Sisa Kanal 3G Jadi Rebutan

Pemerintah Undur Jadwal Lelang

Sabtu, 28/07/2012

NERACA

Persaingan operator seluler makin tak terbendung. Peningkatan kualitas layanan serta tranformasi teknologi komunikasi adalah sebagian dari pemicunya, mulai dari kualitas layanan voice, SMS hingga akses data.

Persaingan yang demikian ketatnya menyebabkan beberapa operator seluler seperti Telkomsel, XL Axiata, Axis, dan tri memperebutkan kanal tambahan kapasitas jalur pita lebar 3G, dimana frekuensi pada kanal 3G merupakan salah satu sumber daya terbatas yang sangat penting bagi operator seluler.

Penetrasi jaringan 3G yang baru 5 % membuat pengguna perangkat mobile harus mengalami koneksi yang terputus-putus ketika berada di luar kota karena banyaknya blank spot.

Sekjen Indonesian Telecommunications Users Group (IDTUG), Muhammad Jumadi mengatakan sering terputus-putusnya layanan jaringan 3G, salah satunya karena operator kekurangan kanal dan infrastruktur. Dengan jumlah kanal yang terbatas menjadikan operator terutama yang memiliki pelanggan besar mengalami kendala frekuensi dalam melayani masyarakat.

Adapun lahan yang menjadi rebutan tersebut hanya tersedia dua kanal yang tersisa yakni pijakan di frekuensi 2,1 GHz yang blok yang masing-masing memiliki lebar pita 5 MHz.Kendati demikian, kanal yang bakal dibagikan oleh pemerintah masih memunculkan respon yang banyak kontradiktif.

Namun, di tengah keterbatasan jumlah kanal dan menurunnya kualitas layanan operator seluler, lagi-lagi pemerintah kembali mengundur lelang kanal 3G. Artinya, sudah dua kali pemerintah mengulur waktu tender kanal di blok yang masih tersisa.

Sebelumnya pemerintah menjadwalkan lelang kanal 3G akan dilakukan pada akhir Maret lalu. Lantaran, karena belum siap, pemerintah kemudian mengundurnya pada maksimal akhir Juni. Namun hingga sekarang, belum ada tanda-tanda lelang akan dilakukan.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Ridwan Efendi mengatakan, regulator bersama dengan pemerintah saat ini sedang membahas dua klausul dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi No 1 tahun 2006. Klausul yang sedang mengalami revisi adalah soal peluang usaha dan pembukaan lelang.

Revisi Peraturan Menteri, kata Ridwan, dilakukan karena operator hanya mendapat jatah 2 kanal untuk frekuensi 3G di pita 2,1 Ghz. Dengan aturan baru yang sedang disiapkan nantinya setiap operator bisa mendapatkan 3 - 4 kanal.

Penggagas Indonesian ICT Institute, Heru Sutadi menyarankan agar kanal 3G sebaiknya diberikan pada yang membutuhkan dengan rasio perbandingan frekuensi yg dimiliki dengan pengguna mobile broadband.

"Dan harus diperhatikan kompetisi, makanya diusulkan dua blok itu tidak digabung jadi 10 MHz dalam tender, sehingga kalau jadi dua blok kan bisa dua operator yang dapat (di kanal 11 dan 12)," lanjutnya.

Heru menambahkan, sebenarnya sudah kelihatan operator mana yang sudah krisis frekuensi, yang jika dibiarkan berlarut akan menyebabkan kemacetan layanan data. Apalagi jelang lebaran, jangan sampai jalanan maya juga macet karena tender frekuensi molor.

Beauty Contest

Persyaratan dan tata cara beauty contest untuk kanal 11 dan 12 yang kosong saat ini sedang difinalisasi oleh tim khusus di Kementerian Kominfo.

Menanggapi komentar tersebut, pengamat dari Indonesian ICT Institute, Heru Sutadi menyarankan agar pemerintah sebagai badan regulasi harus berdiri di atas semua kepentingan, nondiskriminasi, dan semua kebijakan harus transparan.

"Sementara terkait jumlah pengguna, saya melihat yang perlu dikedepankan, jika beauty contest dipilih, parameter penilaian harus transparan disampaikan pada publik, terutama yang akan ikut tender," lanjutnya.

Pasalnya, alokasi frekuensi kini juga menjadi bagian dari kompetisi, baiknya memang salah satu parameter adalah mengenai rasio frekuensi 3G yang dimiliki dengan jumlah pengguna mobile broadband, serta bagaimana evaluasi kinerja operasi dan komitmen pembangunan 5 tahun pertama sejak 2006 sampai 2011.

"Karena komitmen ini sudah sering tertunda atau tidak tercapai, saya khawatir frekuensi hanya akan dipakai menghalangi operator yang sudah krisis frekuensi untuk menambah bandwidth, sehingga pengguna akan pindah ke operator yang masih lengang," Heru menambahkan.