BPOM Temukan Ratusan Produk Tak Layak Konsumsi

Jelang Puasa, Peredaran Barang Ilegal Makin Marak

Kamis, 19/07/2012

NERACA

Jakarta - Kekhawatiran akan permainan pedagang saat menyambut bulan puasa dan Lebaran, mulai dari menaikkan harga hingga produk-produk ilegal yang masih juga marak di pasaran yang belum tentu layak dikonsumsi membuat . Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali melakukan intensifikasi pengawasan, dengan kunjungan mendadak ke beberapa supermarket bilangan Jakarta Selatan dan Bintaro Sektor 9, Tangerang.

BPOM menemukan 250 item produk ilegal berupa makanan ringan, minuman ringan, kosmetik, shampo dan lain-lain. Produk tersebut tidak ada izin edarnya. Kepala BPOM Lucky S Slamet mengatakan, pihaknya tidak akan menjamin keamanan produk pangan tersebut jika dikonsumsi masyarakat. "Kami temukan hampir 200 item pangan dan kosmetik yang tidak terdaftar di supermarket di jalan Duren Tiga, dan 50 supermarket di Bintaro,” ungkapnya, Rabu (18/7).

BPOM telah menyita 250 item produk pangan di dua lokasi berbeda dengan nilai Rp500 juta. Produk tesebut berasal dari Malaysia, China, Singapura dan lain-lain. Kunjungan mendadak tersebut merupakan kewenangan BPOM menjelang hari-hari besar. "Ini upaya pengawasan BPOM utamanya menjelang hari-hari besar kewenangan BPOM terkait bahan olahan. Tindak lanjut pada temuan ini sudah jelas karena ini ilegal dan kami sita serta kami lakukan tindakan hukum pro yustisia," jelasnya.

Pengawasan Produk

Selain itu, BPOM akan melakukan pemeriksaan ke sarana distribusi dan melakukan sampling produk pangan jajanan selama bulan Ramadhan. Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Pangan BPOM Suratmono mengatakan, untuk jajanan buka puasa, pihaknya sudah menginstruksikan agar fokus pengawasan ditujukan pada produk-produk mengalami peningkatan permintaan di bulan Ramadhan.

Perlu diperhatikan juga pada produk cuci gudang, misalnya, produk tanpa izin edar yang ilegal, produk kadarluarsa, dan produk rusak yang sudah karatan atau penyok. "Barang-barang itu seharusnya diretur (kembalikan), tapi karena ada permintaan yang tinggi, kadang makanan yang sudah kadaluarasa disisipkan. Jadi modusnya macam-macam," katanya.

Suratmono memaparkan, dari hasil temuan Badan POM mengenai produk yang tidak memenuhi ketentuan sejak tahun 2009-2011, paling banyak ditemukan adalah pangan tanpa izin edar. Sementara temuan terkait pangan kedalurasa umumnya lebih banyak di daerah-derah terpencil, seperti misalnya Jayapura, Ambon, Kupang, karena transportasi serta sumber daya manusia yang terbatas. "Yang jelas bagi konsumen baca lebelnya, cek tanggal kadaluarsa masih berlaku enggak," tegasnya.

Suratmono menyadari bahwa permintaan masyarakat menjelang puasa dan lebaran akan meningkat sampai 20% atau lebih ketimbang hari-hari biasanya. Inilah yang menjadi alasan mengapa Badan POM perlu memberi perhatian dan pengawasan lebih intensif terhadap segala macam peredaran produk pangan. "Anggapan di masyarakat selama ini, Badan POM itu bekerja hanya jelang puasa. Padahal, kita terus melakukan pengawasan bukan hanya menjelang puasa saja," terangnya.

Pantau Harga

Secara terpisah, Kementerian Perdagangan juga melakukan pantauan harga ke Pasar Santa dan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan melakukan pantauan harga bahan kebutuhan pokok di beberapa pasar di Jakarta. Dia mengatakan pihaknya akan lakukan pemeriksaan setiap hari baik menjelang dan selama bulan Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok.

Saat mengunjungi Pasar Santa, Gita menemukan, harga sejumlah barang kebutuhan seperti telur ayam, daging sapi, daging ayam, cabai merah dan cabai keriting mulai naik. "Tapi pedagang mengatakan pasokan barang kebutuhan selalu terjaga," terangnya.

Dia mengatakan pemerintah akan berupaya menjaga ketersediaan barang kebutuhan pokok menjelang bulan puasa dan perayaan hari raya Idul Fitri, serta akan mengambil sikap jika menemukan bukti penimbunan barang kebutuhan pokok yang menyebabkan harga menjadi tidak stabil di pasaran.

"Saya minta kepada siapapun, selaku pemangku kepentingan, untuk menjaga stabilitas harga karena pada akhirnya masyarakat luas yang sangat merasakan dampak dari kenaikan atau penurunan maupun stabilitas harga," tegas Gita.

Dia juga mengimbau pelaku usaha tidak memanfaatkan peningkatan permintaan konsumen menjelang bulan Ramadhan untuk mengambil keuntungan dengan menaikkan harga secara berlebihan. "Kami nanti akan membahas dengan rekan asosiasi supaya pemangku kepentingan bisa membantu sistem distribusi dari pasar induk ke pasar lain yang lebih kecil agar harga tetap terjaga. Kalau pedagang mau cari untung boleh tapi jangan berlebihan," pungkasnya.