Persaingan Bisnis AC Semakin Ketat

Vendor Terus Lakukan Inovasi

Sabtu, 21/07/2012

Persaingan Pasar AC inverter di Indonesia terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Terbukti para vendor terus melakukan inovasi-inovasi baru agar AC yang diproduksinya bisa menjadi pilihan masyarakat.

NERACA

Teknologi yang paling dipromosikan adalah ramah lingkungan dan juga hemat energi. Teknologi pendingin ruangan atau air conditioner (AC) makin berkembang.

Menurut Chairman Daikin Air Conditioner Indonesia, Urip Sugiono hal itu dilakukan dengan membenamkan teknologi inverter pada AC. Sejumlah pabrikan, seperti Sharp, LG, Panasonic, Daikin, dan beberapa lainnya, sudah memproduksi AC inverter. Dan terbukti penerimaan pasar di Indonesia cukup bagus. Buktinya, pasar yang terus membesar.

Dari sisi harga, AC inverter memang lebih mahal dibandingkan dengan AC biasa. Ini karena software dan hardware yang digunakan lebih mahal. Tapi dari sisi konsumsi energi, AC inverter lebih irit dibandingkan dengan yang biasa. Bahkan ada pabrikan yang mengklaim produk AC inverternya bisa menghemat listrik hingga 50%.

Sharp

PT Sharp Electronis Indonesia juga meluncurkan AC Inverter terbarunya, yaitu seri AHx 10 LLY dan AHx 13 LLY. Dua produk terbaru ini diklaim mampu menghemat listrik hingga 50%.

Asisten GM Marketing Home Appliance Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo mengatakan, inverter sebetulnya teknologi yang sudah cukup lama. Namun yang kini diterapkan telah mengalami beberapa penyempurnaan. Antara lain pada kompresor dan sistem kelistrikannya.

"Penyempurnaan teknologi inverter ini membuatnya lebih hemat energi. Produk AC Sharp bisa menghemat energi hingga 50 persen," ujarnya. Selain hemat energi, lanjut Andry, AC inverter Sharp juga memiliki kelebihan lain yaitu menggunakan ion plasma cluster. Ion ini mampu membunuh berbagai jenis bakteri dan jamur, serta melumpuhkan virus. Antara lain virus influensa dan flu babi (H5N1).

Berbagai kelebihan tersebut AC inverter Sharp ditawarkan seharga Rp 4 juta per unit. Ini lebih mahal dibandingkan dengan AC biasa yang harganya sekitar Rp 3 juta per unit.

"Persaingan AC inverter sekarang sangat ketat. Sebab hampir semua pabrikan besar memiliki produk ini. Namun dengan berbagai kelebihan produk AC inverter Sharp, kami yakin produk ini bisa diterima pasar. Ini terbukti dari angka penjualannya yang terus meningkat," kata Andry.

Panasonic

Sementara itu, PT Panasonic Gobel Indonesia juga meramaikan pasar AC inverter dengan meluncurkan produk terbarunya, beberapa waktu lalu. Selain menggunakan inverter, AC terbaru Panasonic juga mengaplikasikan teknonolgi eco patrol. AC Panasonic ini dilepas ke pasar dengan harga sekitar Rp 4,5 juta per unit.

"Inverter dan eco patrol adalah teknologi pintar yang membuat AC bekerja secara optimal dan menjadi hemat listrik. Eco patrol mampu mendeteksi keberadaan manusia serta intensitas kegiatan yang kemudian secara otomatis akan menyesuaikan pendinginan," jelas Presiden Direktur PT Panasonic Gobel Indonesia, Ichiro Suganuma.

Pasar terus tumbuh Pasar AC inverter di Indonesia diyakini terus mengalami pertumbuhan. Ini yang membuat para pabrikan cukup agresif memasarkan AC dengan teknologi ramah lingkungan ini. Andry Adi Utomo mengatakan, meskipun harganya lebih mahal 50 persen dibandingkan AC biasa, namun AC inverter lebih disukai masyarakat karena hemat energi. Ini yang membuat permintaannya terus mengalami peningkatan.

"Tahun ini pasar AC inverter di Indonesia bisa tumbuh dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Sebab permintaannya memang tinggi," katanya. Pihaknya sendiri menargetkan bisa menjual dua ribu hingga tiga ribu unit AC inverter per bulan.

"Kami optimistis target tersebut bisa terpenuhi sehingga kontribusi penjualan AC inverter terhadap total penjualan AC Sharp akan terus meningkat," terang Andry.

Hal yang sama juga diungkapkan Urip Sugiono. Menurutnya, pertumbuhan pasar AC akan terus terjadi tahun ini. "Pertumbuhan pasar AC inverter diperkirakan sebesar 10% tahun ini. Ini menjadi peluang bagi Daikin untuk terus melakukan penetrasi pasar," ujarnya.

Daikin, lanjut Urip, menargetkan peningkatan penjualan AC hingga 20 "Merek Daikin sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak dulu. Ditambah inovasi teknologi yang kami lakukan, kami yakin AC Daikin akan bisa terus diterima pasar Indonesia," kata Urip.

Daikin

Urip Sugiono mengatakan, inverter adalah teknologi hemat energi yang dapat menyesuaikan kecepatan putaran kompresor dengan proses pendinginan ruangan. Sehingga kompresor AC dengan inverter tetap berputar pada putaran rendah setelah temperaturnya mencapai suhu yang dikehendaki.

Ini sangat berbeda dengan AC biasa yang tanpa inverter, yang kompresornya akan bekerja hidup atau mati. Yaitu kompresor akan berputar hingga AC mencapai suhu yang dikehendaki dan kemudian kompresor akan berhenti berputar. Selanjutnya kompresor akan berputar lagi bila terjadi beda suhu dengan yang telah diatur sebelumnya.

"Kondisi AC biasa seperti itu membuat konsumsi listrik fluktuatif. Hal ini tidak terjadi pada AC inverter yang konsumsi listriknya stabil sehingga lebih hemat energi," ujarnya pada peluncuran AC Inverter Daikin untuk residensial, di Jakarta, pekan lalu.

Daikin, lanjut Urip, telah menerapkan teknologi inverter pada AC sejak 12 tahun lalu. Hanya saja saat itu digunakan untuk AC berkapasitas diatas 1 PK. Saat ini, Daikin meluncurkan AC dengan teknologi inverter untuk residensial yaitu jenis AC berkapasitas kecil dan low watt sebesar 1/2 PK dan 3/4 PK.

"AC Daikin dengan menggunakan teknologi inverter dan Reluctance DC Motor memiliki coefficient of performa atau COP yang tinggi. COP adalah indikator efisiensi suatu unit. Makin tinggi nilai COP maka semakin baik efisiensinya sehingga konsumsi listriknya hemat. AC Daikin mampu menghemat listrik hingga 40%," tutur Urip.

Dengan berbagai kelebihan tersebut AC Daikin ditawarkan seharga Rp 4 juta per unit. "AC Daikin juga lebih ramah lingkungan karena refrigerant yang digunakan tidak merusak ozon. Produk ini kami pasarkan memang untuk mengantisipasi tiga isu penting, yaitu fenomena global warming, keterbatasan lahan di perkotaan, dan krisis energi dunia," papar Urip.