Jelang Integrasi Logistik ASEAN, 25 Pelabuhan Perlu Direstorasi

NERACA

Jakarta - Sistem operasi logistik yang efektif, efisien adalah kunci sukses untuk menghadapi perekonomian global. Apalagi dalam perdagangan yang kompetitif, keberhasilan dalam perdagangan global dapat tercapai bila sebuah perusahaan dan atau negara memiliki kemampuan untuk bergerak melewat lintas batas dengan cepat, andal, dan murah.

Wakil Ketua Komite Tetap Intermoda dan Logistik, Anwar Satta mengatakan, untuk mengantisipasi liberalisasi dan dan integrasi logistik ASEAN, pemerintah harus segera melakukan pembenahan dan penambahan infrastruktur. Pasalnya, infrastruktur yang ada saat ini masih rendah dan belum cukup mampu menghadapi aktivitas logistik yang cukup tinggi di pelabuhan.

Hal itulah yang menyebabkan membengkaknya biaya logistik nasional. “Kendala infrastruktur ini yang menyebabkan mahalnya biaya logistik sehingga komoditi ekspor masih sulit bersaing di pasar global,” kata Anwar di Jakarta, Selasa.

Dia menjelaskan, ada sebanyak 25 pelabuhan nasional yang perlu direstorasi dan pengoptimalan pelayanan, tidak hanya terfokus pada empat pelabuhan utama yang menangani ekspor-impor, yaitu pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, dan Medan. Pelabuhan-pelabuhan tersebut, menurut dia juga perlu bekerja ekstra guna menghadapi liberalisasi dan integrasi logistic ASEAN, yaitu dengan pengoptimalan pelayanan selama 24 jam selama 7 hari.

Selain pembenahan dan penambahan infrastruktur, Anwar mengatakan, perlu diperhatikan pula sirkulasi barang dari sejak kapal sandar di dermaga hingga keluar pintu pelabuhan (dwelling time) di sejumlah pelabuhan Indonesia. Karena saat ini dwelling time di pelabuhan di Indonesia, untuk pengurusan administratif, bea cukai bisa sampai 6 hari.

Padahal untuk bisa bersaing di dalam ekonomi global, khususnya menghadapi liberalisasi dan integrasi jasa logistik ASEAN di 2013, diperlukan percepatan pelayanan. Itulah sebabnya, dia menyarankan agar dwelling time bisa diperpendek sekitar 3-4 hari.

Dengan pembenahan infrastruktur dan efisiensi waktu tersebut, ia mengatakan dapat memangkas biaya logistik sebesar 10% dari sebelumnya yang mencapai 17-18%. Meskipun demikian, dia mengatakan, sejak tahun 2005-2012, terjadi perkembangan yang cukup baik pada lalu lintas pelabuhan. Saat ini indeks pengukuran kinerja logistik di pelabuhan yang dilansir oleh World Bank menunjukkan logistik Indonesia saat ini berada pada peringkat 59 dari sebelumnya, yang ada di peringkat 79.

Diharapkan dengan penataan pelabuhan semacam ini, logistik Indonesia bisa berkembang dengan baik dan mendukung keberhasilan pengimplementasian Sistem Logistik Nasional (SISLOGNAS).

BERITA TERKAIT

JELANG JACOWEEK 2018

kiri ke kanan. GM ABCD School of Coffee Willyanto, Counsellor Public Diplomacy Kedubes Australian Jakarta Nicholas Kittel, SVP Consumer Deposits…

Bank Perlu Diarahkan Pembiayaan Pangan Berkelanjutan

    NERACA   Jakarta - Perbankan di Indonesia perlu didorong memahami pentingnya penyaluran pembiayaan untuk pembangunan berkelanjutan karena bermanfaat…

DPR Minta Percepat Bantuan Bagi Petani - Jelang Tahun Politik

    NERACA   Jakarta - Sebagai mitra kerja Kementerian Pertanian (Kementan), Komisi IV DPR RI dalam Rapat Kerja agenda…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

DHL Express Indonesia Bangun Fasilitas Baru di Pulogadung

NERACA Jakarta – DHL Express, penyedia layanan ekspres internasional terkemuka di dunia, hari ini secara resmi meluncurkan fasilitas baru di…

Revolusi Industri 4.0 Buka Peluang Dongkrak Keterampilan SDM

NERACA Jakarta – Era revolusi industri 4.0 membuka kesempatan bagi sumber daya manusia (SDM) di sektor manufaktur untuk memiliki keahlian…

RI dan Korsel Berkolaborasi Untuk Sukseskan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian RI dan Dewan Riset Nasional untuk Ekonomi, Kemanusiaan, dan Ilmu Sosial atau National Research Council…