Rupiah Melemah Momentum Tekan Impor

Selasa, 04/09/2012

Di tengah ancaman melebarnya defisit transaksi berjalan Indonesia, pemerintah perlu serius menjaga permintaan dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor khususnya barang modal dan tetap mengupayakan peningkatan aliran modal asing masuk dalam bentuk investasi langsung (foreign direct investment).

Pasalnya, neraca perdagangan pada Juni 2012 mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah bagi perdagangan Indonesia sebagai dampak melemahnya permintaan China dan Eropa. Angka defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai US$ 1,32 miliar yang berasal dari kinerja impor sebesar US$ 16,69 miliar dan ekspor US$ 15,36 miliar pada periode tersebut .

Fakta mengungkapkan, kinerja ekspor pada Juni 2012 menurun 16,44% dibandingkan bulan yang sama pada 2011, sedangkan impor meningkat 10,71% dibandingkan tahun sebelumnya, yang turun 2,05% dibandingkan bulan sebelumnya. Pada semester I/2012, Indonesia mencatat defisit perdagangan dengan China, salah satu mitra dagang utama Indonesia, sebesar US$ 4,045 miliar yang diikuti oleh defisit perdagangan dengan Thailand dan Jepang masing-masing sebesar US$ 3,070 miliar dan US$ 3,057 miliar.

Akibat defisit perdagangan tersebut, defisit neraca transaksi berjalan juga melebar sebagai dampak pelemahan ekonomi global. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II/2012 mencapai US$ 6,9 miliar (3,1% dari PDB), lebih tinggi ketimbang kuartal I/2012 US$ 3,2 miliar atau 1,5% dari PDB (produk domestik bruto).

Padahal di sisi lain, Indonesia merupakan salah satu incaran favorit bagi investor global yang tercermin dari derasnya aliran modal masuk ke perekonomian terbesar di Asia Tenggara dengan melimpahnya kekayaan sumber daya alam dan meningkatnya penduduk kelas menengah.

Apalagi dalam lima tahun terakhir, angka rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6%, bahkan mengalami surplus neraca perdagangan seiring tingginya permintaan China dan India.Namun kita menyadari sejak awal 2012 kondisi neraca perdagangan merosot, dan hal ini diperburuk lagi dengan penurunan harga komoditas di pasar global.

Namun, di tengah memburuknya neraca transaksi berjalan, surplus neraca modal meningkat menjadi US$ 5,5 miliar (2,5% dari PDB) pada triwulan II/ 2012. Kombinasi defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan menyebabkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai 4,6% sejak awal 2012 hingga saat ini.

Kita melihat depresiasi rupiah menunjukkan yang paling dalam jika dibandingkan dengan mata uang lainnya di kawasan Asia Tenggara. Hal ini juga jadi penyebab cadangan devisa tergerus menjadi US$106,6 miliar atau setara untuk cadangan impor 6,4 bulan, dan pembayaran utang luar negeri, akibat intervensi yang dilakukan Bank Indonesia menjaga kestabilan kurs Rp/US$.

Tidak hanya itu. BPS mencatat mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% pada kuartal II/2012 itu dimotori oleh investasi yang meningkat sebesar 12,3% dari tahun sebelumnya. Nilai investasi tersebut menopang pertumbuhan nasional sebesar 32,8% pada periode yang sama, yang merupakan porsi dari investasi yang terbesar sejak krisis ekonomi global pada 2008. Ini juga mencerminkan arus pertumbuhan yang kuat dari investasi, yang terefleksikan kebijakan moneter yang akomodatif serta pertumbuhan kredit perbankan yang kuat sebesar 25,7% (yoy) pada Juni tahun ini.

Untuk menghadapi defisit neraca transaksi berjalan yang dapat mempengaruhi neraca pembayaran, pemerintah perlu segera merespon a.l. mengurangi laju impor barang modal, dan tetap mempertahankan BI Rate di level 5,75%, serta meningkatkan suku bunga Fasilitas Bank Indonesi (Fasbi) menjadi 4% demi menjaga likuiditas dalam negeri dan kestabilan nilai tukar rupiah. Semoga!