Konsumsi BBM Diperkirakan Naik 10%

Saat Puasa dan Lebaran

Senin, 16/07/2012

NERACA

Jakarta—PT Pertamina (persero) memperkirakan selama bulan Ramadan dan Lebaran konsumsi BBM naik 10%. Karena itu Pertamina telah menyiapkan 2,3-2.4 juta kilo liter (kl) premium dan 1,3-1,4 juta kl solar untuk menghadapi Bulan Ramadhan dan Lebaran. "Kita sudah antisipasi dari kuota dan distribusinya, kita mengantisipasi titik-titik yang krusial seperti kemcetan, jadi puncak itu rata-rata H -4 dan H +4. Kita perkirakan tahun ini H -5 dan H+7," kata VP Corporate Comunication, Ali Mudakir di Jakarta

Menurut Ali, pihaknya sudah menyiapkan 60 titik di jalur pantura untuk memenuhi kebutuhan BbM saat musim mudik. "Kita siapakan 60 titik, suplainya kita atur, pada saat puncaknya kita sekenariokan lawan arah, begitu puasa ada satgas," ujarnya

Lebih jauh Ali menghimbau agar pemudik yang menggunakan mobil menggunakan BBM non subsidi. "Kami menghimbau untuk tidak menggunakan BBM bersubsidi yang mudik pakai mobil kalangan menengah ke atas," ucapnya

Sementara itu, realisasi konsumsi solar per bulan juni sebanyak tujuh juta kilo liter (kl) dan selama bulan puasa konsumsi BBM akan bertambah menjadi 1,3 juta kl. "Kami rata-rata distribusi 180 ribu kl. Kenaikan 10 persen kira-kira 200 ribu. Kita sudah antisipasi dari sisi kuota jumlah dan distribusi," ucapnya

Terkait penjarahan, kata Ali, PT Pertamina (persero), berharap aksi penjarahan minyak mentah di jalur pipa Tempino-Plaju di Jambi, dan Sumatera Selatan segera di hentikan. Pasalnya, nilai kerugiannya melebihi korupsi pejabat. "Kita harapkan kejadian ini bisa dihentikan, karena minyak sebagai jatah negara itu hilang, Nilainya sudah sangat signifikan, kasus korupsi saja nilainya tidak sampai segitu," terangnya

Dikatakan Ali, saat ini masalah tersebut telah menggerus anggaran negara. Oleh karena itu, dia menilai diperlukan adanya pemeriksaan yang mendalam. "Sudah jadi perhatian serius, dan apa ini perlu di periksa KPK ya?," tanya dia.

Di kesempatan yang sama, Manager Scurity Pertamina gas (Pertagas), Heri Kuswanto, menambahkan sampai saat ini Pertamina telah kehilangan 100 ribu barel, atas penjarahan yang dilakuakan masyarakat dengan melubangi pipa miliknya. "Dari 1 januari Sampai 30 juni 2012 sudah hampir 100 ribu barel atau USD 10 juta (Rp100 miliar) secara ekonomi sudah sangat signifikan," tambah Heri.

Sementara itu, Dirjen Migas Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita Legowo mengaku kuota subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar 40 juta kilo liter (Kl) tidak akan bisa bertahan. Pasalnya, subsidi sebesar 40 juta kl merupakan subsidi yang memperhitungkan kenaikan BBM. "Dari perhitungan kita kalo hanya 40 Juta kl gak akan kuat," tegasnya

Dikatakan Evita, jatah Subsidi BBM sebesar 40 Juta kl tersebut, dahulu dihitung dengan asumsi adanya kenaikan harga BBM bersubsidi. "Pasti lebih (subsidinya), karena gini jadi jangan lupa, angka 40 dulu itu dengan perkiraan kita bisa mengurangi subsidi (menaikan harga)," jelas

Dia mengaku prihatin, atas hal tersebut, karena perhitungan jatah tersebut berdasrkan kenaikan harga. Namun pada kenyataannya, harga BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan. "Perhitungan APBN 2012 dan APBNP itu berdasarkan kenaikan atau penurunan subsidi tadi," jelas dia.

Evita menambahkan, pemerintah berhati-hati dalam penggunaan BBM tersebut. Dia melanjutkan, harus berupaya menekan subsidi tersebut. "Karena itu pemerintah kan menyampaikan bahwa dengan penghematan," pungkasnya. **cahyo