Inflasi Agustus Diprediksi Naik 100 %

NERACA

Jakarta--Laju inflasi pada Agustus 2012 diperkirakan naik sekitar 100 % dari sebelumnya di kisaran 0,5 % menjadi sekitar satu terkait Ramadhan dan Idul Fitri. "Kenaikan inflasi pada bulan ini sangat signifikan karena memang sumbangan terbesar inflasi terjadi pada periode ini yaitu ketika Ramadhan dan menjelang Idul Fitri," kata Pengamat ekonomi Agus Eko Nugroho di Jakarta, Rabu.

Ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu menjelaskan pemerintah seharusnya bisa mengantisipasi lebih awal peningkatan inflasi tersebut dengan melakukan operasi pasar dan pelaksanaan ketat regulasi untuk menstabilkan harga.

Bahkan Agus mencontohkan penjualan tiket angkutan yang juga mendorong peningkatan inflasi. “Harus ada pelaksanaan secara ketat peraturan tarif tiket mudik yang menyumbang peningkatan inflasi, selain harga kebutuhan pangan," ujarnya

Lebih lanjut Agus menilai pemerintah seharusnya sudah memperkirakan kondisi inflasi tersebut karena terjadi secara rutin dari tahun ke tahun. "Kondisi seperti merupakan kondisi musiman sehingga setiap tahun pasti ada," ucapnya

Menurut Agu, kondisi musiman tersebut seharusnya dapat diantisipasi untuk menekan angka inflasi agar tidak terjadi peningkatan signifikan. "Berbeda dengan faktor alam, seperti kekeringan dan gelombang tinggi yang sulit diprediksi. Kondisi alam itu juga mempengaruhi mengingat sistem perdagangan kita antarpulau," tandasnya

Sementara itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan peningkatan konsumsi domestik dengan menjaga daya beli masyarakat harus terus diupayakan karena sektor ekspor yang terus mengalami pelemahan tidak lagi dapat diandalkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi pada kisaran 6%. "Inflasi harus kita kendalikan agar daya beli masyarakat tetap tinggi. Daya beli tinggi artinya pasar domestik tidak terganggu," ujarnya

Hatta mengakui konsumsi domestik merupakan kunci utama dalam mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi, karena mesin-mesin produksi yang tadinya terpakai untuk ekspor dapat terserap untuk rumah tangga dalam negeri dan bergerak secara produktif. "Itu berarti industrinya tidak mengalami penutupan atau PHK ketika ekspor kita mengalami pelemahan," ujarnya.

Selain itu dalam mengantisipasi pelemahan ekspor yang berpengaruh kepada pertumbuhan, Hatta meminta adanya pengendalian impor bahan baku bagi investor baru dalam industri manufaktur agar defisit neraca perdagangan tidak semakin melebar seperti yang terjadi dalam tiga bulan terakhir. "Jangan sampai investasi yang masuk ke Indonesia nanti, justru meningkatkan impor bahan baku. Pilihlah manufaktur yang membangun di Indonesia, menggunakan bahan baku dalam negeri," jelasnya

Diakui Hatta, pemerintah dalam menjaga angka pertumbuhan dan mendorong konsumsi serta mempertahankan ekspor juga telah berupaya mencari diversifikasi pasar ekspor. **bari/cahyo

BERITA TERKAIT

Neraca Keuangan Sektor Migas Diprediksi Surplus

      NERACA   Jakarta - Kontribusi sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) terutama migas dalam perekonomian nasional…

Total Emisi Obligasi Ditaksir Turun 13,04% - Imbas Suku Bunga Naik

NERACA Jakarta – Buntut dari kenaikan suku bunga sebagai reaksi meredam gejolak nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, memaksa beberapa…

Rupiah Belum Stabil, Utang Luar Negeri Naik 4,8%

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan utang luar negeri Indonesia mencapai US$358 miliar atau setara Rp5.191 triliun (kurs…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Naik Rp1,25 Triliun, Banggar Tetapkan Anggaran Subsidi Energi Rp157,79 Triliun

      NERACA   Jakarta - Rapat Panitia Kerja Badan Anggaran DPR menyetujui alokasi subsidi energi sebesar Rp157,79 triliun…

Operasi Pasar Beras Bulog Tak Diserap Maksimal

      NERACA   Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengakui bahwa beras yang digelontorkan melalui operasi…

Presiden Teken Perpres Defisit BPJS Kesehatan Ditutupi dari Cukai Rokok

      NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) mengenai penggunaan cukai…