Sejumlah Langkah Fiskal Siap Atasi Krisis

Selasa, 11/09/2012

NERACA

Jakarta—Kementerian Keuangan segera mengambil sejumlah langkah fiskal untuk mencegah dan mengatasi kemungkinan dampak krisis global. "Pertama, melalui APBN Perubahan 2012 di mana pemerintah menyediakan anggaran stimulus fiskal dengan memanfaatkan saldo anggaran lebih (SAL) untuk tambahan belanja infrastruktur dan tambahan anggaran subsidi energi," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo Agus Martowardojo di Jakarta,10/9

Menurut Agus, langkah kedua yaitu pemerintah bersama pihak lain meningkatkan koordinasi dan kewaspadaan menghadapi berbagai tekanan akibat krisis global. "Pemerintah bersama Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyiapkan Protokol Manajemen Krisis," tambahnya.

Lebih jauh kata Agus, sementara langkah ketiga adalah pemerintah menyusun kerangka stabilisasi pasar obligasi yaitu kerangka kerja yang menyediakan sumber pendanaan untuk menstabilkan pasar obligasi serta mekanisme koordinasi antara pihak terkait.

Pemerintah juga menyiapkan standar operating procedure (SOP) dan mekanisme pertukaran informasi serta jadual untuk pengambilan keputusan dan tindakan secara cepat dan tepat.

Sementara langkah keempat adalah penyediaan pinjaman siaga yaitu fasilitas pembiayaan kontinjensi. Saat ini sejumlah negara dan lembaga internasional sudah memberikan komitmen pinjaman siaga sebesar lima miliar dolar AS.

Pinjaman siaga tersebut dapat dicairkan jika pemerintah mengalami kesulitan memenuhi pembiayaan APBN dari pasar obligasi. Langkah kelima, pemanfaatan fasilitas forum kerja sama internasional, seperti "Chiang Mai Initiatives Multilateralization (CMI-M)" yang menyediakan fasilitas pinjama darurat. "Indonesia dapat memanfaatkan pinjaman likuiditas dolar kurang lebih 10 % dari jumlah tersebut, yaitu hingga 120 juta dolar AS dan jika ditingkatkan akan menjadi 240 juta dolar AS," paparnya.

Namun Agus Marto tetap yakin dan optimis pemerintah dapat mencapai pertumbuhan ekonomi 2012 sebesar 6,8 %. “Kita tetap yakin bisa mencapai pertumbuhan sesuai target yang direncanakan,” imbuhnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan asumsi pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2013 sebesar 6,8 % terlalu optimistis di tengah melemahnya ekspor Indonesia. "Kami menyarankan asumsi pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 6,6%-6,7 %," kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution dalam rapat kerja Komisi XI DPR di Jakarta, Senin.

Darmin mengatakan perekonomian China dan India pada semester II 2012 diperkirakan melemah dan akan berdampak kepada Indonesia karena kedua negara itu merupakan tujuan ekspor Indonesia. Kondisi tersebut akan berdampak kepada pelemahan ekspor Indonesia.

Menurut Mantan Dirjen Pajak, pada semester II ini terlihat negara-negara lain yang juga menjadi tujuan utama ekspor Indonesia juga terpukul cukup berat. "Walau investasi dan konsumsi tetap baik tapi ekspornya melambat sehingga sulit mencapai target pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi," tambahnya

Sementara itu mengenai kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, Darmin Nasution mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp1.000 per liter akan mengakibatkan inflasi sebesar 0,3 %. "Setiap kenaikan BBM subsidi Rp1.000 per liter maka akan ada tambahan inflasi 0,3 %," kata Darmin Nasution.

Yang jelas, kata Darmin, pemerintah menetapkan asumsi inflasi dalam RAPBN 2013 sebesar 4,9 %. “Dalam RAPBN 2013 sudah kita usulkan sekitar 4,9%,” pungkasnya. **bari/ria