Bank Asing Rambah UMKM

Jumat, 27/07/2012

Jika kita mencermati keberadaan bank asing di Indonesia saat ini, kini sudah sampai ke pelosok kecamatan untuk menjaring nasabah khususnya usaha mikro, kecil dan menengah. Dua bank asing yang gencar beroperasi antara lain Standard Chartered Bank (Stanchart) dan HSBC Bank.

Stanchart misalnya, kini sudah membuka 26 kantor cabang di delapan kota, termasuk tujuh pusat layanan usaha kecil menengah (UKM) dan dua layanan baru, yaitu Business Plus dan Business Essentials. Hingga Juni 2012 Standard Chartered Bank telah menyalurkan kredit UKM senilai Rp 2,4 triliun atau tumbuh 33% dari posisi Desember 2011.

HSBC juga tak ketinggalan membuka layanan semacam unit bisnis kecil di pasar-pasar untuk menyalurkan kredit mikro bagi para pedagang eceran. Bahkan DBS (Development Bank of Singapore) yang akan berkolaborasi dengan Bank Danamon, saat ini sudah mempunyai 40 kantor cabang dan 11 kantor cabang pembantu yang tersebar di Indonesia.

Bank asing tertarik memberikan pembiayaan di sektor usaha UMKM, karena peran UMKM dalam pekenomomian Indonesia cukup besar dan sudah terbukti tahan uji menghadapi krisis, baik pada 1998 maupun saat krisis global 2008.

Data BI menyebutkan, porsi kredit UMKM hingga akhir April 2012 tercatat 20,65% dari total kedit perbankan nasional. Angka tersebut turun dari 21,80% pada April 2011. Sementara itu, menurut data Kemenkop UMKM tahun 2011, kontribusi koperasi dan UMKM terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) nasional mencapai 56,5%, dan menyerap tenaga kerja mencapai 66,74%.

Dari gambaran tersebut, tidak mengherankan jika saat ini semua bank berlomba-lomba meraup keuntungan dari pasar UMKM, mulai dari bank persero, bank swasta nasional, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), bank campuran, hingga bank asing. Alasannya, yakni sektor UMKM punya pasar menguntungkan dan memiliki peluang cukup besar.

Meski terlihat kecil, keberadaan bank asing dalam kredit UMKM tetap menarik dicermati. Selama ini bank-bank asing lebih asyik bermain dan menikmati sektor kredit konsumtif yang memiliki keuntungan dan pangsa pasar cukup besar. Namun, seiring berjalannya waktu, bank-bank asing kini mulai membidik peluang lain yang ada. Dengan potensi UMKM yang sangat besar di Indonesia, bukan tak mungkin bank-bank asing akan lebih agresif lagi.

Bank asing yang memiliki kelebihan antara lain modal yang cukup besar dan teknologi yang cukup canggih, serta proses pencairan kredit biasanya cukup singkat sehingga memudahkan

nasabah UMKM untuk bisa mengakses permodalan dari bank. Dalam waktu tidak lebih dari 3 hari, proses kredit mikro sudah dapat diputuskan apakah terus dilanjutkan atau tidak.

Kekurangan bank asing hanyalah dalam hal penyebaran kantor yang masih terpusat di kota-kota besar dan jumlah kantor cabang yang tidak banyak. Untuk itu, latar belakang DBS menggandeng Danamon adalah tidak lain untuk menguasai ceruk pasar UMKM di negeri ini.

Karena itu, perbankan nasional jangan terlena melihat “serbuan” bank asing ini. Jangan sampai bank-bank lokal baru bangkit justru setelah ceruk pasar mulai dikuasai oleh bank asing. Keberadaan bank asing saat ini harus dijadikan cambuk bagi bank lokal untuk terus bangkit dan lebih gencar lagi dalam penyaluran kredit UMKM.

Dari sisi nasabah, keberadaan bank asing dalam ceruk kredit UMKM justeru akan lebih menguntungkan, karena dengan semakin banyak bank yang memberikan kredit UMKM maka akan semakin banyak pilihan bagi nasabah UMKM untuk menentukan kepada bank mana dia akan meminta kredit bersuku bunga rendah..