Jumlah Penderita Artritis Rematoid Menurun

NERACA

Selama 10 tahun terakhir, terjadi perkembangan signifikan di bidang perawatan terhadap penyakit Artritis Rematoid (AR), terutama setelah ditemukannya Tocilizumab sebagai agen yang mampu menghambat IL-6 atau kunci mediator dalam kerusakan sendi dan efek sistemik pada penyakit AR.

Keberhasilan Tocilizumab telah banyak dibuktikan dalam studi klinis yang dilakukan di berbagai negara, namun belum ada studi yang secara khusus meneliti efikasi serta keamanan Tocilizumab pada penderita AR di Indonesia.

Head of Medical Management Roche Indonesia, dr. Arya Wibitomo, di Jakarta mengungkapkan, mengenai hasil studi klinis tersebut. “PICTURE INA memperlihatkan hasil positif terhadap efikasi dan keamanan Tocilizumab yang bisa menjadi harapan baru bagi para penderita AR di Indonesia. Pemeriksaan berkala dari para dokter memainkan peranan yang penting dalam memberikan hasil terapi yang semakin optimal”, tuturnya.

Studi klinis dilakukan dengan pemberian infus Tocilizumab sebanyak enam kali, dengan rentang waktu satu bulan diantara masing-masing infus. Setelah 24 minggu, PICTURE INA menunjukkan hasil nyata Tocilizumab pada perbaikan tanda dan gejala penyakit AR.

Diantaranya, 85,7 % pasien mengalami penurunan aktivitas penyakit, tingkat remisi Disease Activity Score dari total 28 persendian (dikenald engan DAS 28) mencapai 85,7% dari total pasien pada akhir studi. Ini berarti pasien mengalami penurunan skor penanda berat tidaknya penyakit artritis rematoid yang di derita pasien.

Pasien mengalami penurunan indikasi tingkat inflamasi sejak infus pertama dan kondisi ini berlanjut sampai akhir penelitian dengan penurunan sebanyak 85% dan mencapai normal, nilai hemoglobin menjadi normal sejak infus pertama, pasien mengalami pengurangan rasa sakit sejak infus pertama di mana pengurangan rasa sakit tersebut meningkat dari waktu ke waktu dan efek samping serius kurang dari 5%.

Prof. DR. Dr. Harry Isbagio, SpPD-KR Principal Investigator ACT UP menjelaskan pentingnya mengenal tanda dan gejala AR sedini mungkin. Ada lebih dari 100 jenis penyakit rematik yang gejalanya mirip satu dengan yang lain, sehingga banyak orang menganggap Artritis Rematoid sebagai nyeri sendi biasa dan mereka tidak mencari pengobatan yang tepat.

"Jika tidak segera mendapatkan perawatan yang tepat, penderita AR dapat mengalami kelumpuhan dan berujung pada kerusakan tulang,” tuturnya.

AR memiliki karakteristik persendian yang meradang secara kronis, terasa sangat nyeri dan timbul pembengkakan, sedangkan gejala awal sering kali ditandai dengan badan yang cepat lelah, demam, persendian sakit, serta berat badan menurun drastis.

AR adalah penyakit auto imun yang diperkirakan menimpa sekitar 70 juta orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mengenal tanda dan gejala AR dapat membantu orang-orang terdekat dan tersayang mendapatkan perawatan yang tepat, sebelum penyakit tersebut bertambah parah hingga menurunkan kualitas hidup mereka.

Related posts