Pebisnis Indonesia di Singapura Dirayu Pulang Kampung

Rabu, 18/07/2012

NERACA

Jakarta—Kalangan profesional Indonesia yang bekerja di luar negeri dihimbau untuk pulang dan menanamkan investasinya di Indonesia. “Karena Indonesia adalah negara yang memili peluang untuk maju, dan membutuhkan orang Indonesia di Luar Negeri untuk ikut membenahi dan memperbaki,” kata Bos Grup MNC, Hary Tanoesoedibjo (HT) dalam rilisnya yang diterima Neraca, di Singapura,17/7

Hary Tanoesoedibjo yang menjadi pembicara dalam Dialog Tokoh Nasional dihadapan ratusan profesional Indonesia di KBRI Singapura, mendorong dan mengajak para profesional untuk kembali ke Indonesia. Acara yang diselenggarakan IPA (Indonesia Profesional Association) bersama komunitas Rajawali 7 mendapat sambutan yang sangat baik dari warga Indonesia di Singapura.

Hary meyakinkan kalangan profesional dan pengusaha yang bertahan dan berinvestasi di Singapura, bahwa Indonesia adalah negara yang paling berprospek di dunia. Alasannya, Eropa dan Amerika sedang mengalami krisis ekonomi. Sementara untuk kawasan Asia, Indonesia merupakan negara yang paling siap menghadapi krisis karena perekonomiannya bersandar kepada perekonomian lokal dan tidak bersandar pada ekspor.

Lebih jauh kata Hary, Eropa mengalami krisis karena beban hutang sudah mencapai 70% dibanding GDP. Sementara kondisi usia masyarakat relatif 65 tahun ke atas. Akibatnya biaya untuk tunjangan kalangan usia tua sangat tinggi, sementara kontribusi pajak hanya 35%. GDP negara-negara Eropa 50 % didukung anggaran negara. Jadi tidak akan ada perbaikan dalam jangka waktu pendek.

Dikatakan Hary, akibat kedua kawasan ini melambat pertumbuhannya, impor mereka juga akan menurun. Dan Negara yang paling terkena imbas terhadap penurunan pertumbuhan adalah China yg memang 70 % perekonomiannya ditopang oleh ekspor dan mayoritas ke dua kawasan tersebut.

Sementara Indonesia dengan jumlah penduduk 3 besar di Asia, memiliki jumlah usia produktif mencapai 70% atau sekitar 150 juta orang. Usia produktif ini membuat daya beli mereka juga tinggi, sehingga tingkat konsumsi juga tinggi. Hal ini akan mendorong tingginya produktivitas industri dan PHK juga menjadi sangat rendah.

Basis ekonomi kita 63% adalah konsumsi, dimana 65 %nya digerakkan oleh private sector. Dan dapat dilihat juga kalau inflasi di Indonesia sangat rendah. Sehingga daya beli tinggi tetap dapat dipertahankan.

Disamping itu, lanjut Kader Partai Nasdem ini, sumber daya alam Bangsa Indonesia masih sangat besar, baik perikanan, pertambangan, pertanian dan lainnya. Hal ini membuat perbedaan dan daya kompetisi yang tinggi, karena masih banyak yang bisa diberdayakan secara maksimal, sementara saat ini masih belum optimal. Dengan segala potensi yg dimiliki, Bangsa Indonesia juga memiliki kelemahan dari sisi kualitas sumber daya manusianya Indonesia. Lebih 50 % penduduk Indonesia masih berpendidikan setingkat SD. Sehingga usia produktif yang besar tadi tdk didukung oleh kualitas yang baik. **cahyo