Mempersiapkan Keuangan Menjelang Mudik

NERACA

Idul Fitri adalah momen yang paling ditunggu para umat muslim di seluruh dunia untuk merayakan hari kemenangan setelah satu bulan berpuasa. Tak heran jika mendekati hari raya, banyak orang baik muslim maupun non muslim yang rela berjejal-jejal dalam kendaraan umum agar bisa pulang kampung.

Namun, akibat tidak bisa bijak mengatur keuangan jelang Idul Fitri, tak sedikit yang pada akhirnya terlilit hutang dalam jumlah yang besar. Akhirnya, bukan berkah yang ia dapat, tapi musibah yang ia raih.

Dengan melihat daftar pengeluaran Idul Fitri tahun yang lalu, kita memiliki batasan yang jelas barang-barang apa saja yang mesti kita beli. Cobalah untuk tertib membuat catatan pengeluaran Ramadhan dan Idul Fitri setiap tahunnya agar kita bisa mengevaluasi keuangan kita dengan bijak.

Nilailah secara objektif barang yang akan kita beli. Cobalah bedakan kedalam dua kategori, yaitu kebutuhan dan keinginan. Tuliskan, apakah barang yang akan kita beli tersebut adalah barang yang memang kita butuhkan atau memang hanya keinginan semata.

Jangan lupa cantumkan nominal harga barangnya. Dengan teliti dan menuliskannya seperti ini, kita bisa lebih mudah untuk memangkas barang-barang yang dirasa tidak penting untuk kita beli. Sehingga uang yang kita miliki bisa dialokasikan untuk barang-barang yang memang sangat kita butuhkan.

Karena kesibukan yang padat, akhirnya memaksa kita untuk menggunakan jasa catering dalam membuatkan masakan khas lebaran. Memang, mendekati hari raya, jasa catering makanan banyak betebaran seperti jamur di musim penghujan.

Sayangnya, karena momen yang istimewa, jasa catering bisa melonjak sangat mahal. Jadi, agar kita bisa bijak dan berhemat keuangan lebaran kita, alangkah baiknya kita memilih untuk masak sendiri di rumah.

Jika belum pandai memasak, maka momen inilah untuk kita belajar memasak. Coba gunakan buku panduan memasak atau kumpulan-kumpulan resep agar memudahkan pekerjaan memasak kita.

Tradisi pulang kampung memang sudah sangat mengakar bagi para perantau. Serasa ada yang kurang jika tiap lebaran tidak bersilaturahim ke keluarga besar.

Namun, jika setiap tahun kita memilih pulang kampung, tentu saja keuangan kita akan bobol, apalagi alokasi keuangan kita tidak hanya dianggarkan untuk pulang kampung saja, namun ada biaya untuk pendidikan anak, keperluan dapur dan lain-lain.

Apalagi jelang hari-hari lebaran harga tiket melonjak sangat tajam. Bijaknya, tidak perlu setiap tahun kita pulang kampung. Untuk meluapkan rasa rindu pada sanak keluarga, kita bisa gunakan sarana teknologi semacam video call, telpon, sms dan sejenisnya. Dan jika memang menginginkan pulang kampung, coba pilih hari-hari biasa agar budget keuangan kita tidak berat di ongkos.

Merayakan hari yang fitri tak selamanya harus dengan baju baru. Kerap kita tidak bijak menggunakan uang dengan membeli pakaian yang sangat mahal. Apalagi, kebudayaan muslim Indonesia itu tak afdhal rasanya jika di hari lebaran hanya memiliki satu stel baju saja.

Maka tak heran jika pakaian lebarannya berstel-stel banyaknya untuk hari raya saja. Jelas, perilaku tersebut merupakan pemborosan. Agar kita bisa lebih bijak menggunakan uang, cobalah padu padankan pakaian lebaran kita tahun-tahun yang lalu. Jika kita cerdas memadu-padankan pakaian kita, aura fresh di hari raya akan terasa sekali.

Setiap tahunnya di hari raya, ada budaya berbagi THR atau Tunjangan Hari Raya. THR ini bermacam-macam bentuknya, ada yang berbentuk uang ataupun sembako dan pakaian.

Mirisnya, banyak yang ketika mendapat THR, seakan-akan menjadi lebih boros dalam menghamburkan uang THR dan barang-barang sembako. Agar tidak boros, coba sisihkan uang THR kita untuk ditabung di bank. Sisihkan juga sembako THR untuk keperluan setelah lebaran.

Ketika bersilaturahim pada keluarga besar, budaya membagi-bagikan uang pada saudara merupakan hal yang tak pernah luntur saat lebaran. Terkadang jika kita tidak menyiapkan uang kecil untuk angpao, kita jadi harus mengeluarkan uang. Yang nominalnya lebih besar. Padahal, masih banyak saudara yang belum kita beri angpao. Jadi, alangkah bijaknya, sebelum bersilaturahim kita sudah mengalokaasikan uang kecil untuk diberikan pada saudara, tetangga atau kerabat kita. Selamat berhari raya.

BERITA TERKAIT

Ancaman Serangan Siber ke Industri Keuangan Meningkat

    NERACA   Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengingatkan ancaman serangan siber terhadap sistem…

70% Masyarakat Cari Informasi Keuangan Lewat Internet

  NERACA   Jakarta - Google merilis hasil riset terbaru tentang industri keuangan Indonesia dan cara nasabah mencari dan memilih…

Upaya Menyiapkan Generasi Melek Keuangan - FWD Life Olympic 2017 Digelar

NERACA Jakarta - Mempersiapkan generasi muda yang memliki pemahaman keuangan yang memadai merupakan hal penting untuk menciptakan sumber daya manusia…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…