Kebijakan QE3 Belum Tentu Selamatkan AS

NERACA

Jakarta—Kebijakan The Federal Reserve (The Fed) menerbitkan pelonggaran kuantitatif tahap III (Quantity Easing 3/QE3) bisa memberikan angin segar pada kondisi perekonomian ekonomi di Amerika Serikat (AS). Sayangnya kebijakan ini masih diragukan efektifitasnya, artinya bukan berarti AS terlepas dari masalah defisit. “Kita terlalu fokus dengan The Fed, tapi kita lupa apa yang terjadi dengan anggaran AS sendiri," kata Kepala Badan kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang PS Brojonegoro di Jakarta,17/9

Menurut Bambang, QE3 diterbitkan untuk memacu pertumbuhan tenaga kerja di AS. Akan tetapi, anggaran di AS bukan dalam arti telah selamat. "Masalah terbesar adalah kebijakan fiskalnya,” tegasnya

Lebih jauh Bambang menambahkan pembahasan industri anggaran di AS berlangsung alot, lantaran perbedaan keinginan pengeluaran. Ditambah, adanya situasi yang tengah memanas antara partai demokrat dengan partai republik menjelang pemilihan umum. "Ini membuat kebijakan fiskalnya menjadi pembicaraan alot," ujarnya

Menurut Mantan Dekan FEUI ini, pembicaraan ini mungkin sampai ke masa pemilihan presiden AS selesai. Sehingga kebijakan ini akan mempengaruhi ke mana pasar di AS bergerak menggunakan Demokrat-style atau republik-style. "Nah dari sini ancaman yang disebut fiskal consilidation itu menjadi nyata di AS, ini akan menggantung," imbuhnya

Sementara itu, Direktur Country World Bank untuk Indonesia Stefan G Koeberle mengakui kebijakan ini tidak akan mempengaruhi ekonomi Indonesia secara signifikan. "Dampak ke Indonesia, saya akan mengatakan lebih ke tidak langsung. Karena QE3 ukuran moneter yang tidak biasa, yang digunakan untuk memulihkan kepercayaan di pasar," ujarnya

Dikatakan Koerberle, kombinasi kebijakan dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan the Fed, memang membantu untuk menenangkan market yang sedang lesu. Hal ini terbukti dengan melonjaknya saham-saham karena kebijakan tersebut. "(QE 3) Tidak memiliki dampak langsung terhadap Indonesia, (tapi) itu sangat penting untuk mengurangi ketidakpastian dan internasional saat ini. Indonesia sangat rentan dalam lingkungan ekonomi yang tidak pasti," tambahnya

Meski demikian, sambung Koeberle, arus modal dan perubahan sentimen investor masih sangat rentan terjadi. Oleh karena itu, untuk mewujudkan kebijakan moneter yang stabil, World Bank belum mampu mempertahankan perspektifnya.

Dia menjelaskan, dalam jangka panjang di Eropa dan di AS ada kebutuhan untuk konsolidasi kebijakan fiskal yang esensial antara untuk politik atau parlemen. Menurut dia, saat ini kebijakan fiskal tersebut lebih sulit dilakukan. "Jadi untuk signal dari kebijakan moneter didalam konteksnya sangat penting tidak disubtitusi tapi ini penting dan ini kontribusinya untuk menurunkan ketidakpastian internasional dan berharap akan lebih berguna untuk pertumbuhan berkejanjutan jangka panjang," pungkasnya. **bari/cahyo

Related posts