BPMigas Minta Infrastruktur Pipa Penyaluran Gas Diwujudkan - Sanggup Penuhi Kebutuhan Domestik

NERACA

Jakarta - Pemerintah harus bisa menjamin suplai gas bagi industri yang kesulitan energi dan jangan sekadar omongan belaka. Kepastian berapa besaran suplai gas yang akan diterima industri adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar.

Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMigas) menyatakan telah memenuhi semua kebutuhan pasokan gas untuk domestik, khususnya pemenuhan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG). Namun, keterbatasan terminal penerima (receiving terminal) yang hanya terdapat di lepas pantai utara Jakarta membuat produksi LNG tidak mampu diserap.

Kepala Dinas Hubungan Kemasyarakatan dan Kelembagaan BP Migas, A. Rinto Pudyantoro mencontohkan, kebutuhan LNG domestik tahun ini yang sudah terpenuhi adalah PT Pupuk Iskandar Muda sebanyak 8 kargo. Bahkan, pasokan gas untuk pabrik pupuk ini telah dapat diamankan hingga 2014.

Sementara itu, untuk pasokan ke PT Nusantara Regas yang mengelola Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Teluk Jakarta, BPMigas telah mengalokasikan LNG 27 kargo pada tahun ini, tapi kenyataannya pihak Nusantara Regas ternyata hanya mampu menyerap 14 kargo.

"Kami terpaksa mengirim ke pasar spot internasional (ekspor) untuk menghindari potensi kehilangan yang lebih besar. Karena tugas kami sebesar-besarnya memberikan pendapatan kepada negara,” jelas Rinto kepada Neraca pada acara Halal Bihalal bersama BPMigas di Jakarta, Rabu (29/8).

Secara keseluruhan, alokasi gas untuk domestik saat ini terus meningkat sejak 2003 yang hanya sebanyak 2,38 triliun kaki kubik, menjadi 20,52 triliun kaki kubik pada 2011. Peningkatan terbesar untuk alokasi industri dari hanya sebanyak 0,1 triliun kaki kubik pada 2003, menjadi 10,18 triliun kaki kubik pada 2011.

Ketiadaan Infrastruktur

Selanjutnya, alokasi untuk kelistrikan yang pada 2003 hanya sebanyak 1,18 triliun kaki kubik, saat ini telah mencapai 7,01 triliun kaki kubik. "BP Migas akan selalu memprioritaskan pasokan gas untuk pasar domestik. Tetapi, hal ini mustahil dilaksanakan tanpa adanya ketersediaan infrastruktur," ujar Rinto.

Akibat ketiadaan infrastruktur penerima gas ini, sejumlah LNG yang seharusnya sudah dialokasikan untuk pasokan domestik, terpaksa dijual ke pasar spot, karena jika dibiarkan berdampak pada penutupan sumur. "Jika sumur gas harus ditutup, akan mengganggu produksi gas secara keseluruhan. Bahkan menyebabkan matinya sumur gas," lanjutnya.

Saat ini, terdapat sejumlah proyek gas yang memiliki potensi produksi cukup besar. Namun, jika tidak ada infrastruktur yang disiapkan sesegera mungkin untuk dapat menerima gas, komitmen BPMigas memenuhi kebutuhan domestik menjadi terkendala, karena akan sulit untuk mengirimkan LNG tersebut ke pasar domestik.

"Apabila kami perhatikan, semua proyek tersebut berlokasi di wilayah timur Indonesia, beberapa malah jauh di tengah laut. Tanpa infrastruktur terminal regasifikasi dan pipa yang memadai, tidak mungkin gas dari proyek-proyek tersebut bisa dimanfaatkan oleh domestik. Karena bawa gas tidak seperti bawa minyak atau produk lain, perlu komponen tertentu," ujar Rinto.

Dia menjelaskan, pengembangan infastruktur gas dalam negeri memang tidak berjalan sesuai harapan. Misalnya, dari beberapa floating storage regasification unit (FSRU) yang direncanakan, baru satu yang sudah benar-benar beroperasi, yaitu FSRU Jawa Barat yang dioperasikan oleh PT Nusantara Regas. BPMigas juga berharap infrastruktur gas yang terkait dengan pemanfaatan gas untuk transportasi juga dapat segera diselesaikan.

Bangun FSRU

Sementara, dari sisi Pemerintah juga akan memastikan proyek FSRU Jawa Tengah akan dibangun oleh PT Pertamina (Persero) dengan investasi US$400 juta atau sekitar Rp3,8 triliun. "Kami putuskan untuk jadi melanjutkan pembangunan FSRU Jawa Tengah,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita H. Legowo.

Menurut dia, Pemerintah telah mengalokasikan gas FSRU Jawa Tengah dari kilang LNG Tangguh. Evita sedang menghitung berapa kebutuhan FSRU Jawa Tengah yang akan dipasok dari LNG Tangguh yang merupakan bagian dari pengalihan pengiriman gas untuk Sempra Energy, Amerika Serikat.

BERITA TERKAIT

Perpres No 191/2014 Tentang BBM Minta Direvisi

  NERACA Jakarta - Pengamat Energi yang juga Direktur Puskepi, Sofyano Zakaria mendesak Perpres No. 191/2014 tentang Penyedian, Pendistribusian dan…

Pemkot Palembang Minta Tambah Stok Blanko KTP

Pemkot Palembang Minta Tambah Stok Blanko KTP NERACA Palembang - Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, Sumatera Selatan, meminta Kementerian Dalam Negeri…

Warrior FCTC Minta Pemda Konsisten Tegakkan Perda KTR - Dukung Pekalongan Jadi Kota Layak Anak

Warrior FCTC Minta Pemda Konsisten Tegakkan Perda KTR Dukung Pekalongan Jadi Kota Layak Anak NERACA Jakarta - Kota Pekalongan menjadi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

Industri Transportasi - Revolusi Media Digital Untuk Layanan Kereta Api

NERACA Jakarta - Saat ini DKI Jakarta dan sekitarnya sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan transportasi umum di dalam…

Kemitraan Indonesia-Uni Eropa Didorong Lebih Seimbang

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong perundingan dari Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU CEPA)…