Ancaman Ketidakpastian Ekonomi

Ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian, terutama karena penyelesaian krisis ekonomi Eropa yang berlarut-larut, tampaknya akan menjadi perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kenegaraannya di DPR, hari ini (16/8). Sebelumnya IMF dalam laporannya tentang proyeksi ekonomi dunia saat ini diperkirakan akan tumbuh 3,3%.

Kita akan melihat ekonomi Eropa juga diperkirakan akan mengalami kontraksi 0,5% pada tahun ini. Demikian juga pertumbuhan ekonomi negara sedang berkembang Asia diperkirakan akan menurun 0,7% menjadi 7,3% dengan laju pertumbuhan ekonomi ASEAN-5 diperkirakan turun 0,4% (termasuk Indonesia). Artinya, krisis ekonomi Eropa akan makin memburuk dan ketidakpastian solusinya telah menyandera ekonomi dunia ke dalam ketidakpastian pada perekonomian dunia.

Memburuknya ekonomi dunia juga sudah berimbas ke negara-negara Asia yang selama ini tangguh. Bahkan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal 4 tahun 2011 turun menjadi 8,9%, padahal pada saat krisis ekonomi AS ekonominya masih tumbuh di atas 9% dan ekonomi India juga tumbuh 6,9% pada kuartal 3 tahun 2011 (biasanya di atas 7%). Data-data tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi global yang disebabkan ketidakpastian solusi krisis ekonomi Eropa, rendahnya pertumbuhan ekonomi AS, serta mulai kontraksinya ekonomi Jepang telah membuat ekonomi China dan India yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi Asia juga merosot.

Dampak krisis ekonomi global kini terasa di Indonesia di mana nilai ekspor terus menurun. Bahkan defisit transaksi perdagangan Indonesia hingga semester I/2012 mencapai US$6,9 miliar. 2011. Nilai ekspor nonmigas maupun migas pun turun. Pengusaha mulai merasakan berkurangnya ekspor sehingga mulai mengurangi karyawan ataupun jam kerja karyawan. Padahal dilihat dari ekspor tahunan selama periode 2011 masih tumbuh 29,05%.

Indonesia harus mulai mewaspadai dampak krisis ekonomi Eropa yang membawa pengaruh besar pada perekonomian global pada saat ini.Apalagi perkembangan internasional yang negatif tersebut sayangnya dibarengi dengan situasi domestik yang menimbulkan banyak ketidakpastian serta menghangatnya suasana sosial dan politik. Banyaknya berita negatif yang kita temui setiap hari serta banyaknya ketidakpastian mengenai berbagai kebijakan ekonomi domestik telah membuat suasana “tidak nyaman” bagi iklim bisnis dan investasi di Indonesia.

Apalagi The Financial Action Task Force memasukkan Indonesia sebagai negara yang dianggap tidak dapat memberantas money laundering.Tentu saja masuknya Indonesia dalam black list tersebut tidak menguntungkan. Persepsi internasional terhadap Indonesia jatuh meskipun Indonesia sudah masuk investment grade pada Desember 2011 oleh Fitch.

Kita tentu berharap RAPBN 2013 akan memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi, asalkan pemerintah harus berani mengurangi belanja rutinnya seperti tidak menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS). Yang patut dipertimbangkan secara hati-hati upaya pengurangan subsidi BBM dan kebijakan kenaikan biaya listrik jangan sampai membenani perekonomian rakyat yang menurun daya belinya.

Belum lagi hingar-bingar masalah korupsi dan menghangatnya suhu sosial politik akhir-akhir ini menimbulkan banyak ketidakpastian. Berbagai ketidakpastian domestik tersebut tentu saja memperburuk iklim investasi dan bisnis di Indonesia.

Semuanya jika dibiarkan berlarut-larut akan membuat memburuknya ekonomi Indonesia. Oleh karena itu kalangan otoritas ekonomi Indonesia, diharapkan bisa mengurangi ketidakpastian yang ada agar ekonomi Indonesia masih bisa bertahan dengan baik di tengah memburuknya ekonomi global belakangan ini.

BERITA TERKAIT

Ekonomi Digital Wujudkan Kemandirian Perekonomian Nasional

Oleh: Muhammad Razi Rahman Tahukah Anda istilah "Third Wave Economy" (Ekonomi Gelombang Ketiga)? Menurut futurolog AS, Alvin Toffler, dalam "Third…

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…

Harapan Ekonomi 2018 Tertuju pada Investasi

Oleh: Satyagraha Badan Pusat Statistik telah merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 sebesar 5,07 persen (yoy) atau merupakan yang…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Birokrasi Perizinan vs Kinerja Aparat

Proses percepatan perizinan berusaha dan berinvestasi di Indonesia tampaknya mudah diucapkan, namun sangat sulit diterapkan realisasinya di lapangan. Pasalnya, hingga…

Hapuskan PSO KRL!

Manajemen PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) berharap pemberian subsidi kewajiban pelayanan publik (public service obligation-PSO) untuk KRL Jabodetabek bisa dikurangi.…

Kontroversi SMI Award

Baru-baru ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) meraih Penghargaan “Menteri Terbaik” di Dunia (Best Minister in the World Award)…