Suspensi Saham BUMI Dinilai Belum Perlu - Penurunan Saham Masih Wajar

NERACA

JAKARTA – Terus melorotnya harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memberikan sentimen negatif bagi harga saham lainnya dan banyak menimbulkan spekulasi yang berkembang. Namun manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai kondisi tersebut masih dinilai wajar dan belum perlu dilakukan suspensi.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, penurunan harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) lebih dipengaruhi oleh adanya faktor-faktor eksternal, “Penurunan harga saham BUMI karena kebetulan bersamaan dengan sentimen bursa saham regional dan global turun, harga batu bara turun, ditambah kinerja keuangan yang kurang baik. Jadi, harga sahamnya turun drastis akibat akumulasi sentimen-sentimen negatif,” katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Oleh sebab itu, Ito menilai penurunan harga saham yang BUMI masih dalam batas wajar dan bukan suatu hal yang tidak biasa. Bila memang terjadi penurunan harga yang sangat signifikan, BEI memiliki fitur penghentian perdagangan otomatis (autorejection) dalam sistem perdagangan, “Dari proses harga saham BUMI turun normal saja. Kita ada mekanisme autoreject kalau ada penurunan drastis, kalau berlangsung dalam reguler,”ungkapnya.

Sementara pengamat pasar modal David Cornelis mengatakan, penurunan saham BUMI terhadap indeks saham sudah tidak sesignifikan 2008 lalu. Tapi, sekarang, BUMI menjadi sentimen nagatif yang membuat saham-saham lain ikut melemah, “BUMI secara kapitalisasi relatif tidak pengaruh dalam menekan IHSG seperti halnya di 2008, hanya sentimen negatifnya saja yang menyebar ke saham-saham lain,”ungkapnya.

Asal tahu saja, penutupan perdagangan akhir pekan lalu 30 Agustus, harga saham BUMI turun ke Rp630. Sementara, pada 8 Agustus lalu, saham BUMI masih berada di harga Rp1.140 per saham. Tapi semakin melemah tiap hari. Pada 15 Agustus, saham ini sudah berada di bawah Rp1.000, yakni Rp960.

Sejak keluarnya isu 'bangkrut' ini, harga saham BUMI terus melorot. Pada Senin 27 Agustus, harga saham BUMI ini ditutup melemah Rp50 ke Rp890. Lalu pada Selasa 28 Agustus kembali melemah Rp130 ke Rp760. Serta pada Rabu 29 Agustus, saham ini turun lagi Rp90 ke Rp670.

Sebelumnya, performa keuangan semester I-2012 BUMI sangat buruk dan solvabilitas sangat lemah. Bahkan, berdasarkan metode altman score, terlihat bahwa koefisien Z BUMI sangat kecil yakni 0,0982 saja. Maka dapat disimpulkan bahwa BUMI saat ini berada dalam zona tidak aman atau menuju kebangkrutan finansial. (bani)

BERITA TERKAIT

Penurunan Harga Batu Bara Pengaruhi Kinerja Ekspor Sumsel

Penurunan Harga Batu Bara Pengaruhi Kinerja Ekspor Sumsel NERACA Palembang - Tren penurunan harga batu bara di pasaran internasional sejak…

Pabrik di Pati Dilalap Api - Garudafood Belum Taksir Nilai Kerugian

NERACA Jakarta – Musibah kebakaran yang terjadi di area gudang bahan kemasan PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) di…

Investor Tidak Perlu Khawatirkan Situasi Politik

NERACA Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengimbau investor dan dunia usaha di Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan situasi politik saat…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…