Industri Busana Muslim Ketergantungan Bahan Baku Impor

NERACA

Jakarta - Industri busana muslim dalam negeri masih ketergantungan bahan baku katun yang di impor dari China. Data Kementerian Perindustrian menyebutkan, saat ini 50% bahan baku untuk busana muslim masih diimpor dan aksesoris penunjangnya masih 90% impor.

Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Euis Saedah, menuturkan impor bahan baku dari China ke Indonesia hanya sekitar 1% dibandingkan dengan seluruh ekspor bahan baku tekstil mereka ke berbagai dunia. “Impor bahan baku membuat biaya produksi semakin meningkat. Akibatnya, produk busana muslim dari dalam negeri kurang mampu bersaing dengan produk impor,” ujarnya pada acara pembukaan pameran produk busana muslim di Jakarta, Selasa (31/7).

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan, produk tekstil impor dari China tetap membuat produsen lokal kelabakan. Pasalnya, kapasitas produksi tekstil dalam negeri tidak mampu menyaingi produk impor dari Negeri Tembok Raksasa itu karena industri tekstil lokal masih terkendala pasokan gas dan listrik. “Serbuan tekstil impor akan makin kuat ke dalam negeri. Beberapa produsen di dalam negeri juga membutuhkan bahan baku dari China,” katanya.

Ade menambahkan, surplus neraca perdagangan di sektor tekstil yang rata-rata sebesar US$5 miliar per tahun bisa berkurang menjadi tinggal US$2 miliar. “Produk impor masuk karena ada permintaan yang meningkat di dalam negeri, sedangkan pangsa pasar produsen di dalam negeri tidak bisa bersaing dengan produk dari China,” tandasnya.

API optimistis ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada semester II/2012 naik hingga 8% dengan dominasi produk high end. Ade juga mengatakan kenaikan ekspor tadi akan menutupi perlambatan ekspor pada semester I/2012. Pada 6 bulan awal tahun ini ekspor melambat menjadi hanya 5%. “Proyeksi tumbuhnya ekspor pada semester II/2012 akan mendongkrak pertumbuhan kinerja sektor ini hingga mencapai rata-rata 3% pada 2012,” katanya.

Pertumbuhan ekspor, lanjutnya, akan terus didominasi oleh produk mahal, seperti pakaian tebal untuk musim dingin. Sementara pada produk low end masih akan stagnan. Sebagaimana diketahui, industri padat karya ini tumbuh 8% pada 2011.

Kebutuhan Domestik

Optimisme pertumbuhan ekspor pada semester IIi, lanjut Ade, antara lain didorong oleh semakin tingginya komitmen produsen untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan kuota ekspor. Selain itu, tuturnya, hambatan klasik seperti aksi unjuk rasa buruh juga diprediksi sudah berakhir dengan tercapainya sejumlah kesepakatan.

Pada awal tahun hingga perayaan Lebaran industri TPT tercatat semakin terpuruk, karena menghadapi gempuran impor produk China dengan indikator lonjakan sebesar 50% dibandingkan periode Lebaran tahun lalu. “Lonjakan itu berlangsung selama 3 bulan menjelang Ramadan dan Lebaran,” jelasnya.

Kondisi tumbuhnya tingkat konsumsi masyarakat Indonesia, lanjut Ade, justru dimanfaatkan importir untuk mendatangkan barang sebanyak-banyaknya dari luar negeri dengan kualitas yang lebih baik dan harga bersaing. Menjelang Lebaran, katanya, Indonesia kedatangan produk impor dari China sebayak 10% hingga 15%. Namun, karena ada sejumlah perusahaan yang berbasis di China yang mengalami kesulitan likuiditas, mereka akan menggenjot ekspor ke Indonesia.

BERITA TERKAIT

Sriwahana Ekspansi di Bisnis Paper Mill - Hadapi Kendala Bahan Baku

NERACA Jakarta – Mensiasati kendala keterbatasan bahan baru produksi, khususnya kertas sebagai bisnisnya. PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT) bakal melakukan…

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun - Dukung Industri 4.0

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…