Kartu Kredit Sudah Jadi Gaya Hidup

Sabtu, 21/07/2012

NERACA

Perkembangan kartu kredit yang semakin meningkat, dikarenakan kondisi ekonomi yang semakin membaik, juga karena kartu ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kota. Namun di sisi lain, persaingan di bisnis kartu kredit terlihat semakin ketat.

Penggunaan kartu kredit terjadi pergeseran. Kalau dulu, kartu kredit dipakai untuk berjaga-jaga jika ada kebutuhan yang penting dan mendadak. Lambat laun, penggunaan kartu kredit telah berubah menjadi alat pembayaran sehari-hari, melebihi uang biasa.

Kini kita tak perlu lagi membawa segepok uang untuk keperluan sehari-hari. Cukup menyimpan kartu plastik berukuran panjang 8,5 cm dan lebar 5,4 cm di dompet, dan menggeseknya di lokasi belanja berlogo Visa, MasterCard, BCA, American Express, Maestro, dan lain sebagainya. Maka itu, jangan heran bila sekarang tidak sedikit orang yang punya kartu kredit lebih dari satu.

Melihat berkembangnya minat masyarakat dalam menggunakan kartu kredit, sangat dilirik oleh perusahaan penerbit kartu kredit. Hal ini terlihat dari terus bertambahnya jenis kartu kredit yang diterbitkan, meningkatnya jumlah nasabah, dan melonjaknya jumlah kartu kredit beredar maupun nilai transaksinya dalam enam tahun terakhir.

Jika pada 2005 jumlah kartu kredit yang beredar di Indonesia tercatat 8,34 juta kartu dengan nilai transaksi Rp 51,67 triliun, pada 2009 jumlah kartu beredar telah menjadi 13,41 juta kartu dengan nilai transaksi Rp 137,25 triliun. Hingga akhir tahun 2010, jumlah kartu kredit beredar di Indonesia diprediksi akan mencapai sekitar 14,15 juta kartu dengan nilai transaksi sekitar Rp 157,48 triliun.

Pertumbuhan yang signifikan ini menunjukkan bahwa kartu kredit kini makin populer sebagai alat pengganti uang cash, bahkan telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern di Indonesia, seperti halnya di mancanegara.

Selain dipicu oleh perkembangan lifestyle masyarakat di kota-kota besar, pertumbuhan bisnis kartu kredit ini juga ditunjang oleh beragamnya program menarik yang ditawarkan perusahaan penerbit, mengikuti selera dan kebutuhan nasabah yang makin bervariasi.

Berbagai tawaran kartu kredit yang menarik saat ini banyak bertebaran di sejumlah media cetak, elektronik, media on line, dan juga melalui layanan SMS.

Kalangan perbankan cukup optimistis bahwa di masa depan, bisnis kartu kredit dapat memberikan keuntungan yang signifikan, selain pendapatan dari sektor kredit lainnya. Sebagai implementasinya, perbankan nasional saat ini terlihat cukup berani mengandalkan penyaluran kreditnya ke berbagai sektor konsumer, termasuk ke sektor kartu kredit.

Untuk menggenjot fungsi intermediasinya, bisnis kartu kredit dinilai mampu memberikan kontribusi tinggi sebagai pendapatan nonbunga perbankan (fee based income), sebagai alternatif lain dari pendapatan bunga kredit (interest income).

Makin bertambahnya jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia, yang disertai kenaikan pendapatan per kapita seiring membaiknya kondisi ekonomi makro nasional, juga menjadi faktor pendorong lainnya bagi prospek pemasaran kartu kredit di Indonesia.

Melihat peluang pasar yang masih besar ini, sejumlah perusahaan penerbit kartu kredit baik dari lembaga perbankan maupun perusahaan pembiayaan terdorong untuk semakin gencar melakukan promosi dan berlomba-lomba menawarkan berbagai jenis kartu kredit baru dengan segala fasilitas dan keunggulannya.

Meskipun jumlah perusahaan penerbit kartu kredit di Indonesia tidak mengalami pertambahan dalam tiga tahun terakhir, jenis kartu kredit yang diterbitkan mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.

Di tengah maraknya kembali bisnis kartu kredit di Indonesia saat ini, tak dapat disangkal tingkat persaingan di antara perusahaan-perusahaan penerbit juga semakin ketat. Makin ketatnya kompetisi di industri kartu kredit ini pun diakui sejumlah pimpinan card center terkemuka di Indonesia, baik dari kalangan perbankan maupun perusahaan pembiayaan yang terjun di bisnis uang plastik ini.

Di sisi lain, para pelaku bisnis kartu kredit sendiri meyakini bahwa potensi pasar kartu kredit di Indonesia masih besar, yang merupakan peluang bagi mereka untuk terus berlomba memperebutkan pangsa pasar.