Jerit Pilu Sarjana Pengangguran

Jumat, 06/07/2012

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kisah pilu seorang pemuda tanggung yang terlukis dalam lagu Iwan Fals bertajuk Sarjana Muda bukanlah cerita fiksi nan picisan. Kisah itu nyata di republik ini. Lagu yang dirilis Iwan pada 1981 seperti mewakili nasib getir 493.000 sarjana di Indonesia yang kini menganggur. Mereka terdidik, pintar, wangi, terhormat, namun terisisih di pojok-pojok kehidupan.

Miris, memang. Tapi itulah pil pahit yang mesti ditelan para sarjana di negeri ini. Kehidupan pasca kampus ternyata begitu kejam. Dengan wajah murung dan langkah gontai, mereka harus mengaku kalah kala berebut pekerjaan dengan 300.000 sarjana yang lahir tiap tahun dari 3.000 perguruan tinggi negeri dan swasta se-antero negeri.

Empat tahun bergelut dengan buku, keringat para sarjana ini pada akhirnya hanya bercampur debu jalanan. Ijazah mereka tak laku di pasar kerja. Sementara pemerintah seperti cuci tangan. Lebih dari itu, pemerintah kerapkali menyalahkan cara pikir para insan terdidik itu. Orang-orang pintar ini disalahkan lantaran hanya berpikir menjadi pekerja tetapi tidak menjadi pembuat kerja.

Agaknya, inilah siasat pemerintah guna menutupi kegagalannya menciptakan lapangan pekerjaan dan merangsang tumbuhnya entrepreneur baru di Indonesia. Padahal, entrepreneur adalah strategi prioritas untuk menjadi bangsa yang semakin maju.

Toh, lewat beragam program dan triliunan anggaran, jumlah penduduk yang memilih menjadi pengusaha dan berhasil masih sangat rendah. Kendati jumlah masyarakat yang memilih menjadi pengusaha berhasil meningkat 1,56%, namun angka itu tak sebanding dengan pertumbuhan sarjana menganggur yang, pada 2011 lalu, mencapai angka 2 juta orang.

Enak saja pemerintah menyalahkan para sarjana dengan menuding mereka terlalu pasif dalam mengatasi statusnya sebagai penganggur. Bukankah menjadi tugas pemerintah memberi mereka pekerjaan? Bukankah angka pengangguran seperti tak pernah mau turun drastis? Bukankah laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia masih kokoh di posisi 6,32% atau 7,61 juta orang?

Inilah ironi pengangguran di Indonesia. Angka pengangguran tidak hanya disumbang oleh masyarakat yang memiliki pendidikan rendah. Kinclong indeks prestasi akademik (IPK) yang didapat di bangku kuliah nyatanya tidak begitu berpengaruh dengan pekerjaan. Ketika mahasiswa diwisuda, mereka resmi dilantik menjadi pengangguran dan otomatis menambah angka pengangguran.

Kegagalan pemerintah menciptakan iklim bagi tumbuhnya wirausaha baru, sempitnya lapangan pekerjaan baru, dan buruknya strategi pemerintah mengurangi pengagguran memaksa para eks mahasiswa menunggu entah itu 3 bulan, 6 bulan, atau bahkan berbulan-bulan untuk melepas status pengangguran.

Walhasil, pilihan mereka menentukan jalan hidup makin sedikit. Sebagian dari mereka memilih tekun melamar pekerjaan, berwirausaha alakadarnya, ada juga yang memilih langsung menikah. Namun yang lebih parah, ada di antara mereka yang tak kuat menyandang status pengangguran, lantas menjadi gila, bahkan ada yang sampai bunuh diri.