Facebook vs Google+

Bersaing di Game Online

Sabtu, 14/07/2012

NERACA

Setelah google meluncurkan jejaring social terbarunya, persaingan di Silicon Valley kian memanas.

Sepekan setelah Google+ diluncurkan Juni lalu dengan bekal chat kelompok yang dijuluki Hangout, Facebook meluncurkan fitur chat video yang merupakan hasil kerja samanya dengan Skype milik Microsoft.

Tak berhenti sampai di situ, pekan lalu Google mengumumkan game seperti Zynga Poker dan Angry Birds yang akan memiliki rumahnya sendiri di Google+. Seperti tidak mau kalah dengan pesaingnya, sehari kemudian Facebook mengungkap beberapa peningkatan pada platform game miliknya. Seperti newsfeed yang diperbarui secara langsung bersamaan perburuan game serta game dengan resolusi yang lebih tinggi.

Mengacu pada cara perusahaannya mendapat uang dari game online kasual, seperti “Farmville” dan “Words With Friends”, beberapa optionpun ditawarkan oleh direktur kemitraan game Facebook Sean Ryan untuk pesaing barunya, di mana pemain membayar untuk waktu bermain atau barang virtual dalam game, dan jejaring sosial mengambil bagian dari penjualan itu.

“Google telah meniru aspek dari sistem kami dan kami harus melakukannya dengan lebih baik,” katanya.

Saat ini, Facebook dilaporkan mengambil 30% keuntungan dari pengembang game, sedangkan Google hanya mengambil 5%.

“Google hanya mengambil 5% karena mereka tak memiliki pengguna,” ungkapnya.

Kesamaan antara dua model ini jelas sangat menggelitik. Menanggapi hal tersebut, Ryan dari Facebook berkomentar. Menurut dia, game yang ada di Google tak ubah halnya seperti McDonald yang berupaya keras menawarkan kopi premium untuk menyaingi Starbucks.

Pihak Google menolak mengomentari laporan ini, namun menegaskan persentase itu memang masuk rencana yang diambil dari pembuat game.

Ada alasan baik bagi dua raksasa teknologi ini melihat game sebagai garda terdepan baru dalam pergumulan pengguna sosial. Pasar barang virtual global yang diklaim menjadi aliran pendapatan terbesar para pembuat game kasual diperkirakan akan berlipat ganda.

Jumlahnya akan mencapai US$20,3 miliar pada 2014 sesuai penelitian dan investasi bank ThinkEquity. Analis utama Altimeter Group Yeremia Owyang mencatat, hal ini juga menjadi cara mencapai demografis yang didambakan.

“Saat kami melihat pertumbuhan game kasual, menakjubkan sekali melihat gamer pada umumnya merupakan seorang wanita setengah baya dari Midwest, dan ada banyak dolar iklan terkait hal itu,” imbuhnya.

Namun menurut Owyang, kedua layanan ini cocok dengan kedua perusahaan ini. Google+ diawali dengan awal yang baik, namun dia tak memikirkan adanya alasan kuat untuk pengguna utama agar mau beralih dari Facebook.

“Inilah alasan mengapa perusahaan itu mengumumkan akan ‘bekerja’ pada game kasual untuk menarik pengguna baru. Sementara itu, Facebook perlu lebih santai pada pengumuman Google+ dan menjadi lebih agresif,” ungkapnya.

Dengan perkiraan pengguna yang mencapai 25 juta, Google+ masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh hingga sampai pada titik Facebook yang memiliki 750 juta pengguna. Di sisi lain, terdapat sejuta pengguna aktif bulanan bermain game di Facebook. Satu hal yang jelas, kedua perusahaan ini akan terus saling mengawasi pergerakan masing-masing.