juta, sedangkan periode yang sama tahun 2011 mencapai US$ 48,24 juta. Impor dari Ekuador periode Januari-Juni 2011 sebesar US$ 2,35 juta dan periode yang sama tahun 2012 sebesar US$ 3,23 juta. Tahun ini periode Januari-Juni Indonesia masih surplus perdagangan dengan Ekuador sebesar US$ 32,4 juta.