Indonesia Butuh Kesiapan Infrastruktur SDM

Hadapi Liberalisasi Asean

Rabu, 12/09/2012

NERACA

Jakarta- Menghadapi liberalisasi Asean yang akan dimulai pada 2015, maka Indonesia seharusnya mempunyai infrastruktur yang baik mulai dari sisi fisik pembangunannya maupun infrastruktur dalam hal Sumber Daya Manusia (SDM). “Saat ini lulusan S3 Indonesia hanya berjumlah 30 ribu orang saja. Padahal jumlah ideal untuk lulusan S3 adalah 150 ribu orang untuk skala jumlah penduduk Indonesia yang sebesar 250 juta penduduk,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Investasi dan Perhubungan Peter Gontha di Jakarta, Selasa (11/9).

Lebih jauh kata Peter, liberalisasi ini sudah berada di depan mata. Karena itu, mau tidak mau dan suka tidak suka, pemerintah harus menyiapkan SDM berkulitas guna menghadapi tantangan besar tersebut. “Tinggal 800 hari lagi Indonesia akan bertemu dengan liberalisasi Asean oleh karena itu perlu menyiapkan segala sesuatunya termasuk dari sisi SDM,” ujarnya

Peter menjelaskan ada beberapa negara yang jumlah lulusannya S3 sudah mendekati katagori yang ideal seperti China yang memiliki jumlah penduduk sebesar 1,3 miliar didukung dengan 800 ribu lulusan S3, India yang jumlah penduduknya sebesar 1,1 miliar didukung dengan 600 ribu sarjana S3. “Tak hanya itu, lanjut Peter, dari sekitar 30 ribu lulusan S3, 80% nya adalah ahli ekonomi, ilmu sosial dan ilmu politik serta ahli agama,” paparnya

Diakui Peter, SDM bidang science, terutama bidang teknologi masih sangat minim dan bahkan hanya skeitar 5%. Mestinya, SDM science ini lebih didorong untuk berkembang lebih cepat. Sehingga penguasaan teknologi bisa sejajar dengan nmaju lainnya. “Sedangkan untuk lulusan dibidang science tergolong sangat rendah. Kurang lebih hanya 5% saja yang lulusan dibidang science, artinya jika ada sekitar 200 orang sarjana S3, maka hanya 10 orang yang ahli science. Jadi SDM dibidang teknologi science Indonesia masih sangat kurang,” tukasnya

Akibatnya, kata Peter, Indonesia akan sulit bersaing dengan negara-negara Asean lainnya yang memang mempunyai lulusan dibidang science. Bahkan masing-masing negara memiliki ikon sendiri sebagai keunggulan teknologi dalam perang dagang. “Kalau kita bisa lihat Jepang punya Honda, Suzuki dan Canon. Korea mempunyai Samsung dan LG, China mempunyai Lenovo dan Machintose, Taiwan mempunyai Acer dan teknologi chip. Sedangkan Indonesia punya apa,” imbuhnya.

Salah satu masalahnya, tambah dia, Indonesia tidak mempunyai branding yang kuat dimata negara kawasan Asean. “Indonesia hanya punya Gudang Garam, Indomie dan Tenaga Kerja Wanita (TKW). Kita tidak punya branding,” tuturnya.

Jadi, menurut Peter, sebaiknya perhatian pemerintah tidak hanya terfokus pada masalah infrastruktur dari sisi fisiknya. Namun juga pada masalah SDM nya juga diperkuat untuk membuat inovasi-inovasi. “Inovasi di bidang teknologi perlu didorong,” pungkasnya. **bari