Impian Mobil Listrik

Selasa, 31/07/2012

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Era mobil listrik Indonesia segera tiba, kalimat itulah yang selalu di suarakan Menteri Negara (BUMN) Dahlan Iskan pasca melakukan uji coba mobil listrik dari Depok sampai gedung BPPT dengan jarak 50 kilo meter. Uji coba mobil listrik ini terbilang sukses, kendati sempat mogok lantaran masalah teknis. Kehadiran mobil listrik menjadi impian bangsa ini ditengah gempuran mobil buatan Jepang, Korea dan China yang menguasai pasar industri otomotif dalam negeri.

Oleh karena itu, pemerintah mempunyai komitmen akan mengembangkan mobil listrik menjadi mobil nasional (Mobnas). Dimana tahun 2014, mobil listrik ini nantinya akan di produksi sebanyak 10 ribu unit. Kesuksesan mobil listrik yang dibuat alumnus ITB Dasep Ahmadi ini menjadi deretan panjang setelah LIPI juga memproduksi kendaraan listrik bus dan juga berbagai macam kendaraan city car.

Gagasan mobil listrik menjadi Mobnas, juga dibuktikan pemerintah dengan rencana membentuk Pusat Pengembangan Teknologi dan Industri Otomotif. Pusat ini akan melibatkan Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, dan BUMN. Lalu, Pemerintah akan menyelesaikan semua peraturan pemerintah yang terkait dengan insentif dan disinsentif.

Bukan kali ini saja pemerintah selalu sesumbar untuk mendukung mobil nasional yang merupakan hasil karya cipta anak bangsa. Sebelumnya, ada mobil Timor, Tawon, Komodo dan yang teranyar Esemka (SMK) hasil kreasi anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan di Solo, Jawa Tengah, yang dipopulerkan Wali Kota Solo Joko Widodo. Ironisnya, kehadiran mobil-mobil buatan anak bangsa ini kandas di tengah jalan lantaran dukungan pemerintah masih setengah hati.

Maka tak ayal, usulan mobil listrik menjadi Mobnas juga masih menyimpan keraguan bakal sukses sebagai program mobil nasional yang benar-benar dipatenkan. Alasannya, dibalik banyaknya dukungan ada pula penolakan yang kebanyakan disuarakan para agen pemegang merek tunggal (ATPM) karena keterbatasan komponen lokal hingga persoalan purna jual.

Intinya, keberatan mereka bertujuan agar proyek mobil listrik ini gagal karena bisa mengancam pasar penjualan mereka. Memang impian mobil listrik menjadi mobil nasional butuh proses pajang dan perlu komitmen dukungan penuh pemerintah dan bukan lips service. Karena sudah rahasia umum, setiap kebijakan yang diambil pemerintah akan berubah seiring dengan pemerintahan yang baru.

Alhasil bila sudah demikian, soal mobil listrik menjadi Mobnas hanya menjadi impian di siang bolong dan bukan menjadi kenyataan, sebagaimana keberhasilan India dan Cina mampu memproduksi mobil sendiri.

Seandainya mobil listrik menjadi mobil nasional dan bisa dipasarkan secara massal, dipastikan seburuk apapun hasilnya, masyarakat Indonesia akan mengapresiasi karena ada suatu kebanggan bisa memiliki hasil karya anak negeri dan tentunya memberikan nilai positif bagi sisi perekonomian.