Agro Forestry Jadi Model Pengembangan Pangan

Agro Forestry Jadi Model Pengembangan Pangan

Jakarta—Pengembangan Argo Forestry di Pulau Jawa bisa dijadikan model guna memenuhi kebutuhan pangan. Bahkan sekaligus melestarikan alam, karena bisa menghutankan kembali. Pengembangan ini telah dijadikan model lembaga PBB FAO."Model pengembangan ini menunjukkan Indonesia berhasil mengoptimalkan kawasan hutan, untuk memenuhi berbagai kebutuhan termasuk pangan," kata Menhut Zulkifli Hasan saat membuka Indogreen Forestry Expo 2011 dan Pencanangan Tahun Internasional Kehutanan 2011 PBB, di JCC, Kamis (14/4) siang.

Makanya, kata Zulkifli, Kemenhut serius mengoptimalkan kawasan hutan yang sudah dicadangkan beberapa tahun lalu. Tanpa harus membuka hutan-hutan baru. “Optimalisasi itu bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat di sekitar hutan (kebijakan pro poor), serta berbagai kepentingan lain seperti edukasi dan rekreasi yang tetap dalam kerangka pelestarian lingkungan hidup,”tambahnya.

Berkaitan dengan berbagai potensi tersebut, Menhut berharap pengusaha hutan bisa menciptakan kemakmuran bersama masyarakat di sekitar hutan. "Apapun kiprah bisnisnya, tetap kami usung slogan banyak tanam banyak rejeki," kata pria asal Lampung tersebut.

Lebih jauh kata mantan Sekjen PAN ini, juga meminta para pemegang konsesi di kawasan hutan diminta fokus pada peningkatan nilai tambah hutan untuk masyarakat. Apalagi pada 2011 dicanangkan sebagai Tahun Hutan Internasional. “Hutan memiliki nilai tambah yang digali untuk kesejahteraan. Karena itu harus dioptimalkan nilai tambah kehutanan tradisional demi kesejahteraan rakyat,” paparnya.

Menurut Zulkifli, perubahan kehutanan sangat dinamis sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Maka masyarakat seharusnya mendapat keuntungan dari pengelolaan hutan. “Kita jadikan hutan sumber nutrisi dan pangan untuk rakyat sekaligus memperkuat pengelolaan hutan secara berkelanjutan atau sustainable forest management,” jelasnya.

Seperti diketahui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 2011 sebagai Tahun Hutan Internasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya hutan bagi kehidupan di Bumi. Penetapan Tahun Hutan Internasional ini dimulai sejak 24 Januari 2011 dalam sebuah Forum PBB di New York. Dengan mengusung tema ‘Konsep Gaya Hidup yang Hijau Menuju Indonesia Hijau’, IndoGreen Forestry Expo diharapkan menhut bisa menjadi ajang sosialisasi dan promosi berbagai hasil produk, teknologi, industri, dan jasa yang terkait dengan sektor kehutanan.

Pameran yang digelar untuk ketiga kalinya ini diikuti oleh Kementerian Kehutanan, Pemerintah Daerah, swasta dan BUMN sektor kehutanan/perkebunan, badan riset dan pengembangan hasil hutan, institusi pendanaan, dan lembaga penelitian. Sebagai bentuk dukungan, PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) yang turut berpartisipasi dalam pameran itu berkepentingan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya hutan bagi keberlangsungan bumi, kata Direktur Utama RAPP, Kusnan Rahmin.

Kusnan menyatakan, “Industri pulp dan kertas merupakan industri yang membutuhkan pengelolaan hutan yang lestari dan keberlanjutan. Karenanya, penting bagi kami untuk berbagi pengelolaan terbaik (best practices) serta menjadi bagian dalam menjaga kehidupan hutan agar tetap seimbang dan selalu merujuk pada 3 landasan bisnis yaitu Planet, people dan profit,”pungkasnya. **cahyo

Related posts