Hasil Renegosiasi Kontrak Karya Diumumkan - Pekan Depan

NERACA

Jakarta-- Pemerintah segera mengumumkan hasil sementara renegosiasi Kontrak Karya (KK) di bidang pertambangan pada pekan depan. "Minggu depan kita akan umumkan hasil-hasil yang dicapai," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik di Jakarta, Kamis (6/9)

Yang jelas hal Ini juga seiring dengan Keputusan Presiden (Keppres) No 3 Tahun 2012 tentang Tim Evaluasi Untuk Penyesuaian Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara.

Lebih jauh kata Jero, pihaknya sudah lama bekerja melakukan berbagai macam langkah. "Selama ini kita sudah bekerja, cuma kick off belum di-kick, hari ini sudah di-kick oleh Pak Hatta, secara resmi sudah mulai bekerja hari ini. Minggu depan kita akan umumkan hasil-hasil yang dicapai," jelasnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM per 29 Agustus, baru ada lima pemegang KK dan 60 pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) yang telah menyetujui renegosiasi keseluruhan. Ada 27 KK dan 14 PKP2B yang baru menyetujui poin renegosiasi sebagian. Lima pemegang KK yang belum menyetujui renegosiasi. Namun sayangnya kementerian enggan mengungkapkan nama-nama perusahaan yang menolak renegosiasi tersebut.

Ditempat terpisah, Ketua Eksekutif Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS) Gunawan menilai, jika royalti emas dari Freeport berada di kisaran 3,75 %, serta dibayarkan sejak 2006 sampai 2010 maka mampu menyumbang APBN sebesar USD2,5 juta. Atau dengan kata lain, Indonesia mendapat masukan USD625 ribu per tahun. "Harusnya kan royalti emas itu sudah 3,75 % jika setelah dilakukan renegosiasi, tapi sampai saat ini masih sebesar satu %," ujarnya

Menurut Gunawanm, dalam hal ini bukan hanya Freeport yang melakukan perbuatan melawan hukum. Namun Menteri ESDM, Presiden, DPR juga menjadi tergugat. Menurut dia, mereka telah melakukan pelanggaran hukum nasional. "Kenapa masih ada problem terkait kemiskinan di Papua, persoalan lingkungan hidup, agraria, dan perburuhan itu juga permasalahan yang saat ini ada," jelasnya.

Lebih jauh kata Gunawan, di sisi lain royalti emas Freeport sebesar 3,75 %, akan sangat membantu bagi pemasukan negara. Sehingga APBN tidak akan mengalami defisit. "Kalau royalti dibayarkan sejak 2006 sampai 2010 saja itu akan mencapai USD2,5 juta jadi tidak perlu khawatir lagi APBN jebol," tambahnya.

Menurut Gunawan, yang bersinggungan erat dengan gugatan ini menyorot tentang pentingnya negara, utamanya pemerintah untuk menggenjot secara maksimal penerimaan negara dari sektor Sumber Daya Alam di dalam APBN 2013.

Dia menambahkan, pemerintah seharusnya mampu menggali dan menekan para pelaku usaha pengelolaan Sumber Daya Alam untuk membayar royalti-royalti sesuai dengan ketentuan PP Nomor 45/2003 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku di Kementerian ESDM sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 9 tahun 2012 demi sebesar-besar kemakmuran rakyat. **cahyo

BERITA TERKAIT

Kemenkes: Tender Obat HIV Dimulai Bulan Depan

Kementerian Kesehatan mengatakan tender obat-obatan antiretroviral (ARV) bagi pasien HIV akan dimulai kembali pada bulan depan. Cadangan obat pun disebut…

Nusa Raya Incar Kontrak Baru Rp 3,5 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) perusahaan jasa konstruksi swasta di Indonesia menargetkan kontrak baru…

Waskita Targetkan Kontrak Baru Rp 55 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menargetkan total kontrak baru sekitar Rp55 triliun,”Total kontrak baru…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Sawit

  NERACA   Kampar - Masyarkat Riau mayoritas berprofesi sebagai petani sawit yang nasibnya bergantung pada harga jual buah sawit.…

Tekankan Peningkatan Kesejahteraan Pasca Inhil Jadi Kluster Kelapa di Indonesia

  NERACA   Indragiri Hilir - Dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan turunan kelapa yang ada di Kabupaten Inhil, Bupati HM…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…