Mengintip Perkembangan IHSG

Sabtu, 14/07/2012

NERACA

Pasar modal merupakan salah satu tempat (media) yang memberikan kesempatan berinvestasi bagi investor perorangan maupun institusional. Oleh karena itu, banyak orang yang tertarik menginvestasikan dananya ke pasar modal untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya.

Indeks Harga Saham Gabungan mengalami peningkatan yang semakin pesat sejak krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998. Hal ini ditunjukkan dari perkembangan nilai IHSG dan nilai transaksi.

Nilai IHSG pada mengalami peningkatan hingga 400% dari tahun 2000 hingga 2008. Kondisi ini juga diikuti nilai transaksi yang terus semakin meningkat. Nilai IHSG yang semakin tinggi merupakan bentuk kepercayaan investor atas kondisi ekonomi Indonesia yang semakin kondusif.

Namun krisis ekonomi global mulai pertengahan tahun 2008 telah mendorong jatuhnya nilai IHSG sebesar 50% dalam kurun waktu yang relatif singkat (satu tahun). Krisis yang berasal dari Amerika Serikat telah meruntuhkan perekonomian di benua Eropa dan Asia, khususnya negara berkembang.

Pada periode sebelum 1990, pasar modal di Indonesia belum berkembang karena pada umumnya perusahaan menerima dana dari bank terutama bank pemerintah. Terbukti dari perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Khususnya sektor perdagangan IHSG, prospeknya masih cukup bagus tahun ini karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat. Di tahun 2010, BI memperkirakan bahwa perekonomian Indonesia dapat mencapai 5-5,5% setelah di tahun 2009 bertumbuh 4,4%.

Proyeksi World Bank juga tidak berbeda jauh, di mana mereka memproyeksi ekonomi Indonesia akan bertumbuh sebesar 5,6% di tahun 2010. Menurut mereka, pendorong utama pertumbuhan ekonomi 2010 diperkirakan berasal dari permintaan dalam negeri (domestik) didukung pemulihan di sektor eksternal.

Daya beli masyarakat diperkirakan masih tetap tinggi. Dengan suku bunga yang rendah dan nilai tukar Rupiah yang stabil dan kuat maka pasar domestik masih bisa tumbuh lebih baik.

Pertambahan perusahaan yang mencatatkan saham (emiten) dan pertumbuhan ekonomi nasional sangat mendukung aktivitas di bursa saham. Pergerakan indek saham dapat dilihat lewat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada tahun 1985, IHSG hanya mencapai 66,53 poin dan terus meningkat sampai dengan akhir tahun.

Indonesia sebagai negara berkembang mendapat pengaruh yang cukup besar dari krisis finansial global. Berbagai kebijakan diambil pemerintah untuk meredam pengaruh buruk dari krisis, mulai dari menaikkan tingkat suku bunga, menaikkan bahan bakar minyak, maupun memperketat lalu lintas mata uang asing.

Pasar modal memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, di mana nilai Indeks Harga Saham Gabungan dapat menjadi leading indicator economic di suatu negara.

Pergerakan indeks sangat dipengaruhi oleh ekspektasi investor atas kondisi fundamental negara maupun global. Adanya informasi baru akan berpengaruh pada ekspektasi investor yang akhirnya akan berpengaruh pada IHSG.

Faktor asing merupakan salah satu implikasi dari bentuk globablisasi dan semakin terintegrasinya pasar modal di seluruh dunia. Kondisi ini memungkinkan timbulnya pengaruh dari bursa-bursa yang maju (developed) terhadap bursa yang sedang berkembang.

Krisis yang mengakibatkan jatuhnya bursa Amerika Serikat yang terjadi belakangan ini telah menyeret bursa di Asia ke dalam kondisi seperti pada saat krisis tahun 1997, termasuk bursa Indonesia.

Perkembangan IHSG dari tahun ketahun mengalami kenaikan yang signifikan dengan diikuti perkembangan suatu negara, minat masyarakat dalam investasi juga meningkat ini dikarenakan masyarakat mempunyai pandangan ke depan, tidak hanya memikirkan yang apa dia dapat sekarang, namun masyarakat lebih memikirkan untuk ke depannya.