Eksportir Kopi Kepincut Garap Pasar Lokal

Konsumsi Domestik Terus Meningkat

Selasa, 31/07/2012

NERACA

Jakarta - Konsumsi kopi dalam negeri cenderung terus naik 6%-8% per tahun. Hal ini disebabkan tren minum kopi murni di kafe terus berkembang, sehingga konsumsi kopi di Indonesia melonjak luar biasa.

Menurut Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Mulyono Soesilo, konsumsi dalam negeri tahun lalu 3 juta-3,5 juta karung. Saat ini minimal konsumsi diprediksi akan mencapai 3,5 juta-4 juta karung atau setara 240.000 ton-270.000 ton. Padahal dalam kondisi normal produksi kopi robusta di Indonesia mencapai 450.000 ton, dan arabika 90.000 ton. "Eksportir kopi semakin terjepit karena konsumsi dalam negeri yang cukup besar sekitar 270.000 ton. Sementara konsumsi kopi robusta mencapai 230.000 ton," papar di Jakarta, Senin.

Karena itu, saat ini eksportir kopi fokus menggarap pasar lokal. Sebab, pasar dalam negeri dinilai lebih menguntungkan dari pasar luar negeri. Harga kopi dalam negeri lebih mahal 20%-30% dari harga ekspor. Meski begitu, harga di luar negeri saat ini jauh lebih baik dari Januari 2012 yakni 2.040 dolar AS per ton. Sementara harga kopi dalam negeri US$ 2.250 juta per ton. "Mau tidak mau eksportir harus wait and see dulu melihat perkembangan pasar. Tapi selain itu kita juga ingin modifikasi komoditas kopi yang akan diekspor seperti produksi kopi goreng," katanya.

Road Map Kopi

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian, Benny Wachyudi mengungkapkan sedang menyusun road map untuk program hilirisasi industri kopi nasional dan pengembangan specialty coffee, yang menjadi bagian dari program tersebut.

“Kemenperin sedang meng-update sejumlah kondisi yang dialami sektor kopi. Programnya menyeluruh mulai dari hulu yakni peningkatan produksi petani hingga ke hilir, termasuk memperhitungkan aspek perdagangannya,” katanya.

Benny menyatakan industri hilir kopi di dalam negeri menunjukkan pertumbuhan potensial, meskipun sporadis dan tidak dalam magnitude besar. “Investasi di sektor kopi itu agak berbeda. Karena berupa consumer goods, ekspansinya bergantung pada pasar atau market driven,” ujarnya.

Sedangkan Brand Marketing Manager Top Kopi, selaku anak perusahaan PT Harum Alam Segar (Wingsfood), mengatakan potensi pasar kopi serbuk instan sangat besar sejalan dengan jumlah peminum kopi di Indonesia.

“Untuk membantu program hilirisasi industri kopi, PT Harum Alam Segar (Wings Food) tergerak untuk menjajal pasar kopi di dalam negeri. Dengan mengusung merek dagang Top Kopi, Wings Food menjadi anak baru di persaingan segmen kopi,” katanya.

Jessica menuturkan, Wings Food menghabiskan waktu selama dua tahun untuk menyiapkan produk ini. Persiapannya sendiri berupa proyeksi pasar, persiapan promosi, terutama komposisi. “Kami membutuhkan waktu persiapan yang lama karena tidak ingin mengecewakan konsumen di mana nama Wings Food telah memiliki nama yang baik di mata konsumen. Persiapan terlama dibutuhkan untuk menciptakan komposisi yang merupakan campuran dari kopi robusta dan Arabica. Dan inilah produk kopi instan pertama di Indonesia yang merupakan hasil 'blending' dari kedua jenis kopi tersebut,” paparnya.